Archive for Mei 2015
Kini berubah menjadi Awan Biru Keindahan
Dan menjadi Langit yang menakjubkan
Menambah kedamaian hati
Lukisan Alam Sang Ilahi
Di tepian batas waktu berdayu
Menimang cakrawala di kolong raya
Seperti air, angin, dedaunan berjumpa tanpa ragu
Di dalam ruang detak jantung berpacu
Rancak mesin bersahut pada tempo yang satu
Di ruang sepi dalam kokohnya rumah bambu
Senja terus merayu
Ashar, 20 Mei 2015
Senja Masih Setia di Ujung Barat
Pendidikan merupakan kegiatan yang
berproses dan terarah sebagai suatu usaha untuk membentuk kepribadian dari
seseorang dengan menumbuhkan nilai sikap, pengetahuan, dan atau keterampilan
dengan tujuan menyetarakan manusia. Pendidikan terus dialami oleh seseorang
selama hidupnya, maksudnya dalam kehidupan sehari-hari manusia pada hakikatnya
terus belajar terutama dari pengalaman yang dilaluinya dengan melalui proses
yang tidak sama antarmanusia karena sumber dan pola pikir yang berbeda dari
masing-masing individu. Pendidikan yang diberikan kepada anak, jika dipandang
dari segi budaya memiliki pengertian sebagai transformasi dari generasi satu ke
generasi berikutnya. Pendidikan bagi bangsa Indonesia adalah sebagai salah satu
usaha untuk mencapai tujuan bangsa yaitu menyejahterakan kehidupan bangsa.
Pendidikan adalah suatu proses yang
tidak diam. Ia terus berubah dan berkembang sesuai dengan kondisi zaman, dan
juga kondisi peserta didik. Jangan bayangkan sistem pendidikan sebagai sebuah
sistem besar yang hanya dapat dipikirkan dan diurusi oleh para pakar dan
penentu kebijakan di pusat. Sekolah atau bahkan kelas hanya merupakan suatu
sistem pendidikan dengan ruang lingkup yang kecil.
Karena untuk memberikan pendidikan
kepada anak-anak, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara kita
mendidiknya. Untuk itu diperlukannya kesadaran dari semua pihak yang terlibat,
baik pendidik, keluarga, dan lingkungan sekitar untuk memperbaiki sikap dalam
mendidik generasi-generasi muda. Sikap yang harus ditunjukkan kepada anak-anak
untuk mendidiknya, yaitu dengan menggunakan asas Ing ngarso sung tuladho, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani.
Artinya, kita harus menjadi teladan dan juga memberikan dorongan moral pada
generasi-generasi muda.
Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan tak hanya dari
sekolah saja, melainkan pendidikan tak bisa lepas dari Tri Pusat Pendidikan,
yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat yang mana ketiganya sangatlah penting
untuk membentuk suatu individu yang memiliki nilai-nilai luhur. Melalui
Tri Pusat Pendidikan inilah tujuan pendidikan Indonesia baru dapat dicapai
dengan maksimal karena dengan melibatkan ketiga aspek tersebut dapat
terbentuklah individu yang menjunjung nilai-nilai budaya Indonesia.
Pada era milenial seperti yang telah
kita ketahui ada beberapa hal yang memberi dampak sangat luas bagi perkembangan
suatu negara. Dampak positif maupun hal yang sangat perlu diantisipasi seperti
pengaruh yang merusak identitas baik
secara individu maupun kelompok dengan melunturkan kesadaran diri pada
generasi-generasi muda. Karena, seperti yang telah kita ketahui, perkembangan
di era ini, terutama dari segi teknologi, sangat pesat dan cepat. Kecanggihan
dari teknologi ini membawa dampak yang besar, yaitu mengubah pola hidup
masyarakat. Kemudahan untuk mengakses informasi adalah salah satu contohnya,
namun dampak buruknya tak jarang kemudahan tersebut disalahgunakan untuk
hal-hal negatif oleh penggunanya, termasuk generasi muda.
Untuk itulah diperlukan sebuah pendidikan yang kental akan budaya bangsa dengan menanamkan nilai-nilai luhur pada generasi muda. Untuk meminimalisasi dampak yang semakin buruk, maka sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat menggunakan asas dari Ki Hadjar Dewantara, yaitu asas TRIKON. TRIKON merupakan kependekan dari istilah; kontinyu, konvergen dan konsentris. Teori TRIKON ditemukan oleh Ki Hadjar Dewantara untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia.
- Kontinyu artinya dalam melestarikan kebudayaan asli Indonesia kita harus terus menerus dan berkesinambungan. Teori Kebudayaan itu dilakasanakan dengan memasukan mata pelajaran muatan lokal, melakukan upacara-upacara adat, mementaskan keseruan daerah dan lain-lain.
- Konvergen artinya dalam upaya mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia kita harus memadukan dengan kebudayaan asing yang dipandang dapat memajukan bangsa Indonesia. Dalam memadukan itu (konvergensi) dilakukan dengan memilih dan memilah kebudayaan yang sesuai dengan kepribadian Pancasila (selektif) dan pemaduannya harus secara alami dan tidak dipaksakan (adaptatif).
- Konsentris artinya dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia kita harus berusaha menyatukan kebudayaan nasional kita dengan kebudayaan Junia (global) dengan catatan harus tetap berpegang pada ciri khas kepribadian bangsa Indonesia (berdasarkan Pancasila).
Teori
TRIKON ini dapat diterapkan dalam segala unsur kebudayaan, baik yang berapa
ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa (IMTAQ), etika susila, estetika dan seni, maupun daiam
keterampilan hidup (life skill).Melalui penggunaan teori TRIKON dimaksudkan
agar dalam upaya mewujudkan masyarakat tertib damai dan mewujudkan hidup yang
salam bahagia bangsa Indonesia dapat duduk sama rendah, berdiri sama tinggi
dengan bangsa-bangsa lain di dunia, serta dapat maju modern yang tetap di atas
kepribadian Pancasila.
Dalam upaya mewujudkan cita-cita bangsa
yang menyejahterakan umum, maka dibentuklah sekolah sebagai lembaga yang secara
khusus dan tersistem untuk memberikan pengajaran dan pendidikan bagi individu
atau kelompok yang berkebudayaan Indonesia agar mereka dapat mempunyai bekal untuk masa depan mereka tanpa menghilangkan jati diri sebagai manusia Indonesia.
