Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Mentari mulai menjemput rembulan
Belum sempat turun
Fajar sudah meninggi
Tidak untuk mengusir
Hanya pergantian yang diamanahkan
Angin pagi semilir membangunkan
Menambah lembab dahan dan rantingnya
Panorama indah terpancar
Rembulan pun enggan berlari
Semakin cantik merunduk di balik
hamparan
Burung mulai keluar dari sarangnya
Berterbangan mencari apa yang bisa
dicari
Bersahutan menyanyikan lirik syahdu
alam
Mengiringi senyum mentari yang mulai
meninggi
Awan hitam yang menyelimuti, kian menghilang
Kini berubah menjadi Awan Biru Keindahan
Dan menjadi Langit yang menakjubkan
Kini berubah menjadi Awan Biru Keindahan
Dan menjadi Langit yang menakjubkan
Lukisan alam Sang Ilahi menghiasi
Langit Pagi,
Menambah kedamaian hati
Menambah kedamaian hati
Dan membuat mata menjadi Kagum.
Lukisan Alam Sang Ilahi
Langit memerah di ujung bambu
Tepat barat dalam kesendirian
Menyisihkan kilau terang jagat raya
Di teras batas penantian
Senja masih menunggu
Di tepian batas waktu berdayu
Menimang cakrawala di kolong raya
Di tepian batas waktu berdayu
Menimang cakrawala di kolong raya
Anak manusia masih terjaga
Senja masih menunggu
Di antara desiran nafas berpadu
Seperti air, angin, dedaunan berjumpa tanpa ragu
Seperti air, angin, dedaunan berjumpa tanpa ragu
Mengabaikan sayup sayup nyanyian merdu
Senja masih menunggu
Di dalam ruang detak jantung berpacu
Rancak mesin bersahut pada tempo yang satu
Di dalam ruang detak jantung berpacu
Rancak mesin bersahut pada tempo yang satu
Di antara wangi tanah dan hujan yang tertunduk malu
Di sela aroma hidup yang rancu
Senja masih menunggu
Di ruang sepi dalam kokohnya rumah bambu
Senja terus merayu
Di ruang sepi dalam kokohnya rumah bambu
Senja terus merayu
Yang pasti kian berlalu
Hingga waktu meninggalkan
tempat beraduAshar, 20 Mei 2015
Senja Masih Setia di Ujung Barat
Untuk yang keberapa ku katakan untuk
anak-anakku yang duduk berjajar di tepi jalan itu
Semenit sebelum mereka melepas segala
yang mereka diamkan
Sebelum mereka berlari mengejar mentari
di ujung senja
Sebelum melukis goresan di lembaran
kehidupan yang berserakan di pelataran gedung itu
Kau pernah menantang langit untuk turun
Kau pernah menantang bumi
Kau pernah menantang angin
Kau pun pernah bergulat dengan api
Seperti apa yang pernah ku titahkan
kepada mu di seberang jalan itu
Kau adalah yang terhebat
Kau adalah yang pandai
Kau itu luar biasa
Kau berteman dengan langit serta bumi
Seperti apa yang kau pernah katakan
kepadaku di seberang jalan itu
Di bawah malam-malam gubukku
Persinggahan keluh peluhku
Anak-anakku meraut penah yang patah untuk
mencoret
Sebelum kau berkata
Sebelum kau berlalu
Sebelum aku titahkan sekali lagi kau
adalah anak terhebatku
Kepuhanyar, 06 Desember 2014
Untuk Anakku yang Terhebat di Seberang Jalan
Ku mohon....Jangan membohongi
Karna pedihnya terasa
Jangan menghianati
Karna sakitnya terasa
Ku mohon....
Jangan berjanji
Karna kita selalu menanti
Jangan tinggali
Karna cukup bahagia
Apa yang mau
Kita t'lah lakukan
Apa yang ada
Kita t'lah berdaya
Karna masih cinta
Karna masih setia
Jangan berjanji
Hanya pembuktian
Masih Setia Janji
Terlalu tinggi pedal yang
harus ku pijak
Sepeda yang terkais dari
penampungan
Bedug lohor terdengar
dalam kerongkong telinga
Beroda empat yang
membuatku tertawa
Bapak membawakannya
untukku
Penuh harapan anaknya
menaikinya
Tapi terlalu tinggi
pedalnya
Butuh pegangan untuk
menggapainya
Tak berhenti untuk
berharap
Bapak serahkan pundaknya
Pegang bahuku untuk
menjagamu
Agar kamu tak kalah dengan
temannmu
Berkali terjatuh membuat
tertawa
Lajunya pelan semakin
cepat
Satu desa terlintasi
Sebelum hilang terkikis
kaki yang besar
Kisah Sepeda kecilku
Yang di balik pintu
Derap kaki
menyapu butir pasir
Kelam pancarkan
bara hiraukan
Lembut belaian
angin temani raga
Tanda jiwa yang
meminta
Bayang terlukis
bening
Sembuyikan
pancaran
Raga pesona
memicingkan suasana
Bukalah tabir
pembatasnya
Tak lelah raga meminta
Terpaku dalam
kedigdayaan
Bertahan di balik
pintu
Menunggu jatuh
peminta
Bertahan di balik
pintu.......
Sahabat...
Tak perlu ikut menangis
Hanya untuk tertawa..
Untuk merasa...
Untuk mengerti....
Sahabat......
Raga terpisah
Jiwa terhalang...
Hambar yang tersaji
Bukan untuk dijauhi...
Sahabat...
Satu kata dalam beribu warna
Satu kata dalam beribu rasa
Satu kata dalam beribu pikir
Satu kata dalam beribu waktu
Sahabat....
Bukan kita sama
Hanya perbedaan...
Cambuk aku...
Kan ku kenal sahabat
KARENA KITA ADALAH SATU
Gelap temukan cahaya
Kelam temukan lentera
Malam temukan kejora
Mestinya..
Jiwa temukan pasangannya
sebelum tertutup mata
Selamanya..
Tanpa perlu bertanya
Harta yang dibawa
atau keelokan rupa
Harusnya..
Seperti fajar temukan pagi
Hati jadi mentari..
Created : Diannita Riski
Dari: Senja, Kepada: Fajar
Kata orang, guru itu penat
Gaji tak seberapa, kerja berlambak
Aku kata, guru itu rehat
Mengajar tak seberapa, tapi penuh berkat
Kerja sekerat-sekerat, pahala penuh sendat
Ilmu yang dicurah tak dapat disekat
Makin dicurah makin mendekat
Kata orang, guru itu sungguh bosan
Setiap tahun, muka sama setiap bulan
Aku kata, guru itu sungguh riang
Sekali berkata murid ketawa girang
Bila berjaya, murid terus menjulang
Jasa bakti tak pernah hilang
Terima
kasih bapak guruku...
Terima
kasih ibu guruku...
Kau
timang aku dengan kasihmu
Kau
nyalakan lentaraku dengan sayangmu
Hingga
berarti langkah dalam hidupku
Puisi Untuk Guru
Gadis kecilku..
Rasanya baru kemarin
aku mengandungmu
lalu melahirkanmu, menggendongmu
redakan tangismu
menidurkanmu di pangkuanku
Rasanya baru kemarin
aku melatihmu
berjalan, bicara
pertama kalinya ku dengar kata
dari bibir mungilmu
kau memanggilku "Ibu"
Rasanya baru kemarin
pertama kali aku mengantarmu ke sekolah
membantumu mengerjakan pekerjaan rumah
mengajarimu pelajaran yang kau bilang susah
Rasanya baru kemarin
kau dirias untuk acara Hari Kartini TK-mu
hingga acara wisuda sarjanamu
sampai dirias di acara pernikahanmu
kau pengantin jelita, putriku
Gadis kecilku, oh kau sudah dewasa..
Dengan kariermu, hidup barumu
rasanya baru kemarin
kau kenalkan pemuda itu
bahagia namun berat hati
ku berikan restu padanya tuk mengambilmu
Suamimu membawamu ke rumah baru
aku bangga tapi kau jauh dariku
kau pun telah dipanggil "Ibu"
oleh anakmu, yang juga cucuku
Ibu merindukanmu..
Yang Ibu ingat,
waktu cepat berganti
rasanya baru kemarin
kita lalui ini,
anakku...
Created : Diannita Riski
Rasanya baru kemarin
aku mengandungmu
lalu melahirkanmu, menggendongmu
redakan tangismu
menidurkanmu di pangkuanku
Rasanya baru kemarin
aku melatihmu
berjalan, bicara
pertama kalinya ku dengar kata
dari bibir mungilmu
kau memanggilku "Ibu"
Rasanya baru kemarin
pertama kali aku mengantarmu ke sekolah
membantumu mengerjakan pekerjaan rumah
mengajarimu pelajaran yang kau bilang susah
Rasanya baru kemarin
kau dirias untuk acara Hari Kartini TK-mu
hingga acara wisuda sarjanamu
sampai dirias di acara pernikahanmu
kau pengantin jelita, putriku
Gadis kecilku, oh kau sudah dewasa..
Dengan kariermu, hidup barumu
rasanya baru kemarin
kau kenalkan pemuda itu
bahagia namun berat hati
ku berikan restu padanya tuk mengambilmu
Suamimu membawamu ke rumah baru
aku bangga tapi kau jauh dariku
kau pun telah dipanggil "Ibu"
oleh anakmu, yang juga cucuku
Ibu merindukanmu..
Yang Ibu ingat,
waktu cepat berganti
rasanya baru kemarin
kita lalui ini,
anakku...
Created : Diannita Riski

