Archive for Januari 2023
| tampilan cover ppt budaya positif |
A. Latar Belakang
Sekolah idaman
adalah sekolah yang mampu menciptakan kenyaman dan memberikan kemerdekaan untuk
hidup dan berkembang bagi murid sesuai kodratnya. Sekolah tersebut terhindar
dari segala macam bentuk penindasan, bulliying, kekerasan dan pemaksaan
terhadap warga sekolah khususnya murid. Sekolah tersebut akan berusaha sekuat
tenaga untuk menciptakan suasana yang penuh dengan kehamonisan dan pembiasaan
positif.
Faktanya masih
ditemukan lingkungan sekolah yang belum memberikan keleluasaan kepada murid. Murid
masih terkekang dengan budaya negatif, budaya yang tidak berpihak kepada murid.
Murid sering menghindari pelanggaran karena takut dihukum secara fisik ataupun
moral. Murid menaati peraturan karena takut dihukum atau menerima konsekuensi yang
berat dan dapat menurunkan nama baiknya. Akibatnya murid melakukan kebaikan
hanya pada saat di sekolah atau hanya pada saat di depan orang yang lain
seperti Guru, Kesiswaan atau yang lainnya. Keteraturan yang mereka lakukan
tidak berasal dari kesadaran dan lubuh hati. Keteraturan tersebut bukanlah
sebuah kebiasaan akan tetapi ketakutan dan mencari perhatian.
Sekolah harusnya
berusaha menciptakan iklim pendidikan yang mampu membiasakan setiap warganya
khususnya murid melakukan budaya positif. Budaya yang mengakar kuat dan menjadi
sebuah kebiasaan yang dilakukan secara kontinyu dan sadar oleh setiap warga
sekolah. Semua pihak harus terlibat dalam pembiasaan positif tersebut.
Pembiasaan positif yang merupakan budaya positif akan menjadi budaya sekolah.
Budaya yang dipegang teguh oleh seluruh warga sekolah dan menjadi kekhasan dari
sekolah tersebut. Budaya tersebut harus terintegrasi dalam seluruh kegiatan
sekolah, baik dalam pra pembelajaran, proses pembelajaran ataupun di luar kelas
seperti dalam lingkungan pondok pesantren. Pertanyaannya adalah bagaimana
budaya positif dapat tumbuh dan tertanam dalam proses pembelajaran, bagaimana
budaya positif dapat terbiasa dilakukan dalam kegiatan di luar sekolah.
Harapannya jika budaya positif mengakar dalam diri setiap murid, maka secara
tercipta profil pelajar pancasila.
B. Tujuan
- Menumbuhkan budaya positif
dengan kesepakatan kelas.
- Menumbuhkan nilai-nilai
profil pelajar pancasila pada diri murid dalam kegiatan pembelajaran.
- Mengintegrasikan dan
membiasakan murid untuk menanamkan nilai-nilai profil pelajar pancasila.
C. Tolak Ukur
- Murid mampu membuat
kesepakatan kelas yang dipasang dinding kelas.
- Murid dapat mengaplikasikan
nilai-nilai profil pelajar pancasila secara sadar dan kontinyu dalam
proses belajar.
- Murid terlibat aktif dengan
sadar mengamalkan nilai-nilai profil pelajar pancasila.
D. Linimasa
tindakan yang dilakukan
Adapun
langkah-langkah yang akan dilakukan:
- Sosialisasi kepada seluruh
warga sekolah meliputi kepala sekolah, guru, murid, dan tenaga
kependidikan terkait disiplin positif, kesepakatan kelas dan profil
pelajar pancasila.
- Guru menjelaskan tentang
pengertian dan pentingnya kesepakatan kelas.
- Guru memfasilatasi murid
untuk membuat kesepakatan kelas.
- Kesepakatan kelas yang telah
disepakati selanjutnya ditandatangani seluruh warga kelas dan dipasang di
dinding kelas.
- Sosialisasi kepada seluruh murid
baru tentang penumbuhan karakter.
- Menumbuhkan, menanamkan dan
membiasakan nilai-nilai profil pelajar pancasila dan kegiatan
ekstrakurikuler.
- Mendokumentasikan setiap
kegiatan yang menumbuhkan, mencerminkan dan membiasakan nilai-nilai profil
pelajar pancasila.
E. Dukungan yang dibutuhkan
- Walikamar dan pengurus di pondok pesantren
dalam membiasakan budaya positif.
- Warga sekolah sebagai role model/ teladan bagi murid dalam menanamkan budaya positif.
- Seluruh warga sekolah berkolaborasi, bergotong royong dan bergerak bersinergis dalam menciptakan serta membiasakan budaya positif di sekolah.