Archive for Maret 2023
![]() |
| 2.3.a.8 Koneksi Antarmateri Modul 2.3. |
Pendidikan merupakan usaha secara sadar dan terencana dalam mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, berketuhanan dan akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya dan juga lingkungan masyarakat. Dengan demikian, semua upaya
yang dilakukan dalam konteks pendidikan bukan hanya harus direncanakan dengan
cermat, tetapi juga harus ditujukan untuk pengembangan potensi peserta didik.
Kita dapat memahami banyak hal dari Filosofi Pendidikan Nasional Ki
Hadjar Dewantara. Bagaimana pengertian yang sering kabur antara pendidikan dan
pengajaran. Pendidikan disini dapat diartikan sebagai tempat persemaian
benih-benih kehidupan agar dapat tumbuh sesuai kodratnya untuk mencapai
kebahagian yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat.
Sedangkan pengajaran adalah bagian dari Pendidikan. Dimana pengajaran adalah
menyampaikan pengetahuan untuk mempertajam akal mereka sehingga dapat
menumbuhkan pemikiran-pemikiran yang kritis. Pemikiran tersebut mendorong laku,
yang akhirnya menjadi kebiasaan sehingga terbentuknya budi pekerti yang luhur
serta berbudaya.
Adapun perubahan dari pikiran ataupun perilaku setelah memahami
filosofi pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara, yakni menjadi pribadi yang
lebih dapat mengerti dan memahami perasaan murid. Menjadi pribadi yang lebih
penyabar, dan ketika pada puncak emosi dapat meredam dengan mengingat filosifi
Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu menghamba pada anak. Menghamba disini
dapat diartikan memberikan yang terbaik setulus hati, seikhlas-ikhlasnya
membimbing mereka untuk menebalkan laku yang baik yang ada pada diri mereka.
Selain itu membimbing disini mengarahkan agar murid dapat mempertajam akal
pikiran mereka, sehingga laku-laku negatif yang ada dalam dirinya dapat
tersamarkan.
Sebagai seorang pendidik harus dapat menyediakan pengalaman belajar yang
memastikan bahwa semua peserta didik dengan segala keragamannya dapat dipenuhi
kebutuhannya, sehingga mereka dapat menunjukkan kompetensi pengetahuan, sikap,
dan keterampilan yang diharapkan setelah menyelesaikan jenjang pendidikannya.
Sebagai konsekuensi logis dari keberagaman kebutuhan belajar peserta didik yang
berbeda, maka pendidik harus mempertimbangkan bagaimana proses pembelajaran
harus hati-hati didesain agar dapat berhasil untuk semua peserta didik.
Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang berfokus pada
kebutuhan peserta didik dan sejalan dengan prinsip pembelajaran yang berpihak
kepada peserta didik. Dengan memperhatikan konten, proses, produk, pendidik
dapat menyesuaikan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran
agar dapat ke semua tahapan proses tersebut, sehingga dapat memenuhi kebutuhan
belajar murid-murid dan membantu kesuksesan belajar mereka. Selain itu, proses
pembelajaran berdiferensiasi juga mensyaratkan adanya praktik-praktik penilaian
yang baik.
Selain mendesain pengalaman belajar dan lingkungan belajar yang dapat
merespon kebutuhan belajar murid agar murid dapat mencapai tujuan pembelajaran
melalui pembelajaran berdiferensiasi. Sebagai pendidik tentu harus berupaya
menciptakan pengalaman dan lingkungan belajar yang memperhatikan kebutuhan
sosial dan emosional peserta didik.
Pembelajaran sosial dan emosional (PSE) ini semakin mendesak untuk kita
terapkan dan praktikkan karena pentingnya perkembangan murid secara holistik,
bukan hanya intelektual tetapi juga fisik, emosional, sosial, dan karakter.
Sebagai pendidik yang mendampingi peserta didik di sekolah sepanjang hari, maka
sudah sepatutnya pendidik memikirkan bagaimana menuntun peserta didik untuk
mencapai kodratnya, bagaimana membimbing peserta didik agar dapat
mengeksplorasi dan mengaktualisasikan seluruh potensi dalam dirinya dengan
setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat,
sehingga dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaannya. Di sinilah letak
urgensi PSE untuk mendorong tumbuh kembang peserta didik secara holistik.
Pembelajaran sosial dan emosional merupakan pembelajaran yang mampu
menciptakan pengalaman belajar bagi murid untuk menumbuhkan dan melatih lima
kompetensi sosial dan emosional (KSE), yaitu kesadaran diri, manajemen diri,
kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang
bertanggung jawab.
Seorang pendidik harus memahami konsep yang sejalan dengan pemikiran
filosofis pendidikan Ki hajar Dewantara dan perkembangan pendidikan abad ke 21.
Pendidik harus menguatkan paradigma berpikir among, prinsip coaching,
kompetensi inti coating, alur percakapan TIRTA dan supervisi akademik dengan
paradigma berpikir coaching. Dengan mempelajari dan mempraktikkan beberapa
latihan percakapan berbasis coaching baik terhadap murid maupun rekan sejawat
dapat menguatkan perjalanan pembelajaran pendidik menjadi seorang pemimpin
pembelajaran.
Selama menjadi pendidik tentu dalam proses pembelajaran pernah
diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah. Supervisi akademik ini
dilakukan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik
sebagaimana tertuang dalam standar proses pada standar nasional pendidikan.
Supervisi akademik yang dijalankan semestinya harus benar-benar berfokus
pada proses pembelajaran. Selain, itu, supervisi akademik juga bertujuan untuk
pengembangan kompetensi diri seorang pendidik di sekolah.
Rangkaian supervisi akademik ini digunakan kepala sekolah untuk mendorong
ruang perbaikan dan pengembangan diri pendidik. Pemimpin sekolah dapat
mendorong warga sekolahnya untuk selalu mengembangkan kompetensi diri dan
senantiasa memiliki growth mindset, serta keberpihakkan pada murid adalah
pemimpin sekolah yang dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan
kompetensi diri dan orang lain dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan
kebutuhan tersebut
Untuk mewujudkan hal tersebut, maka pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan yang diawali dengan paradigma berpikir yang memberdayakan. Ini
mutlak diperlukan agar pengembangan diri dapat berjalan secara berkelanjutan
dan terarah. Salah satu pendekatan yang memberdayakan adalah coaching yang
merupakan kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya.
Coaching merupakan metode pengembangan diri yang lebih kepada membantu
seseorang untuk belajar dari pada mengajarinya. Coaching didefinisikan sebagai
sebuah kolaborasi yang pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis,
dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman
hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi coachee (Grant,1999). Sejalan
dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation (ICF)
mendefinisikan coaching sebagai "bentuk kemitraan bersama klien (coachee)
untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui
proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses
kreatif."
Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara pendidik dan
peserta didik. Peserta didik diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan
dirinya. Peran pendidik sebagai sebagai "pamong" dalam memberi
tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar peserta didik tidak kehilangan
arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya. Sistem Among,
Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, menjadi
semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi pendidik dan peserta didik
dengan menggunakan pendekatan coaching.. Tut Wuri Handayani menjadi
kekuatan dalam pendekatan proses coaching dengan memberdayakan semua kekuatan
diri yang ada pada peserta didik.
Sebagai seorang pendidik atau pamong dengan semangat Tut Wuri Handayani,
maka pendidik perlu menghayati dan memaknai cara berpikir atau paradigma
berpikir KHD sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan
coaching sebagai salah satu pendekatan komunikasi dengan semangat among (menuntun).
Dalam relasi pendidik dengan pendidik, seorang coach juga dapat membantu
seorang coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dalam pembelajaran. Pendekatan
komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach
dan coachee yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang
penuh kasih dan persaudaraan.
Empat cara berpikir yang dapat melatih pendidik (coach/pamong) dalam
menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap perjumpaan pada setiap
proses komunikasi dan pembelajaran, yaitu :
1. Coach
dan coachee adalah mitra
2. Komunikasi
yang emansipatif
3. Berlandaskan
kasih dan persaudaraan
4. Adanya
ruang perjumpaan yang pribadi
Coaching menjadi pendekatan yang memberdayakan karena diawali dengan
paradigma berpikir coaching. Tujuan pengembangan kompetensi diri adalah
pendidik menjadi otonom, yaitu dapat mengarahkan, mengatur, mengawasi, dan
memodifikasi diri secara mandiri. Untuk dapat membantu pendidik menjadi otonom,
diperlukan paradigma berpikir dan prinsip coaching bagi orang yang
mengembangkannya untuk membantu rekan sejawat untuk mengembangkan kompetensi
diri mereka dan menjadi otonom, sehingga perlu memiliki paradigma berpikir
coaching. Paradigma berpikir coaching, yaitu : Berfokus pada coachee/rekan
yang akan dikembangkan, bersikap terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran
diri yang kuat, dan mampu melihat peluang baru dan masa depan. Sementara
prinsip coaching, yaitu : Kemitraan, Proses Kreatif, Memaksimalkan Potensi.
Prinsip dan paradigma berpikir coaching dapat digunakan dalam proses
supervisi akademik. Semangat yang ditumbuhkan dalam proses supervisi adalah
semangat memberdayakan, bukan mengevaluasi. Selain itu, agar dapat menjalankan
percakapan coaching maka pendidik perlu mengetahui kompetensi inti dalam
coaching. Berdasarkan ICF ada 8 kompetensi inti, tetapi dalam kegiatan
Pendidikan Guru Penggerak ini dipelajari 3 kompetensi inti yang perlu untuk
dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan
percakapan coaching pada rekan sejawat di sekolah.
Tiga kompetensi inti yang perlu dipahami, diterapkan, dan dilatih secara
terus-menerus saat melakukan percakapan coaching kepada rekan sejawat, yaitu :
1. Kehadiran
penuh (presence)
Menghadirkan diri
sepenuhnya saat percakapan coaching sangat penting dilatih agar coach bisa
selalu fokus untuk bersifat terbuka, sabar, ingin tahu
lebih banyak tentang coachee
2. Mendengarkan
aktif
Menyimak pun
perlu dilatih untuk fokus pada apa yang disampaikan atau dikatakan coachee dan
memahami secara keseluruhan makna baik secara tersurat maupun tersirat. Hindari
memberikan semacam asumsi, melabel atau judgment, dan asosiasi seperti
mengaitkan dengan pengalaman pribadi coach.
3. Mengajukan
pertanyaan berbobot
Coach harus terus
melatih diri dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menggugah atau
menggali cara pikir dan menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan emosi
atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat
sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi coachee.

Salah satu referensi yang dapat kita gunakan untuk mengajukan pertanyaan
berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan
oleh Julian Treasure. RASA merupakan akronim dari Receive,
Appreciate, Summarize, dan Ask yang akan dijelaskan sebagai berikut
:
1. Receive/Terima;
menerima/mendengarkan semua informasi yang disampaikan coachee.
2. Appreciate/Apresiasi;
memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita
mendengarkan coachee. Respon dapat berupa anggukan kepala, kontak mata,
melontarkan kata "oh..." "ya...". Bentuk apresiasi akan
muncul saat coach memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya.
3. Summarize/Merangkum;
kegiatan ini dilakukan saat percakapan selesai dilakukan untuk memastikan
kesamaan pemahaman. Memperhatikan dan menggunakan kata-kata kunci yang
diucapkan oleh coachee. saat merangkum coach dapat menggunakan
potongan-potongan informasi yang telah didapat dari percakapan sebelumnya dan
meminta coachee mengkonfirmasi apakah rangkuman sudah sesuai.
4. Ask/Tanya;
mengajukan pertanyaan dengan menggunakan kalimat tanya apa, bagaimana.
seberapa. kapan, siapa, atau di mana. Hindari menggunakan pertanyaan tertutup
seperti mengapa, apakah, atau sudahkah.

Alur percakapan coaching yang akan membantu coach dalam membuat
percakapan coaching menjadi efektif dan bermakna yaitu alur TIRTA yang
dikembangkan dari satu model umum coaching yang dikenal sangat lua dan telah
banyak diaplikasikan yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal,
Reality, Options, dan Will.
Alur percakapan coaching TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka
belajar yang membuat kita memiliki paradigma berpikir , prinsip dan
keterampilan coaching untuk memfasilitasi rekan sejawat agar dapat belajar dari
situasi yang dihadapi dan membuat keputusan-keputusan bijaksana secara mandiri.
Alur TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Tujuan
Umum; tahap awal dimana kedua belah pihak coach dan coachee menyepakati
tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. idealnya tujuan ini datang dari
coachee)
2. Identifikasi;
coach melakukan panggilan dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan dan menghubungkan
dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi.
3. Rencana
Aksi; Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan
dibuat.
4. Tanggung
Jawab; Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah
selanjutnya.
Setelah melakukan proses supervisi akademik yang sesuai dengan paradigma
berpikir dan prinsip coaching langkah selanjutnya yang tak kalah penting adalah
melakukan umpan balik. Umpan balik yang efektif haruslah bersifat netral
sehingga tidak subjektif dan tanpa sadar. Umpan balik akan memiliki lebih besar
kesempatan untuk diterima apabila berbasis data kuantitatif dari indikator
pencapaian yang sebelumnya sudah disepakati. Umpan balik akan efektif apabila
berbasis data dan disampaikan secara langsung tidak lama setelah kejadian
/pembelajaran/situasi kerja terjadi. Umpan balik dapat dilakukan melalui
kegiatan refleksi
Berdasarkan uraian tersebut maka peran saya sebagai seorang coach di
sekolah dan keterkaitannya dengan materi pembelajaran berdiferensiasi dan
pembelajaran sosial emosional adalah :
1. Sebagai
pamong yang menuntun kekuatan kodrat atau potensi yang dimiliki peserta didik.
2. Menciptakan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya sesuai kebutuhan belajarnya yang beragam melalui
pembelajaran berdiferensiasi.
3. Membangun
komunikasi yang empatik dan memberdayakan sebagai pemimpin pembelajaran dalam
membuat perubahan strategis yang mampu menggerakkan komunitas pada ekosistem
belajar.
4. Menciptakan
pengalaman dan lingkungan belajar yang memperhatikan kebutuhan sosial dan
emosional peserta didik secara holistik.
5. Membantu
seorang coachee (peserta didik atau rekan sejawat) untuk dapat mengendalikan
diri dan emosi, menimbulkan rasa empati, meningkatkan keterampilan berelasi,
dan pengambilan keputusan yang tepat dengan semangat pemberdayaan.
6. Membantu
coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dan menjadi mandiri melalui
pendampingan yang mengedepankan semangat memberdayakan.
7. Membantu
rekan sejawat untuk mengembangkan kompetensi diri mereka dan menjadi otonom
dengan paradigma berpikir dan prinsip coaching.
Keterampilan coaching sangat berkaitan dengan pengembangan kompetensi
sebagai pemimpin pembelajaran karena melalui praktik coaching baik terhadap
peserta didik maupun rekan sejawat dengan menerapkan paradigma, prinsip, dan
kompetensi inti coaching saya dapat menguatkan perjalanan pembelajaran saya
untuk menjadi seorang pemimpin pembelajaran.
Pembelajaran coaching membantu saya dalam membangun komunikasi yang
empirik dan pemberdayaan sebagai pemimpin pembelajaran dalam membuat perubahan
strategis yang mampu menggerakkan komunitas sekolah pada ekosistem belajar.
Sistem Among yang dianut Ki Hajar Dewantara menjadikan guru dalam
perannya bukan satu-satunya sumber pengetahuan melainkan sebagai mitra peserta
didik untuk melejitkan kodrat dan irodat yang mereka miliki, apa yang dilakukan?,
salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam
pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan
kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu
peserta didik, dalam hal ini "KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani,
dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah
tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan
berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justeru membutuhkan tempat yang
kering untuk tumbuh dengan baik".
Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan.
