Tukarkan sebagian dari hadiah Anda dengan apa yang akan Anda miliki di masa depan. Investasikan saat ini, jalani hidup Anda, dengan janji menukar waktu dengan hasil di masa depan.
Jauh di lubuk hati, perasaan gagal muncul ketika kita tidak mengelola kecemasan kita. Apa yang sebenarnya kamu takuti? Tidak punya sesuatu untuk dikatakan atau tidak mampu membuat orang mendengarkan Anda?
Sudah 25 tahun kita menentang logika, tanpa memberikan batasan pada model formal yang kita jalani. Tidak mengikuti standar, dan sebagai konsekuensinya mendapat tepuk tangan dari orang yang sama yang sudah membenci saya.
Jangan terpengaruh oleh ejekan “teman” dan kerabat; sebaliknya: Setiap kali didiskreditkan, lahirlah ide baru. Berpikir secara berbeda tidak berarti tertipu, bahkan jika dikritik oleh mereka yang mengharapkan dukungan lebih.
Bekerja keras merupakan tanda seseorang telah mencapai puncak dan bersedia mengulang kembali perencanaannya. Pendakiannya tidak linier, dan Anda perlu menemukan kembali diri Anda sebanyak yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang Anda inginkan.
Ijazah yang tergantung di dinding tidak ada gunanya; Sejujurnya, mereka tidak pernah berhasil. Anda berharga dengan apa yang Anda bawa dalam diri Anda, dan bukan apa yang dipaksakan secara konvensional – Dan jujur saja, menjadi konvensional berarti hidup terbelenggu oleh dogma-dogma yang dialihdayakan. Dengan melepaskan diri dari konvensionalitas, kita bisa melakukan pekerjaan yang kita sukai, dan ketika kita menikmati pekerjaan itu menjadi sebuah kesenangan, bukan sebuah hukuman.
Ketekunan adalah nilai bagi mereka yang tahu bagaimana memulai kembali sebanyak yang diperlukan; Datang dari anonimitas menuju puncak merupakan sebuah anugerah bagi mereka yang memiliki kekuatan untuk selalu maju. Orang yang mencapai puncak tidak akan pensiun, sebaliknya; keinginan untuk menjadi selalu lebih. Tetap kuat, fokus pada apa yang Anda inginkan dan lakukan sisanya.
Pernahkah Anda merasa ingin membuang segalanya dan menyerah? Pernahkah Anda berhenti untuk mempertanyakan seberapa besar nilai Anda? Berapa nilainya? Satu keputusan Anda dapat berdampak pada kehidupan banyak orang, pikirkanlah.
Kebebasan untuk menentukan nasib Anda sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, meskipun Anda tidak melaksanakannya, baik karena Anda tidak mengetahuinya atau karena takut. Anda memiliki kebebasan memilih, meskipun sistem membuat Anda mengikuti arus untuk tidak bertanya-tanya, mentransfer kekuatan Anda untuk memutuskan apa yang Anda inginkan ke dalam arus. Hanya saja, jangan berharap mendapatkan hasil yang baik dari benih yang ditanam di antara kawanan. Jika jauh di lubuk hati Anda ingin menjadi seperti mayoritas, oke, berbahagialah; jika tidak, jadilah nonkonformis dan carilah tujuan untuk melangkah lebih jauh.
Tidak ada yang mengatakan ini akan menjadi perjalanan yang mudah, adil, atau logis. Jangan biarkan apa pun atau siapa pun mencuri otonomi Anda untuk memilih masa depan Anda sendiri. Terserah Anda untuk menghadapi kegelapan atau tertelan oleh kepastian yang tidak pasti.
15 Februari 2024
***
Saya rasa tak ada pertemanan abadi di dunia Anda, kecuali kepentingan dari Anda
Berjalan beriringan (bersama) untuk mengenal sekitar?
![]() |
| Rombongan MKKS SMP Swasta Kabupaten Mojokerto |
Tari Barong Bali merupakan tarian tradisional di Bali yang menceritakan tentang hewan mitologi semi singa atau beruang yang mempunyai kesaktian dan dipercaya mampu melindungi umat manusia.
Tari Barong Bali sebagai warisan budaya pra Hindu yang menggambarkan pertarungan antara kebaikan (dharma) dan kejahatan (adharma). Kejahatan dilambangkan dengan Rangda, sedangkan kebaikan dilambangkan dengan Barong.
![]() |
| Suasana pertunjukkan tari barong |
Dalam tari Barong juga diceritakan para pria yang bertarung satu sama menggunakan keris belati. Saat Barong muncul, mereka mengubah arah kerisnya dan menusukkan ke diri sendiri. Pemain kesurupan dan terlahir kembali setelah diberi percikan air suci. Kemudian, Barong mengalahkan Rangda sehingga alam kembali seimbang.
![]() |
| foto bersama peseni tari barong |
Senin, 22 Januari 2024, MKKS SMP Swasta Kabupaten Mojokerto berkesempatan menikmati pertunjukan Tari Barong. Rombongan berjumlah 46 orang, datang di Saraya Budaya pada 08:30 WITA. Disambut salah satu penari dalam pertunjukkan, peserta rombongan Langsa menempati posisi tepat di sebelah kiri panggung.
![]() |
| penulis bersama penari dalam pertunjukkan |
Menikmati Keindahan Tari Barong - MKKS SMP Swasta Kabupaten Mojokerto
![]() |
| 3.1.a.8 Koneksi Antarmateri |
Beban dan amanah
kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya
dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik. Apa yang diinginkan
kadang-kadang belum tentu itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan,
apalagi perubahan yang transformational, pasti ada kritik. Sebelum
mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada
peningkatan pembelajaran murid? (Nadiem Makarim, 2020)
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran atau pimpinan sebuah institusi, tentu Anda menghadapi pengambilan keputusan setiap harinya. Pernahkah dalam pengambilan keputusan tersebut melibatkan berbagai pihak yang memiliki kepentingan yang sama-sama menjunjung tinggi suatu nilai kebajikan tertentu, dan keduanya sama-sama benar, namun tertantang karena saling bertentangan satu dengan yang lain?
Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba menyajikan rangkuman materi modul 3.1. yang telah saya pelajari. Serta mencoba menganalisis konektivitas materi modul 3.1. dengan modul-modul sebelumnya yang telah saya pelajari.
· Bagaimana pandangan Ki Hajar
Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana
sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Filosofi Pratap Triloka khususnya ing ngarso sung
tuladha memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan sebagai
pemimpin pembelajaran. KHD berpandangan bahwa sebagai seorang guru, itu harus
memberikan tauladan atau contoh praktek baik kepada murid. Dalam setiap
pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras
sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun karsa dan pada akhirnya
guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap
permasalahannya secara mandiri. Gru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid
menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri
Handayani.
·
Bagaimana nilai-nilai yang
tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil
dalam pengambilan suatu keputusan?
Dalam pengambilan suatu keputusan sangat
dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita. Nilai-nilai
bagaikan gunung es yang hanya terlihat kecil dipermukaan air tetapi merupakan
bagian yang besar di dalam alam bawah sadar kita. Maka penting untuk memupuk nilai-nilai
positif dalam diri kita yang nantinya akan menjiwai setiap keputusan yang kita
ambil.
·
Bagaimana kegiatan terbimbing yang
kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’
(bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses
pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah
kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut.
Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada
modul 2 sebelumnya.
Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting
dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri
kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA,
kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat
pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila
dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian
keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.
·
Bagaimana pembahasan studi kasus
yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut
seorang pendidik.
Pada pembahasan studi kasus yang berfokus pada
masalah moral atau etika diperlukan kesadaran diri atau self awareness dan
keterampilan berhubungan sosial untuk mengambil keputusan. Kita dapat
menggunakan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan
terutama pada uji legalitas untuk menentukan apakah masalah tersebut termasuk
bujukan moral yang berarti benar vs salah ataukah dilema etika yang merupakan
permasalahan benar vs benar. Apabila permasalahan yang dihadapi adalah bujukan
moral maka dengan tegas sebagai seorang guru, kita harus kembali ke nilai-nilai
kebenaran.
·
Bagaimana pengambilan keputusan
yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan keputusan yang tepat, tentu akan
berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Kondisi tersebut adalah kondisi yang kita inginkan. Maka untuk melakukan
perubahan, diperlukan suatu pendekatan yang sistematis. Dalam hal ini, kita
menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA untuk melakukan perubahan ke
arah yang lebih baik.
·
Selanjutnya, apakah
kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk
menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah
ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Dalam kasus dilema etika, pada dasarnya apapun
keputusan yang kita ambil dapat dibenarkan secara moral. Akan tetapi perlu
memperhatikan prinsi-prinsip dalam pengambilan suatu keputusan. Kita harus
berfikir hasil akhir dari keputusan kita yang sesuai dengan prinsip berpikir
berbasis hasil akhir (end based thinking), kita juga harus melihat
peraturan yang mendasari keputusan yang kita ambil (berpikir berbasis
peraturan-rule based thinking) serta kita harus menciptakan lingkungan yang
positif, kondusif, aman dan nyaman sesuai dengan prinsip berpikir berbasis rasa
peduli (care based thinking).
·
Dan pada akhirnya, apakah pengaruh
pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan
murid-murid kita?
Merdeka belajar merupakan tujuan akhir dari
pembelajaran yang kita lakukan. Merdeka belajar berarti siswa bebas untuk
mencapai kodrat alamnya (mengembangkan potensinya) tanpa ada tekanan dari pihak
manapun. Siswa juga dapat mencapai kebahagiaannya sesuai dengan potensi yang
dia miiki. Maka keutusan yang kita ambil tidak boleh merampas kebahagiaan siswa
dan juga merampas potensi yang dimiliki siswa.
·
Bagaimana seorang pemimpin
pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa
depan murid-muridnya?
Guru adalah pemimpin pembelajaran sebagai pamong
yang diibaratkan seorang petani yang menyemai benih. Benih tersebut dapat
tumbuh subur apabila dirawat, dan dijaga dengan baik. Demikian juga dengan
murid, seorang guru bertanggungjawab untuk mengembangkan potensi yang dimiliki
murid sebagaimana petani yang menyemai benih untuk mendapatkan hasil yang baik
sehingga setiap keputusan guru akan berpengaruh pada masa depan murid.
·
Apakah kesimpulan akhir yang
dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan
modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan yang didapat dari pembelajaran modul ini
yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah :
1.
Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau
skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki
Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.
2.
Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya
positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang
positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).
3.
Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus
memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya
menuju profil pelajar pancasila.
4.
Dalam perjalanannya menuju profil pelajar
pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan
panduan sembilan langkan pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan
dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi
terwujudnya merdeka belajar.
·
Sejauh mana pemahaman Anda tentang
konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan
bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan
keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal
yang menurut Anda di luar dugaan?
Berdasarkan apa yang sudah saya pelajari di modul
3.1 saya mampu membedakan antara diema etika dan bujukan moral. Dimana dilemma
etika merupakan situasi dimana terjadi pertentangan dua kebenaran
atau benar vs benar, sementara bujukan moral adalah situasi dimana
terjadi sebuah pertentangan benar lawan salah, sehingga saya menyadari benang
merah antara keduanya. Hal yang tidak terduga adalah pada saat awal saya
mempelajari dilemma etika, saya merasa terjebak dalam menentukan sebuah
kasus antara bujukan moral dan dilema etika, malahan ada kasus diema
etika yang saya kategorikan bujukan moral, sehingga saya merasa keputusan saya
selama ini yang buat sebelum mempelajari modul ini cenderung kaku atau hanya
berbasis peraturan sehingga saya merasa untuk melenceng dari aturan itu sulit.
Keetika mempelajari dilema etika saya merasa, ada kalanya kita perlu melenceng
dari aturan untuk kemaslahatan yang lebih besar, sehingga paradigma pengambilan
keputusan dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan diema etika
sangatlah penting dilakukan. Begitu pula 9 langkah pengambilan dna pengujian
keputusan adalah langkah yang sangat runut dan terarah yang sangat berguna
dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang saya ambil.
·
Sebelum mempelajari modul ini,
pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi
moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di
modul ini?
Saya pernah berada dalam situasi tersebut, namun
ketika itu saya berusaha mengambil keputusan dengan memikirkan dan menganalisis
salah dan benar dari situasi yang saya hadapi dan saya mengambil keputusan
dengan meminta second opinion dari teman sejawat ataupun keluarga yang
saya anggap lebih berpengalaman atau sebagai panutan saya.
·
Bagaimana dampak mempelajari
konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda
dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Dampak yang saya rasakan setelah mempelajari modul
3.1 ini saya merasakan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan
terutama sebagai pemimpin pembelajaran, saya lebih percaya diri karena bisa
memastkan keputusan yang saya ambil tepat atau efektif
·
Seberapa penting mempelajari topik
modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Menurut saya pengetahuan tentang pengambilan
keputusan ini sangat penting bagi saya sehingga saya bisa mengambil keputusan
yang tepat dan efektif, serta tidak gegabah dalam mengambil keputusan baik
sebagai individu maupun sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah.
Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin
![]() |
| 2.3.a.8 Koneksi Antarmateri Modul 2.3. |
Pendidikan merupakan usaha secara sadar dan terencana dalam mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, berketuhanan dan akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya dan juga lingkungan masyarakat. Dengan demikian, semua upaya
yang dilakukan dalam konteks pendidikan bukan hanya harus direncanakan dengan
cermat, tetapi juga harus ditujukan untuk pengembangan potensi peserta didik.
Kita dapat memahami banyak hal dari Filosofi Pendidikan Nasional Ki
Hadjar Dewantara. Bagaimana pengertian yang sering kabur antara pendidikan dan
pengajaran. Pendidikan disini dapat diartikan sebagai tempat persemaian
benih-benih kehidupan agar dapat tumbuh sesuai kodratnya untuk mencapai
kebahagian yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat.
Sedangkan pengajaran adalah bagian dari Pendidikan. Dimana pengajaran adalah
menyampaikan pengetahuan untuk mempertajam akal mereka sehingga dapat
menumbuhkan pemikiran-pemikiran yang kritis. Pemikiran tersebut mendorong laku,
yang akhirnya menjadi kebiasaan sehingga terbentuknya budi pekerti yang luhur
serta berbudaya.
Adapun perubahan dari pikiran ataupun perilaku setelah memahami
filosofi pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara, yakni menjadi pribadi yang
lebih dapat mengerti dan memahami perasaan murid. Menjadi pribadi yang lebih
penyabar, dan ketika pada puncak emosi dapat meredam dengan mengingat filosifi
Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu menghamba pada anak. Menghamba disini
dapat diartikan memberikan yang terbaik setulus hati, seikhlas-ikhlasnya
membimbing mereka untuk menebalkan laku yang baik yang ada pada diri mereka.
Selain itu membimbing disini mengarahkan agar murid dapat mempertajam akal
pikiran mereka, sehingga laku-laku negatif yang ada dalam dirinya dapat
tersamarkan.
Sebagai seorang pendidik harus dapat menyediakan pengalaman belajar yang
memastikan bahwa semua peserta didik dengan segala keragamannya dapat dipenuhi
kebutuhannya, sehingga mereka dapat menunjukkan kompetensi pengetahuan, sikap,
dan keterampilan yang diharapkan setelah menyelesaikan jenjang pendidikannya.
Sebagai konsekuensi logis dari keberagaman kebutuhan belajar peserta didik yang
berbeda, maka pendidik harus mempertimbangkan bagaimana proses pembelajaran
harus hati-hati didesain agar dapat berhasil untuk semua peserta didik.
Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang berfokus pada
kebutuhan peserta didik dan sejalan dengan prinsip pembelajaran yang berpihak
kepada peserta didik. Dengan memperhatikan konten, proses, produk, pendidik
dapat menyesuaikan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran
agar dapat ke semua tahapan proses tersebut, sehingga dapat memenuhi kebutuhan
belajar murid-murid dan membantu kesuksesan belajar mereka. Selain itu, proses
pembelajaran berdiferensiasi juga mensyaratkan adanya praktik-praktik penilaian
yang baik.
Selain mendesain pengalaman belajar dan lingkungan belajar yang dapat
merespon kebutuhan belajar murid agar murid dapat mencapai tujuan pembelajaran
melalui pembelajaran berdiferensiasi. Sebagai pendidik tentu harus berupaya
menciptakan pengalaman dan lingkungan belajar yang memperhatikan kebutuhan
sosial dan emosional peserta didik.
Pembelajaran sosial dan emosional (PSE) ini semakin mendesak untuk kita
terapkan dan praktikkan karena pentingnya perkembangan murid secara holistik,
bukan hanya intelektual tetapi juga fisik, emosional, sosial, dan karakter.
Sebagai pendidik yang mendampingi peserta didik di sekolah sepanjang hari, maka
sudah sepatutnya pendidik memikirkan bagaimana menuntun peserta didik untuk
mencapai kodratnya, bagaimana membimbing peserta didik agar dapat
mengeksplorasi dan mengaktualisasikan seluruh potensi dalam dirinya dengan
setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat,
sehingga dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaannya. Di sinilah letak
urgensi PSE untuk mendorong tumbuh kembang peserta didik secara holistik.
Pembelajaran sosial dan emosional merupakan pembelajaran yang mampu
menciptakan pengalaman belajar bagi murid untuk menumbuhkan dan melatih lima
kompetensi sosial dan emosional (KSE), yaitu kesadaran diri, manajemen diri,
kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang
bertanggung jawab.
Seorang pendidik harus memahami konsep yang sejalan dengan pemikiran
filosofis pendidikan Ki hajar Dewantara dan perkembangan pendidikan abad ke 21.
Pendidik harus menguatkan paradigma berpikir among, prinsip coaching,
kompetensi inti coating, alur percakapan TIRTA dan supervisi akademik dengan
paradigma berpikir coaching. Dengan mempelajari dan mempraktikkan beberapa
latihan percakapan berbasis coaching baik terhadap murid maupun rekan sejawat
dapat menguatkan perjalanan pembelajaran pendidik menjadi seorang pemimpin
pembelajaran.
Selama menjadi pendidik tentu dalam proses pembelajaran pernah
diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah. Supervisi akademik ini
dilakukan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik
sebagaimana tertuang dalam standar proses pada standar nasional pendidikan.
Supervisi akademik yang dijalankan semestinya harus benar-benar berfokus
pada proses pembelajaran. Selain, itu, supervisi akademik juga bertujuan untuk
pengembangan kompetensi diri seorang pendidik di sekolah.
Rangkaian supervisi akademik ini digunakan kepala sekolah untuk mendorong
ruang perbaikan dan pengembangan diri pendidik. Pemimpin sekolah dapat
mendorong warga sekolahnya untuk selalu mengembangkan kompetensi diri dan
senantiasa memiliki growth mindset, serta keberpihakkan pada murid adalah
pemimpin sekolah yang dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan
kompetensi diri dan orang lain dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan
kebutuhan tersebut
Untuk mewujudkan hal tersebut, maka pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan yang diawali dengan paradigma berpikir yang memberdayakan. Ini
mutlak diperlukan agar pengembangan diri dapat berjalan secara berkelanjutan
dan terarah. Salah satu pendekatan yang memberdayakan adalah coaching yang
merupakan kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya.
Coaching merupakan metode pengembangan diri yang lebih kepada membantu
seseorang untuk belajar dari pada mengajarinya. Coaching didefinisikan sebagai
sebuah kolaborasi yang pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis,
dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman
hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi coachee (Grant,1999). Sejalan
dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation (ICF)
mendefinisikan coaching sebagai "bentuk kemitraan bersama klien (coachee)
untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui
proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses
kreatif."
Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara pendidik dan
peserta didik. Peserta didik diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan
dirinya. Peran pendidik sebagai sebagai "pamong" dalam memberi
tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar peserta didik tidak kehilangan
arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya. Sistem Among,
Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, menjadi
semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi pendidik dan peserta didik
dengan menggunakan pendekatan coaching.. Tut Wuri Handayani menjadi
kekuatan dalam pendekatan proses coaching dengan memberdayakan semua kekuatan
diri yang ada pada peserta didik.
Sebagai seorang pendidik atau pamong dengan semangat Tut Wuri Handayani,
maka pendidik perlu menghayati dan memaknai cara berpikir atau paradigma
berpikir KHD sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan
coaching sebagai salah satu pendekatan komunikasi dengan semangat among (menuntun).
Dalam relasi pendidik dengan pendidik, seorang coach juga dapat membantu
seorang coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dalam pembelajaran. Pendekatan
komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach
dan coachee yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang
penuh kasih dan persaudaraan.
Empat cara berpikir yang dapat melatih pendidik (coach/pamong) dalam
menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap perjumpaan pada setiap
proses komunikasi dan pembelajaran, yaitu :
1. Coach
dan coachee adalah mitra
2. Komunikasi
yang emansipatif
3. Berlandaskan
kasih dan persaudaraan
4. Adanya
ruang perjumpaan yang pribadi
Coaching menjadi pendekatan yang memberdayakan karena diawali dengan
paradigma berpikir coaching. Tujuan pengembangan kompetensi diri adalah
pendidik menjadi otonom, yaitu dapat mengarahkan, mengatur, mengawasi, dan
memodifikasi diri secara mandiri. Untuk dapat membantu pendidik menjadi otonom,
diperlukan paradigma berpikir dan prinsip coaching bagi orang yang
mengembangkannya untuk membantu rekan sejawat untuk mengembangkan kompetensi
diri mereka dan menjadi otonom, sehingga perlu memiliki paradigma berpikir
coaching. Paradigma berpikir coaching, yaitu : Berfokus pada coachee/rekan
yang akan dikembangkan, bersikap terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran
diri yang kuat, dan mampu melihat peluang baru dan masa depan. Sementara
prinsip coaching, yaitu : Kemitraan, Proses Kreatif, Memaksimalkan Potensi.
Prinsip dan paradigma berpikir coaching dapat digunakan dalam proses
supervisi akademik. Semangat yang ditumbuhkan dalam proses supervisi adalah
semangat memberdayakan, bukan mengevaluasi. Selain itu, agar dapat menjalankan
percakapan coaching maka pendidik perlu mengetahui kompetensi inti dalam
coaching. Berdasarkan ICF ada 8 kompetensi inti, tetapi dalam kegiatan
Pendidikan Guru Penggerak ini dipelajari 3 kompetensi inti yang perlu untuk
dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan
percakapan coaching pada rekan sejawat di sekolah.
Tiga kompetensi inti yang perlu dipahami, diterapkan, dan dilatih secara
terus-menerus saat melakukan percakapan coaching kepada rekan sejawat, yaitu :
1. Kehadiran
penuh (presence)
Menghadirkan diri
sepenuhnya saat percakapan coaching sangat penting dilatih agar coach bisa
selalu fokus untuk bersifat terbuka, sabar, ingin tahu
lebih banyak tentang coachee
2. Mendengarkan
aktif
Menyimak pun
perlu dilatih untuk fokus pada apa yang disampaikan atau dikatakan coachee dan
memahami secara keseluruhan makna baik secara tersurat maupun tersirat. Hindari
memberikan semacam asumsi, melabel atau judgment, dan asosiasi seperti
mengaitkan dengan pengalaman pribadi coach.
3. Mengajukan
pertanyaan berbobot
Coach harus terus
melatih diri dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menggugah atau
menggali cara pikir dan menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan emosi
atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat
sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi coachee.

Salah satu referensi yang dapat kita gunakan untuk mengajukan pertanyaan
berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan
oleh Julian Treasure. RASA merupakan akronim dari Receive,
Appreciate, Summarize, dan Ask yang akan dijelaskan sebagai berikut
:
1. Receive/Terima;
menerima/mendengarkan semua informasi yang disampaikan coachee.
2. Appreciate/Apresiasi;
memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita
mendengarkan coachee. Respon dapat berupa anggukan kepala, kontak mata,
melontarkan kata "oh..." "ya...". Bentuk apresiasi akan
muncul saat coach memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya.
3. Summarize/Merangkum;
kegiatan ini dilakukan saat percakapan selesai dilakukan untuk memastikan
kesamaan pemahaman. Memperhatikan dan menggunakan kata-kata kunci yang
diucapkan oleh coachee. saat merangkum coach dapat menggunakan
potongan-potongan informasi yang telah didapat dari percakapan sebelumnya dan
meminta coachee mengkonfirmasi apakah rangkuman sudah sesuai.
4. Ask/Tanya;
mengajukan pertanyaan dengan menggunakan kalimat tanya apa, bagaimana.
seberapa. kapan, siapa, atau di mana. Hindari menggunakan pertanyaan tertutup
seperti mengapa, apakah, atau sudahkah.

Alur percakapan coaching yang akan membantu coach dalam membuat
percakapan coaching menjadi efektif dan bermakna yaitu alur TIRTA yang
dikembangkan dari satu model umum coaching yang dikenal sangat lua dan telah
banyak diaplikasikan yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal,
Reality, Options, dan Will.
Alur percakapan coaching TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka
belajar yang membuat kita memiliki paradigma berpikir , prinsip dan
keterampilan coaching untuk memfasilitasi rekan sejawat agar dapat belajar dari
situasi yang dihadapi dan membuat keputusan-keputusan bijaksana secara mandiri.
Alur TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Tujuan
Umum; tahap awal dimana kedua belah pihak coach dan coachee menyepakati
tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. idealnya tujuan ini datang dari
coachee)
2. Identifikasi;
coach melakukan panggilan dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan dan menghubungkan
dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi.
3. Rencana
Aksi; Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan
dibuat.
4. Tanggung
Jawab; Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah
selanjutnya.
Setelah melakukan proses supervisi akademik yang sesuai dengan paradigma
berpikir dan prinsip coaching langkah selanjutnya yang tak kalah penting adalah
melakukan umpan balik. Umpan balik yang efektif haruslah bersifat netral
sehingga tidak subjektif dan tanpa sadar. Umpan balik akan memiliki lebih besar
kesempatan untuk diterima apabila berbasis data kuantitatif dari indikator
pencapaian yang sebelumnya sudah disepakati. Umpan balik akan efektif apabila
berbasis data dan disampaikan secara langsung tidak lama setelah kejadian
/pembelajaran/situasi kerja terjadi. Umpan balik dapat dilakukan melalui
kegiatan refleksi
Berdasarkan uraian tersebut maka peran saya sebagai seorang coach di
sekolah dan keterkaitannya dengan materi pembelajaran berdiferensiasi dan
pembelajaran sosial emosional adalah :
1. Sebagai
pamong yang menuntun kekuatan kodrat atau potensi yang dimiliki peserta didik.
2. Menciptakan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya sesuai kebutuhan belajarnya yang beragam melalui
pembelajaran berdiferensiasi.
3. Membangun
komunikasi yang empatik dan memberdayakan sebagai pemimpin pembelajaran dalam
membuat perubahan strategis yang mampu menggerakkan komunitas pada ekosistem
belajar.
4. Menciptakan
pengalaman dan lingkungan belajar yang memperhatikan kebutuhan sosial dan
emosional peserta didik secara holistik.
5. Membantu
seorang coachee (peserta didik atau rekan sejawat) untuk dapat mengendalikan
diri dan emosi, menimbulkan rasa empati, meningkatkan keterampilan berelasi,
dan pengambilan keputusan yang tepat dengan semangat pemberdayaan.
6. Membantu
coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dan menjadi mandiri melalui
pendampingan yang mengedepankan semangat memberdayakan.
7. Membantu
rekan sejawat untuk mengembangkan kompetensi diri mereka dan menjadi otonom
dengan paradigma berpikir dan prinsip coaching.
Keterampilan coaching sangat berkaitan dengan pengembangan kompetensi
sebagai pemimpin pembelajaran karena melalui praktik coaching baik terhadap
peserta didik maupun rekan sejawat dengan menerapkan paradigma, prinsip, dan
kompetensi inti coaching saya dapat menguatkan perjalanan pembelajaran saya
untuk menjadi seorang pemimpin pembelajaran.
Pembelajaran coaching membantu saya dalam membangun komunikasi yang
empirik dan pemberdayaan sebagai pemimpin pembelajaran dalam membuat perubahan
strategis yang mampu menggerakkan komunitas sekolah pada ekosistem belajar.
Sistem Among yang dianut Ki Hajar Dewantara menjadikan guru dalam
perannya bukan satu-satunya sumber pengetahuan melainkan sebagai mitra peserta
didik untuk melejitkan kodrat dan irodat yang mereka miliki, apa yang dilakukan?,
salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam
pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan
kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu
peserta didik, dalam hal ini "KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani,
dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah
tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan
berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justeru membutuhkan tempat yang
kering untuk tumbuh dengan baik".
Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan.
Mencipta RASA dengan TIRTA untuk Supervisi.
Guru merupakan seseorang yang
telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan,
dan melatih muridnya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkannya tersebut.
Dalam hal ini, guru tidak hanya mengajarkan pendidikan formal, tapi juga pendidikan
lainnya dan bisa menjadi sosok yang diteladani oleh para muridnya. Lalu, Bagaimana
seorang guru dapat mengelola kelas dan memenuhi kebutuhan belajar
murid-muridnya yang berbeda-beda? Seorang guru harus memerhatikan
banyak hal agar pembelajaran dapat berlangsung optimal dan tujuan pembelajaran
dapat tercapai dengan baik. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah
kebutuhan belajar setiap murid. Untuk menjawab tantangan tersebut,
maka seorang guru harus dapat merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi model
pembelajaran yang tepat.
Ki Hajar Dewantara pernah menyampaikan bahwa maksud dari pendidikan
adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka
sebagai manusia maupun anggota
masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Sebagai pendidik, kita tentu menyadari bahwa setiap anak adalah unik dan
memiliki kodratnya masing-masing. Tugas kita sebagai guru adalah menyediakan
lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan
berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, dan
memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan
bahagia. Setiap murid yang duduk di kelas kita adalah individu yang unik dan
ini seharusnya menjadi dasar dari praktik-praktik pembelajaran yang kita
lakukan di kelas dan di sekolah, serta menjadi kerangka acuan saat mengevaluasi
praktik-praktik pembelajaran kita.
Dengan meyakini bahwa setiap anak adalah unik, maka sebagai pendidik,
kita semua juga tentu harus membuka mata terhadap adanya keberagaman
murid-murid di kelas kita. Melihat betapa luas keberagaman murid-murid kita, maka sebagai guru, kita
perlu berpikir bagaimana caranya kita dapat menyediakan layanan pendidikan yang
memungkinkan semua murid mempunyai kesempatan dan pilihan untuk mengakses apa
yang kita ajarkan secara efektif sesuai dengan kebutuhan mereka. Sebagai
pendidik, dengan meyakini bahwa tugas kita adalah melayani murid-murid dengan
segala keberagaman tersebut serta menyediakan lingkungan dan pengalaman belajar
terbaik bagi mereka. Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk merespon
karakteristik murid-murid yang beragam ini adalah dengan mengimplementasikan
pembelajaran berdiferensiasi.
Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses
pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut
Tomlinson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran
berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon
kebutuhan belajar murid. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian
keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi
kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang
terkait dengan:
1.
tujuan
pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.
2.
kemampuan
guru menanggapi atau merespon
kebutuhan belajar muridnya.
3.
Kemampuan
guru menciptakan lingkungan
belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk
mencapai tujuan belajar yang
tinggi.
4.
Manajemen
kelas yang efektif.
5.
Penilaian
berkelanjutan.
Tomlinson (2001)
dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in
Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat melihat
kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek.
1. Kesiapan Belajar (Readiness)
Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi,
konsep, atau keterampilan baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat
kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka dan memberikan
mereka tantangan, namun dengan
lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat
menguasai materi atau keterampilan baru tersebut. Ada 6 cara untuk membedakan kesiapan belajar;
a.
Bersifat
mendasar -- Bersifat transformatif
b.
Konkret
- Abstrak.
c.
Sederhana
- Kompleks.
d.
Terstruktur
- Terbuka (Open Ended)
e.
Tergantung
(dependent) - Mandiri (Independent)
f.
Lambat
- Cepat
Beberapa murid dengan kemampuan yang baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu bergerak cepat melalui materi yang telah ia kuasai dan diberikan sedikit tantangan. Tetapi di lain waktu, murid yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk mempelajari topik yang lain.
2. Minat Murid
Minat merupakan suatu keadaan
mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek
tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri. Tomlinson (2001: 53),
mengatakan bahwa tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat, diantaranya
adalah sebagai berikut:
a. membantu
murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri
untuk belajar;
b. mendemonstrasikan
keterhubungan antar semua pembelajaran;
c. menggunakan
keterampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide
atau keterampilan yang kurang dikenal atau baru bagi mereka, dan;
d. meningkatkan
motivasi murid untuk belajar.
3. Profil Belajar Murid
Profil Belajar
mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar.
Tujuan dari memperhatikan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar
adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara alami dan
efisien. Sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung
memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri. Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil
belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat
memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka. Profil belajar murid
terkait dengan banyak faktor. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:
a. Preferensi
terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat
kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya terstruktur/tidak
terstruktur, dsb.
b. Pengaruh
Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.
c. Preferensi
gaya belajar.
Gaya belajar adalah bagaimana murid memilih, memperoleh,
memproses, dan mengingat informasi baru.
Secara umum gaya belajar ada tiga, yaitu:
1) visual:
belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, diagram,
power point, catatan, peta konsep, graphic organizer, dsb);
2) auditori:
belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan
keras, mendengarkan pendapat saat
berdiskusi, mendengarkan musik);
3) kinestetik:
belajar sambil melakukan (misalnya sambil bergerak, melakukan kegiatan hands
on, dsb).
Mengingat bahwa murid-murid kita memiliki gaya belajar
yang berbeda-beda, maka penting bagi guru untuk berusaha untuk menggunakan
kombinasi gaya mengajar.
d. Preferensi
berdasarkan kecerdasan majemuk (multiple
intelligences): Teori tentang kecerdasan majemuk
menjelaskan bahwa manusia sebenarnya memiliki delapan kecerdasan berbeda yang
mencerminkan berbagai cara kita berinteraksi dengan dunia. Kecerdasan tersebut
adalah visual-spasial, musical, bodilykinestetik,
interpersonal, intrapersonal, verbal-linguistik, naturalis, logicmatematika.
Pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan
membantu mencapai hasil belajar yang optimal dikarenakan pembelajaran
berdiferensiasi berpihak pada murid, menciptakan lingkungan belajar yang
positif, kolaboratif dan saling menghargai, serta adanya strategi pembelajaran
didasari oleh kebutuhan murid meliputi kesiapan belajar, minat, dan profil
belajar murid. Dalam pembelajaran berdiferensiasi ada tiga strategi
pembelajaran berdiferensiasi yaitu:
1. Diferensiasi
Konten
Adalah
mendiferensiasikan materi pembelajaran kepada murid berdasarkan kebutuhan,
dilihat dari kesiapan belajar murid secara konkret -- abstrak, minat belajar
murid dengan mempersiapkan topik atau materi sesuai minat siswa, profil belajar
siswa sesuai gaya belajar, audio, visual, atau kinestetik.
2. Diferensiasi
Proses
Adalah
usaha untuk membantu murid memahami materi pembelajaran dengan memberi beberapa
kegiatan atau scaffolding sesuai dengan kebutuhan murid.
3. Diferensiasi
Produk
Produk
berupa tagihan atau hasil yang diharapkan dari murid setelah proses
pembelajaran, baik berupa hasil tes, presentasi atau diskusi, pertunjukkan,
pidato, diagram dan lainnya yang mencerminkan pemahaman murid dari tujuan yang
diharapkan dalam pembelajaran.
Dalam pembelajaran berdiferensiasi terlebih dahulu mengidentifikasi
kebutuhan murid yaitu dari kesiapan belajar murid (lambat-cepat, konkret --
abstrak, mandiri - bantuan, minat murid, profil belajar murid yang meliputi
gaya belajar, latar belakang, dan kecerdasan).
Kesiapan belajar murid atau readiness adalah kapasitas untuk mempelajari
materi baru diibaratkan seperti "The Equalizer" dari yang bersifat
mendasar menuju bersifat transformatif, konkret ke abstrak, sederhana ke
kompleks, terstruktur ke terbuka (open-ended), tergantung ke mandiri, dan
lambat menjadi cepat.
Sedangkan dalam minat belajar maka terdapat "Cocokkan" yaitu
mencari kecocokan antara minat murid dengan tujuan pembelajaran,
"Koneksikan" berarti menunjukkan koneksi antar materi pembelajaran,
"Jembatani" yaitu menjembatani pengetahuan awal dengan pengetahuan
baru, dan "Memotivasi" yang memungkinkan tumbuhnya motivasi murid
untuk belajar.
Dalam profil belajar murid maka perlu mengidentifikasi lingkungan
belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah
cahaya, kemudian pengaruh budaya dari santai menjadi terstruktur, pendiam ke
ekspresif, personal ke impersonal, gaya belajar murid juga dengan
mengidentifikasi yaitu bisa visual (belajar dengan melihat), auditori (belajar
dengan mendengarkan), kinestetik ( belajar sambil melakukan), kecerdasan
majemuk (multiple intelegences), visual ke spasial, musical bodily kinestetik,
logic matematika.
Kaitan antarmateri
Pembelajaran Berdiferensiasi dengan modul sebelumnya yaitu :
1. Filosofi
pendidikan KHD pembelajaran berdiferensiasi dapat mewujudkan Merdeka Belajar.
Berdasarkan pemikiran KHD pendidikan adalah menuntun anak sesuai kodrat alam
dan zaman dengan berpihak pada anak sesuai perkembangan minat, bakat dan
potensi anak. Hal ini berkaitan erat dengan pembelajaran berdiferensiasi yang bertujuan
memberikan pembelajaran kepada anak dengan cara memetakan kebutuhan murid
sesuai kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar anak.
2. Kaitan
dengan Nilai dan peran Guru penggerak bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat
mewujudkan Merdeka Belajar apabila guru penggerak telah memiliki nilai guru
penggerak dan menerapkan peran guru penggerak. Nilai guru penggerak meliputi :
mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, berpihak pada murid. Dan peran guru
penggerak meliputi menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas
praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, dan
mewujudkan kepemimpinan murid.
3. Kaitan
dengan visi guru penggerak, seorang guru penggerak tentunya memiliki visi untuk
mewujudkan merdeka belajar yang sesuai profil pelajar Pancasila, dengan
melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada anak yang selaras dengan
pembelajaran berdiferensiasi menyesuaikan kebutuhan belajar anak berdasarkan
kesiapan belajar, minat dan profil belajar murid. Untuk menciptakan
pembelajaran berdiferensiasi guru penggerak harus mampu berkolaborasi dan
mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki oleh sekolah sehingga mampu mendukung
terwujudnya visi dan mendukung perkembangan murid berdasarkan pemetaan
kebutuhan murid.
4. Kaitan
dengan Budaya Positif, Budaya positif adalah perwujudan dari nilai-nilai atau
keyakinan universal yang diterapkan di sekolah. Lingkungan belajar yang
mendukung diferensiasi dibangun dengan menerapkan budaya positif yaitu :
a. Komunitas
belajar setiap orang di dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut oleh
orang lain.
b. Setiap
orang di dalam kelas saling menghargai
c. Murid
merasa aman, menciptakan murid berani dalam mengemukakan pendapat
d. Ada
harapan bagi pertumbuhan yang ditunjukkan murid. Pertumbuhan setiap murid
berbeda-beda walaupun hanya sedikit guru tetap mengapresiasinya.
e. Guru
mengajak murid untuk mencapai kesuksesan, pengalaman belajar mendorong murid
lebih cepat, sedikit melampaui apa yang telah dikuasainya, guru memberikan
dukungan sehingga murid tidak merasa frustasi tetapi mencapai kesuksesan.
f.
Adanya bentuk keadilan dalam bentuk nyata. Semua
murid berhak mendapatkan perlakuan yang sama di dalam kelas.
g. Guru berkolaborasi dengan murid untuk mencapai pertumbuhan dan kesuksesan bersama, adanya tanggung jawab masing-masing agar pembentukan dan tercipta kelas yang efektif. Guru sebagai pemimpin kelas memiliki peran sangat penting dalam mengembangkan lingkungan belajar yang positif.









