Tukarkan sebagian dari hadiah Anda dengan apa yang akan Anda miliki di masa depan. Investasikan saat ini, jalani hidup Anda, dengan janji menukar waktu dengan hasil di masa depan.


Jauh di lubuk hati, perasaan gagal muncul ketika kita tidak mengelola kecemasan kita. Apa yang sebenarnya kamu takuti? Tidak punya sesuatu untuk dikatakan atau tidak mampu membuat orang mendengarkan Anda?


Sudah 25 tahun kita menentang logika, tanpa memberikan batasan pada model formal yang kita jalani. Tidak mengikuti standar, dan sebagai konsekuensinya mendapat tepuk tangan dari orang yang sama yang sudah membenci saya.


Jangan terpengaruh oleh ejekan “teman” dan kerabat; sebaliknya: Setiap kali didiskreditkan, lahirlah ide baru. Berpikir secara berbeda tidak berarti tertipu, bahkan jika dikritik oleh mereka yang mengharapkan dukungan lebih.


Bekerja keras merupakan tanda seseorang telah mencapai puncak dan bersedia mengulang kembali perencanaannya. Pendakiannya tidak linier, dan Anda perlu menemukan kembali diri Anda sebanyak yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang Anda inginkan.


Ijazah yang tergantung di dinding tidak ada gunanya; Sejujurnya, mereka tidak pernah berhasil. Anda berharga dengan apa yang Anda bawa dalam diri Anda, dan bukan apa yang dipaksakan secara konvensional – Dan jujur ​​saja, menjadi konvensional berarti hidup terbelenggu oleh dogma-dogma yang dialihdayakan. Dengan melepaskan diri dari konvensionalitas, kita bisa melakukan pekerjaan yang kita sukai, dan ketika kita menikmati pekerjaan itu menjadi sebuah kesenangan, bukan sebuah hukuman.


Ketekunan adalah nilai bagi mereka yang tahu bagaimana memulai kembali sebanyak yang diperlukan; Datang dari anonimitas menuju puncak merupakan sebuah anugerah bagi mereka yang memiliki kekuatan untuk selalu maju. Orang yang mencapai puncak tidak akan pensiun, sebaliknya; keinginan untuk menjadi selalu lebih. Tetap kuat, fokus pada apa yang Anda inginkan dan lakukan sisanya.


Pernahkah Anda merasa ingin membuang segalanya dan menyerah? Pernahkah Anda berhenti untuk mempertanyakan seberapa besar nilai Anda? Berapa nilainya? Satu keputusan Anda dapat berdampak pada kehidupan banyak orang, pikirkanlah.


Kebebasan untuk menentukan nasib Anda sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, meskipun Anda tidak melaksanakannya, baik karena Anda tidak mengetahuinya atau karena takut. Anda memiliki kebebasan memilih, meskipun sistem membuat Anda mengikuti arus untuk tidak bertanya-tanya, mentransfer kekuatan Anda untuk memutuskan apa yang Anda inginkan ke dalam arus. Hanya saja, jangan berharap mendapatkan hasil yang baik dari benih yang ditanam di antara kawanan. Jika jauh di lubuk hati Anda ingin menjadi seperti mayoritas, oke, berbahagialah; jika tidak, jadilah nonkonformis dan carilah tujuan untuk melangkah lebih jauh.


Tidak ada yang mengatakan ini akan menjadi perjalanan yang mudah, adil, atau logis. Jangan biarkan apa pun atau siapa pun mencuri otonomi Anda untuk memilih masa depan Anda sendiri. Terserah Anda untuk menghadapi kegelapan atau tertelan oleh kepastian yang tidak pasti.


15 Februari 2024

***

Saya rasa tak ada pertemanan abadi di dunia Anda, kecuali kepentingan dari Anda

Berjalan beriringan (bersama) untuk mengenal sekitar?

Rombongan MKKS SMP Swasta Kabupaten Mojokerto


Tari Barong Bali merupakan tarian tradisional di Bali yang menceritakan tentang hewan mitologi semi singa atau beruang yang mempunyai kesaktian dan dipercaya mampu melindungi umat manusia. 


Tari Barong Bali sebagai warisan budaya pra Hindu yang menggambarkan pertarungan antara kebaikan (dharma) dan kejahatan (adharma). Kejahatan dilambangkan dengan Rangda, sedangkan kebaikan dilambangkan dengan Barong.


Suasana pertunjukkan tari barong


Dalam tari Barong juga diceritakan para pria yang bertarung satu sama menggunakan keris belati. Saat Barong muncul, mereka mengubah arah kerisnya dan menusukkan ke diri sendiri. Pemain kesurupan dan terlahir kembali setelah diberi percikan air suci. Kemudian, Barong mengalahkan Rangda sehingga alam kembali seimbang.


foto bersama peseni tari barong


Senin, 22 Januari 2024, MKKS SMP Swasta Kabupaten Mojokerto berkesempatan menikmati pertunjukan Tari Barong. Rombongan berjumlah 46 orang, datang di Saraya Budaya pada 08:30 WITA. Disambut salah satu penari dalam pertunjukkan, peserta rombongan Langsa menempati posisi tepat di sebelah kiri panggung.


penulis bersama penari dalam pertunjukkan


Menikmati Keindahan Tari Barong - MKKS SMP Swasta Kabupaten Mojokerto

 

3.1.a.8 Koneksi Antarmateri 

Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik.  Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu  itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan, apalagi perubahan yang transformational, pasti ada kritik.  Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid? (Nadiem Makarim, 2020)

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran atau pimpinan sebuah institusi, tentu Anda menghadapi pengambilan keputusan setiap harinya. Pernahkah dalam pengambilan keputusan tersebut melibatkan berbagai pihak yang memiliki kepentingan yang sama-sama menjunjung tinggi suatu nilai kebajikan tertentu, dan keduanya sama-sama benar, namun tertantang karena saling bertentangan satu dengan yang lain?

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba menyajikan rangkuman materi modul 3.1. yang telah saya pelajari. Serta mencoba menganalisis konektivitas materi modul 3.1. dengan modul-modul sebelumnya yang telah saya pelajari.

 

·       Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Filosofi Pratap Triloka khususnya ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. KHD berpandangan bahwa sebagai seorang guru, itu harus memberikan tauladan atau contoh praktek baik kepada murid. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Gru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani.

·        Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Dalam pengambilan suatu keputusan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita. Nilai-nilai bagaikan gunung es yang hanya terlihat kecil dipermukaan air tetapi merupakan bagian yang besar di dalam alam bawah sadar kita. Maka penting untuk memupuk nilai-nilai positif dalam diri kita yang nantinya akan menjiwai setiap keputusan yang kita ambil.

·        Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

·        Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Pada pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika diperlukan kesadaran diri atau self awareness dan keterampilan berhubungan sosial untuk mengambil keputusan. Kita dapat menggunakan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan terutama pada uji legalitas untuk menentukan apakah masalah tersebut termasuk bujukan moral yang berarti benar vs salah ataukah dilema etika yang merupakan permasalahan benar vs benar. Apabila permasalahan yang dihadapi adalah bujukan moral maka dengan tegas sebagai seorang guru, kita harus kembali ke nilai-nilai kebenaran.

·        Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentu akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Kondisi tersebut adalah kondisi yang kita inginkan. Maka untuk melakukan perubahan, diperlukan suatu pendekatan yang sistematis. Dalam hal ini, kita menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

·        Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Dalam kasus dilema etika, pada dasarnya apapun keputusan yang kita ambil dapat dibenarkan secara moral. Akan tetapi perlu memperhatikan prinsi-prinsip dalam pengambilan suatu keputusan. Kita harus berfikir hasil akhir dari keputusan kita yang sesuai dengan prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end based thinking), kita juga harus melihat peraturan yang mendasari keputusan yang kita ambil (berpikir berbasis peraturan-rule based thinking) serta kita harus menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman sesuai dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (care based thinking).

·        Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Merdeka belajar merupakan tujuan akhir dari pembelajaran yang kita lakukan. Merdeka belajar berarti siswa bebas untuk mencapai kodrat alamnya (mengembangkan potensinya) tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Siswa juga dapat mencapai kebahagiaannya sesuai dengan potensi yang dia miiki. Maka keutusan yang kita ambil tidak boleh merampas kebahagiaan siswa dan juga merampas potensi yang dimiliki siswa.

·        Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Guru adalah pemimpin pembelajaran sebagai pamong yang diibaratkan seorang petani yang menyemai benih. Benih tersebut dapat tumbuh subur apabila dirawat, dan dijaga dengan baik. Demikian juga dengan murid, seorang guru bertanggungjawab untuk mengembangkan potensi yang dimiliki murid sebagaimana petani yang menyemai benih untuk mendapatkan hasil yang baik sehingga setiap keputusan guru akan berpengaruh pada masa depan murid.

·        Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah :

1.     Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.

2.     Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).

3.     Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila.

4.     Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkan pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.

·        Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Berdasarkan apa yang sudah saya pelajari di modul 3.1 saya mampu membedakan antara diema etika dan bujukan moral. Dimana dilemma etika merupakan situasi dimana terjadi pertentangan dua kebenaran  atau  benar vs benar, sementara bujukan moral adalah situasi dimana terjadi sebuah pertentangan benar lawan salah, sehingga saya menyadari benang merah antara keduanya. Hal yang tidak terduga adalah pada saat awal saya mempelajari dilemma etika, saya merasa terjebak dalam menentukan sebuah kasus  antara bujukan moral dan dilema etika, malahan ada kasus diema etika yang saya kategorikan bujukan moral, sehingga saya merasa keputusan saya selama ini yang buat sebelum mempelajari modul ini cenderung kaku atau hanya berbasis peraturan sehingga saya merasa untuk melenceng dari aturan itu sulit. Keetika mempelajari dilema etika saya merasa, ada kalanya kita perlu melenceng dari aturan untuk kemaslahatan yang lebih besar, sehingga paradigma pengambilan keputusan dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan diema etika sangatlah penting dilakukan. Begitu pula 9 langkah pengambilan dna pengujian keputusan adalah langkah yang sangat runut dan terarah yang sangat berguna dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang saya ambil.

·        Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Saya pernah berada dalam situasi tersebut, namun ketika itu saya berusaha mengambil keputusan dengan memikirkan dan menganalisis salah dan benar dari situasi yang saya hadapi dan saya mengambil keputusan dengan meminta second opinion dari teman sejawat ataupun keluarga yang saya anggap lebih berpengalaman atau sebagai panutan saya.

·        Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak yang saya rasakan setelah mempelajari modul 3.1 ini saya merasakan lebih percaya diri  dalam mengambil keputusan terutama sebagai pemimpin pembelajaran, saya lebih percaya diri karena bisa memastkan keputusan yang saya ambil tepat atau efektif 

·        Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Menurut saya pengetahuan  tentang pengambilan keputusan ini sangat penting bagi saya sehingga saya bisa mengambil keputusan yang tepat dan efektif, serta tidak gegabah dalam mengambil keputusan baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah.

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

 

2.3.a.8 Koneksi Antarmateri Modul 2.3.

Pendidikan merupakan usaha secara sadar dan terencana dalam mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, berketuhanan dan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan juga lingkungan masyarakat. Dengan demikian, semua upaya yang dilakukan dalam konteks pendidikan bukan hanya harus direncanakan dengan cermat, tetapi juga harus ditujukan untuk pengembangan potensi peserta didik.

Kita dapat memahami banyak hal dari Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara. Bagaimana pengertian yang sering kabur antara pendidikan dan pengajaran. Pendidikan disini dapat diartikan sebagai tempat persemaian benih-benih kehidupan agar dapat tumbuh sesuai kodratnya untuk mencapai kebahagian yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Sedangkan pengajaran adalah bagian dari Pendidikan. Dimana pengajaran adalah menyampaikan pengetahuan untuk mempertajam akal mereka sehingga dapat menumbuhkan pemikiran-pemikiran yang kritis. Pemikiran tersebut mendorong laku, yang akhirnya menjadi kebiasaan sehingga terbentuknya budi pekerti yang luhur serta berbudaya.

Adapun perubahan dari pikiran ataupun perilaku setelah memahami filosofi pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara, yakni menjadi pribadi yang lebih dapat mengerti dan memahami perasaan murid. Menjadi pribadi yang lebih penyabar, dan ketika pada puncak emosi dapat meredam dengan mengingat filosifi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yaitu menghamba pada anak. Menghamba disini dapat diartikan memberikan yang terbaik setulus hati, seikhlas-ikhlasnya membimbing mereka untuk menebalkan laku yang baik yang ada pada diri mereka. Selain itu membimbing disini mengarahkan agar murid dapat mempertajam akal pikiran mereka, sehingga laku-laku negatif yang ada dalam dirinya dapat tersamarkan.

Sebagai seorang pendidik harus dapat menyediakan pengalaman belajar yang memastikan bahwa semua peserta didik dengan segala keragamannya dapat dipenuhi kebutuhannya, sehingga mereka dapat menunjukkan kompetensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan setelah menyelesaikan jenjang pendidikannya. Sebagai konsekuensi logis dari keberagaman kebutuhan belajar peserta didik yang berbeda, maka pendidik harus mempertimbangkan bagaimana proses pembelajaran harus hati-hati didesain agar dapat berhasil untuk semua peserta didik.

Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang berfokus pada kebutuhan peserta didik dan sejalan dengan prinsip pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik. Dengan memperhatikan konten, proses, produk, pendidik dapat menyesuaikan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran agar dapat ke semua tahapan proses tersebut, sehingga dapat memenuhi kebutuhan belajar murid-murid dan membantu kesuksesan belajar mereka. Selain itu, proses pembelajaran berdiferensiasi juga mensyaratkan adanya praktik-praktik penilaian yang baik.

Selain mendesain pengalaman belajar dan lingkungan belajar yang dapat merespon kebutuhan belajar murid agar murid dapat mencapai tujuan pembelajaran melalui pembelajaran berdiferensiasi. Sebagai pendidik tentu harus berupaya menciptakan pengalaman dan lingkungan belajar yang memperhatikan kebutuhan sosial dan emosional peserta didik.

Pembelajaran sosial dan emosional (PSE) ini semakin mendesak untuk kita terapkan dan praktikkan karena pentingnya perkembangan murid secara holistik, bukan hanya intelektual tetapi juga fisik, emosional, sosial, dan karakter. Sebagai pendidik yang mendampingi peserta didik di sekolah sepanjang hari, maka sudah sepatutnya pendidik memikirkan bagaimana menuntun peserta didik untuk mencapai kodratnya, bagaimana membimbing peserta didik agar dapat mengeksplorasi dan mengaktualisasikan seluruh potensi dalam dirinya dengan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat, sehingga dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaannya. Di sinilah letak urgensi PSE untuk mendorong tumbuh kembang peserta didik secara holistik.

Pembelajaran sosial dan emosional merupakan pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman belajar bagi murid untuk menumbuhkan dan melatih lima kompetensi sosial dan emosional (KSE), yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Seorang pendidik harus memahami konsep yang sejalan dengan pemikiran filosofis pendidikan Ki hajar Dewantara dan perkembangan pendidikan abad ke 21. Pendidik harus menguatkan paradigma berpikir among, prinsip coaching, kompetensi inti coating, alur percakapan TIRTA dan supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching. Dengan mempelajari dan mempraktikkan beberapa latihan percakapan berbasis coaching baik terhadap murid maupun rekan sejawat dapat menguatkan perjalanan pembelajaran pendidik menjadi seorang pemimpin pembelajaran. 

Selama menjadi pendidik tentu dalam proses pembelajaran pernah diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah. Supervisi akademik ini dilakukan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik sebagaimana tertuang dalam standar proses pada standar nasional pendidikan.  Supervisi akademik yang dijalankan semestinya harus benar-benar berfokus pada proses pembelajaran. Selain, itu, supervisi akademik juga bertujuan untuk pengembangan kompetensi diri seorang pendidik di sekolah. 

Rangkaian supervisi akademik ini digunakan kepala sekolah untuk mendorong ruang perbaikan dan pengembangan diri pendidik. Pemimpin sekolah dapat mendorong warga sekolahnya untuk selalu mengembangkan kompetensi diri dan senantiasa memiliki growth mindset, serta keberpihakkan pada murid adalah  pemimpin sekolah yang dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi diri dan orang lain dengan menggunakan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut

Untuk mewujudkan hal tersebut, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang diawali dengan paradigma berpikir yang memberdayakan. Ini mutlak diperlukan agar pengembangan diri dapat berjalan secara berkelanjutan dan terarah. Salah satu pendekatan yang memberdayakan adalah coaching yang merupakan kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya.

Coaching merupakan metode pengembangan diri yang lebih kepada membantu seseorang untuk belajar dari pada mengajarinya. Coaching didefinisikan sebagai sebuah kolaborasi yang pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana  coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi coachee (Grant,1999). Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai "bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif." 

Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara pendidik dan peserta didik. Peserta didik diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya. Peran pendidik sebagai sebagai "pamong" dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar peserta didik tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya. Sistem Among, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang menguatkan keterampilan komunikasi pendidik dan peserta didik dengan menggunakan pendekatan  coaching.. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam pendekatan proses coaching dengan memberdayakan semua kekuatan diri yang ada pada peserta didik.

Sebagai seorang pendidik atau pamong dengan semangat Tut Wuri Handayani, maka pendidik perlu menghayati dan memaknai cara berpikir atau paradigma berpikir KHD  sebelum melakukan pendampingan  dengan pendekatan coaching sebagai salah satu pendekatan komunikasi dengan semangat among (menuntun). Dalam relasi pendidik dengan pendidik, seorang coach juga dapat membantu seorang coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dalam pembelajaran. Pendekatan komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach dan coachee yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan.

Empat cara berpikir yang dapat melatih pendidik (coach/pamong) dalam menciptakan semangat Tut Wuri Handayani dalam setiap perjumpaan pada setiap proses komunikasi dan pembelajaran, yaitu :

1.      Coach dan coachee adalah mitra

2.      Komunikasi yang emansipatif

3.      Berlandaskan kasih dan persaudaraan

4.      Adanya ruang perjumpaan yang pribadi 

Coaching menjadi pendekatan yang memberdayakan karena diawali dengan paradigma berpikir coaching. Tujuan pengembangan kompetensi diri adalah pendidik menjadi otonom, yaitu dapat mengarahkan, mengatur, mengawasi, dan memodifikasi diri secara mandiri. Untuk dapat membantu pendidik menjadi otonom, diperlukan paradigma berpikir dan prinsip coaching bagi orang yang mengembangkannya untuk membantu rekan sejawat untuk mengembangkan kompetensi diri mereka dan menjadi otonom, sehingga perlu memiliki paradigma berpikir coaching. Paradigma berpikir coaching, yaitu : Berfokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan, bersikap terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat, dan mampu melihat peluang baru dan masa depan. Sementara prinsip coaching, yaitu : Kemitraan, Proses Kreatif, Memaksimalkan Potensi.

Prinsip dan paradigma berpikir coaching dapat digunakan dalam proses supervisi akademik. Semangat yang ditumbuhkan dalam proses supervisi adalah semangat memberdayakan, bukan mengevaluasi. Selain itu, agar dapat menjalankan percakapan coaching maka pendidik perlu mengetahui kompetensi inti dalam coaching. Berdasarkan ICF ada 8 kompetensi inti, tetapi dalam kegiatan Pendidikan Guru Penggerak ini dipelajari 3 kompetensi inti yang perlu untuk dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan percakapan coaching pada rekan sejawat di sekolah. 

Tiga kompetensi inti yang perlu dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus-menerus saat melakukan percakapan coaching kepada rekan sejawat, yaitu :

1.      Kehadiran penuh (presence)

Menghadirkan diri sepenuhnya saat percakapan coaching sangat penting dilatih agar coach bisa selalu fokus untuk bersifat terbuka, sabar, ingin tahu lebih banyak tentang coachee

2.      Mendengarkan aktif

Menyimak  pun perlu dilatih untuk fokus pada apa yang disampaikan atau dikatakan coachee dan memahami secara keseluruhan makna baik secara tersurat maupun tersirat. Hindari memberikan semacam asumsi, melabel atau judgment, dan asosiasi seperti mengaitkan dengan pengalaman pribadi coach.

3.      Mengajukan pertanyaan berbobot

Coach harus terus melatih diri dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menggugah atau menggali cara pikir dan  menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan emosi atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk  membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi coachee.

                                         

Salah satu referensi yang dapat kita gunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure. RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask yang akan dijelaskan sebagai berikut :

1.     Receive/Terima; menerima/mendengarkan semua informasi yang disampaikan coachee.

2.  Appreciate/Apresiasi; memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee. Respon dapat berupa anggukan kepala, kontak mata, melontarkan kata "oh..." "ya...". Bentuk apresiasi akan muncul saat coach memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya.

3.    Summarize/Merangkum; kegiatan ini dilakukan saat percakapan selesai dilakukan untuk memastikan kesamaan pemahaman. Memperhatikan dan menggunakan kata-kata kunci yang diucapkan oleh coachee. saat merangkum coach dapat menggunakan potongan-potongan informasi yang telah didapat dari percakapan sebelumnya dan meminta coachee mengkonfirmasi apakah rangkuman sudah sesuai.

4.    Ask/Tanya; mengajukan pertanyaan dengan menggunakan kalimat tanya apa, bagaimana. seberapa. kapan, siapa, atau di mana. Hindari menggunakan pertanyaan tertutup seperti mengapa, apakah, atau sudahkah.

 

                                     

Alur percakapan coaching yang akan membantu coach dalam membuat percakapan coaching menjadi efektif dan bermakna yaitu alur TIRTA yang dikembangkan dari satu model umum coaching yang dikenal sangat lua dan telah banyak diaplikasikan yaitu  GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options, dan Will.

Alur percakapan coaching TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang membuat kita memiliki paradigma berpikir , prinsip dan keterampilan coaching untuk memfasilitasi rekan sejawat agar dapat belajar dari situasi yang dihadapi dan membuat keputusan-keputusan bijaksana secara mandiri.

Alur TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.    Tujuan Umum; tahap awal dimana kedua belah pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. idealnya tujuan ini datang dari coachee)

2.      Identifikasi; coach melakukan panggilan dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi.

3.      Rencana Aksi; Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat.

4.  Tanggung Jawab; Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya.

Setelah melakukan proses supervisi akademik yang sesuai dengan paradigma berpikir dan prinsip coaching langkah selanjutnya yang tak kalah penting adalah melakukan umpan balik. Umpan balik yang efektif haruslah bersifat netral sehingga tidak subjektif dan tanpa sadar. Umpan balik akan memiliki lebih besar kesempatan untuk diterima apabila berbasis data kuantitatif dari indikator pencapaian yang sebelumnya sudah disepakati. Umpan balik akan efektif apabila berbasis data dan disampaikan secara langsung tidak lama setelah kejadian /pembelajaran/situasi kerja terjadi. Umpan balik dapat dilakukan melalui kegiatan refleksi

Berdasarkan uraian tersebut maka peran saya sebagai seorang coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional adalah :

1.   Sebagai pamong yang menuntun kekuatan kodrat atau potensi yang dimiliki peserta didik.

2.  Menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sesuai kebutuhan belajarnya yang beragam melalui pembelajaran berdiferensiasi.

3. Membangun komunikasi yang empatik dan memberdayakan sebagai pemimpin pembelajaran dalam membuat perubahan strategis yang mampu menggerakkan komunitas pada ekosistem belajar.

4.    Menciptakan pengalaman dan lingkungan belajar yang memperhatikan kebutuhan sosial dan emosional peserta didik secara holistik.

5.  Membantu seorang coachee (peserta didik atau rekan sejawat) untuk dapat mengendalikan diri dan emosi, menimbulkan rasa empati, meningkatkan keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang tepat dengan semangat pemberdayaan.

6.  Membantu coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dan menjadi mandiri melalui pendampingan yang mengedepankan semangat memberdayakan.

7.   Membantu rekan sejawat untuk mengembangkan kompetensi diri mereka dan menjadi otonom dengan paradigma berpikir dan prinsip coaching.

Keterampilan coaching sangat berkaitan dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran karena melalui praktik coaching baik terhadap peserta didik maupun rekan sejawat dengan menerapkan paradigma, prinsip, dan kompetensi inti coaching saya dapat menguatkan perjalanan pembelajaran saya untuk menjadi seorang pemimpin pembelajaran. 

Pembelajaran coaching membantu saya dalam membangun komunikasi yang empirik dan pemberdayaan sebagai pemimpin pembelajaran dalam membuat perubahan strategis yang mampu menggerakkan komunitas sekolah pada ekosistem belajar.

Sistem Among yang dianut Ki Hajar Dewantara menjadikan guru dalam perannya bukan satu-satunya sumber pengetahuan melainkan sebagai mitra peserta didik untuk melejitkan kodrat dan irodat yang mereka miliki, apa yang dilakukan?, salah satunya adalah mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik, dalam hal ini "KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justeru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik".

Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan.






Mencipta RASA dengan TIRTA untuk Supervisi.

 


Guru merupakan seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan, dan melatih muridnya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkannya tersebut. Dalam hal ini, guru tidak hanya mengajarkan pendidikan formal, tapi juga pendidikan lainnya dan bisa menjadi sosok yang diteladani oleh para muridnya. Lalu, Bagaimana seorang guru dapat mengelola kelas dan memenuhi kebutuhan belajar murid-muridnya yang berbeda-beda? Seorang guru harus memerhatikan banyak hal agar pembelajaran dapat berlangsung optimal dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan belajar setiap murid. Untuk menjawab tantangan tersebut, maka seorang guru harus dapat merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi model pembelajaran yang tepat.

Ki Hajar Dewantara pernah menyampaikan bahwa maksud dari pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai  manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sebagai pendidik, kita tentu menyadari bahwa setiap anak adalah unik dan memiliki kodratnya masing-masing. Tugas kita sebagai guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, dan memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan bahagia. Setiap murid yang duduk di kelas kita adalah individu yang unik dan ini seharusnya menjadi dasar dari praktik-praktik pembelajaran yang kita lakukan di kelas dan di sekolah, serta menjadi kerangka acuan saat mengevaluasi praktik-praktik pembelajaran kita.

Dengan meyakini bahwa setiap anak adalah unik, maka sebagai pendidik, kita semua juga tentu harus membuka mata terhadap adanya keberagaman murid-murid di kelas kita. Melihat betapa luas keberagaman  murid-murid kita, maka sebagai guru, kita perlu berpikir bagaimana caranya kita dapat menyediakan layanan pendidikan yang memungkinkan semua murid mempunyai kesempatan dan pilihan untuk mengakses apa yang kita ajarkan secara efektif sesuai dengan kebutuhan mereka. Sebagai pendidik, dengan meyakini bahwa tugas kita adalah melayani murid-murid dengan segala keberagaman tersebut serta menyediakan lingkungan dan pengalaman belajar terbaik bagi mereka. Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk merespon karakteristik murid-murid yang beragam ini adalah dengan mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi.

Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut Tomlinson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon kebutuhan belajar murid. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

1.      tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.

2.      kemampuan guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya.

3.      Kemampuan guru menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi.

4.      Manajemen kelas yang efektif.

5.      Penilaian berkelanjutan.

Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat melihat kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek.

1.      Kesiapan Belajar (Readiness)

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka dan memberikan mereka tantangan,  namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi atau keterampilan baru tersebut. Ada 6 cara untuk membedakan kesiapan belajar;

a.       Bersifat mendasar  -- Bersifat transformatif

b.      Konkret - Abstrak.  

c.       Sederhana - Kompleks. 

d.      Terstruktur - Terbuka (Open Ended)

e.       Tergantung (dependent) - Mandiri (Independent)

f.        Lambat - Cepat

Beberapa murid dengan kemampuan yang baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu bergerak cepat melalui materi yang telah ia kuasai dan diberikan sedikit tantangan. Tetapi di lain waktu, murid yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk mempelajari topik yang lain.


2.      Minat Murid

Minat merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri. Tomlinson (2001: 53), mengatakan bahwa tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat, diantaranya adalah sebagai berikut:

a.       membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri untuk belajar;

b.      mendemonstrasikan keterhubungan antar semua pembelajaran;

c.       menggunakan keterampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang dikenal atau baru bagi mereka, dan;

d.      meningkatkan motivasi murid untuk belajar.


3.      Profil Belajar Murid

Profil Belajar mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar. Tujuan dari memperhatikan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara alami dan efisien. Sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri.  Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka. Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:

a.       Preferensi terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya terstruktur/tidak terstruktur,  dsb.

b.      Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.

c.       Preferensi gaya belajar.

Gaya belajar adalah bagaimana murid memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru.  Secara umum gaya belajar ada tiga, yaitu:

1)      visual: belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, diagram, power point, catatan, peta konsep, graphic organizer, dsb); 

2)      auditori: belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan pendapat  saat berdiskusi, mendengarkan musik); 

3)      kinestetik: belajar sambil melakukan (misalnya sambil bergerak, melakukan kegiatan hands on, dsb).

Mengingat bahwa murid-murid kita memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, maka penting bagi guru untuk berusaha untuk menggunakan kombinasi gaya mengajar.

d.      Preferensi berdasarkan kecerdasan  majemuk (multiple intelligences): Teori tentang kecerdasan majemuk menjelaskan bahwa manusia sebenarnya memiliki delapan kecerdasan berbeda yang mencerminkan berbagai cara kita berinteraksi dengan dunia. Kecerdasan tersebut adalah visual-spasial, musical, bodilykinestetik, interpersonal, intrapersonal, verbal-linguistik, naturalis, logicmatematika.  

Pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal dikarenakan pembelajaran berdiferensiasi berpihak pada murid, menciptakan lingkungan belajar yang positif, kolaboratif dan saling menghargai, serta adanya strategi pembelajaran didasari oleh kebutuhan murid meliputi kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Dalam pembelajaran berdiferensiasi ada tiga strategi pembelajaran berdiferensiasi yaitu:

1.      Diferensiasi Konten

Adalah mendiferensiasikan materi pembelajaran kepada murid berdasarkan kebutuhan, dilihat dari kesiapan belajar murid secara konkret -- abstrak, minat belajar murid dengan mempersiapkan topik atau materi sesuai minat siswa, profil belajar siswa sesuai gaya belajar, audio, visual, atau kinestetik.

2.      Diferensiasi Proses

Adalah usaha untuk membantu murid memahami materi pembelajaran dengan memberi beberapa kegiatan atau scaffolding sesuai dengan kebutuhan murid.

3.      Diferensiasi Produk

Produk berupa tagihan atau hasil yang diharapkan dari murid setelah proses pembelajaran, baik berupa hasil tes, presentasi atau diskusi, pertunjukkan, pidato, diagram dan lainnya yang mencerminkan pemahaman murid dari tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran.

 

Dalam pembelajaran berdiferensiasi terlebih dahulu mengidentifikasi kebutuhan murid yaitu dari kesiapan belajar murid (lambat-cepat, konkret -- abstrak, mandiri - bantuan, minat murid, profil belajar murid yang meliputi gaya belajar, latar belakang, dan kecerdasan).

Kesiapan belajar murid atau readiness adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru diibaratkan seperti "The Equalizer" dari yang bersifat mendasar menuju bersifat transformatif, konkret ke abstrak, sederhana ke kompleks, terstruktur ke terbuka (open-ended), tergantung ke mandiri, dan lambat menjadi cepat.

Sedangkan dalam minat belajar maka terdapat "Cocokkan" yaitu mencari kecocokan antara minat murid dengan tujuan pembelajaran, "Koneksikan" berarti menunjukkan koneksi antar materi pembelajaran, "Jembatani" yaitu menjembatani pengetahuan awal dengan pengetahuan baru, dan "Memotivasi" yang memungkinkan tumbuhnya motivasi murid untuk belajar.

 

Dalam profil belajar murid maka perlu mengidentifikasi lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, kemudian pengaruh budaya dari santai menjadi terstruktur, pendiam ke ekspresif, personal ke impersonal, gaya belajar murid juga dengan mengidentifikasi yaitu bisa visual (belajar dengan melihat), auditori (belajar dengan mendengarkan), kinestetik ( belajar sambil melakukan), kecerdasan majemuk (multiple intelegences), visual ke spasial, musical bodily kinestetik, logic matematika.

Kaitan antarmateri Pembelajaran Berdiferensiasi dengan modul sebelumnya yaitu :

1.      Filosofi pendidikan KHD pembelajaran berdiferensiasi dapat mewujudkan Merdeka Belajar. Berdasarkan pemikiran KHD pendidikan adalah menuntun anak sesuai kodrat alam dan zaman dengan berpihak pada anak sesuai perkembangan minat, bakat dan potensi anak. Hal ini berkaitan erat dengan pembelajaran berdiferensiasi yang bertujuan memberikan pembelajaran kepada anak dengan cara memetakan kebutuhan murid sesuai kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar anak.

2.      Kaitan dengan Nilai dan peran Guru penggerak bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat mewujudkan Merdeka Belajar apabila guru penggerak telah memiliki nilai guru penggerak dan menerapkan peran guru penggerak. Nilai guru penggerak meliputi : mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, berpihak pada murid. Dan peran guru penggerak meliputi menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, dan mewujudkan kepemimpinan murid.

3.      Kaitan dengan visi guru penggerak, seorang guru penggerak tentunya memiliki visi untuk mewujudkan merdeka belajar yang sesuai profil pelajar Pancasila, dengan melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada anak yang selaras dengan pembelajaran berdiferensiasi menyesuaikan kebutuhan belajar anak berdasarkan kesiapan belajar, minat dan profil belajar murid. Untuk menciptakan pembelajaran berdiferensiasi guru penggerak harus mampu berkolaborasi dan mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki oleh sekolah sehingga mampu mendukung terwujudnya visi dan mendukung perkembangan murid berdasarkan pemetaan kebutuhan murid.

4.      Kaitan dengan Budaya Positif, Budaya positif adalah perwujudan dari nilai-nilai atau keyakinan universal yang diterapkan di sekolah. Lingkungan belajar yang mendukung diferensiasi dibangun dengan menerapkan budaya positif yaitu :

a.       Komunitas belajar setiap orang di dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut oleh orang lain.

b.      Setiap orang di dalam kelas saling menghargai

c.       Murid merasa aman, menciptakan murid berani dalam mengemukakan pendapat

d.      Ada harapan bagi pertumbuhan yang ditunjukkan murid. Pertumbuhan setiap murid berbeda-beda walaupun hanya sedikit guru tetap mengapresiasinya.

e.       Guru mengajak murid untuk mencapai kesuksesan, pengalaman belajar mendorong murid lebih cepat, sedikit melampaui apa yang telah dikuasainya, guru memberikan dukungan sehingga murid tidak merasa frustasi tetapi mencapai kesuksesan.

f.        Adanya bentuk keadilan dalam bentuk nyata. Semua murid berhak mendapatkan perlakuan yang sama di dalam kelas.

g.      Guru berkolaborasi dengan murid untuk mencapai pertumbuhan dan kesuksesan bersama, adanya tanggung jawab masing-masing agar pembentukan dan tercipta kelas yang efektif. Guru sebagai pemimpin kelas memiliki peran sangat penting dalam mengembangkan lingkungan belajar yang positif.


KONEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

- Copyright © Jejak Aria Winardi - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Aria Winardi -