Guru merupakan seseorang yang
telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan,
dan melatih muridnya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkannya tersebut.
Dalam hal ini, guru tidak hanya mengajarkan pendidikan formal, tapi juga pendidikan
lainnya dan bisa menjadi sosok yang diteladani oleh para muridnya. Lalu, Bagaimana
seorang guru dapat mengelola kelas dan memenuhi kebutuhan belajar
murid-muridnya yang berbeda-beda? Seorang guru harus memerhatikan
banyak hal agar pembelajaran dapat berlangsung optimal dan tujuan pembelajaran
dapat tercapai dengan baik. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah
kebutuhan belajar setiap murid. Untuk menjawab tantangan tersebut,
maka seorang guru harus dapat merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi model
pembelajaran yang tepat.
Ki Hajar Dewantara pernah menyampaikan bahwa maksud dari pendidikan
adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka
sebagai manusia maupun anggota
masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Sebagai pendidik, kita tentu menyadari bahwa setiap anak adalah unik dan
memiliki kodratnya masing-masing. Tugas kita sebagai guru adalah menyediakan
lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan
berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, dan
memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan
bahagia. Setiap murid yang duduk di kelas kita adalah individu yang unik dan
ini seharusnya menjadi dasar dari praktik-praktik pembelajaran yang kita
lakukan di kelas dan di sekolah, serta menjadi kerangka acuan saat mengevaluasi
praktik-praktik pembelajaran kita.
Dengan meyakini bahwa setiap anak adalah unik, maka sebagai pendidik,
kita semua juga tentu harus membuka mata terhadap adanya keberagaman
murid-murid di kelas kita. Melihat betapa luas keberagaman murid-murid kita, maka sebagai guru, kita
perlu berpikir bagaimana caranya kita dapat menyediakan layanan pendidikan yang
memungkinkan semua murid mempunyai kesempatan dan pilihan untuk mengakses apa
yang kita ajarkan secara efektif sesuai dengan kebutuhan mereka. Sebagai
pendidik, dengan meyakini bahwa tugas kita adalah melayani murid-murid dengan
segala keberagaman tersebut serta menyediakan lingkungan dan pengalaman belajar
terbaik bagi mereka. Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk merespon
karakteristik murid-murid yang beragam ini adalah dengan mengimplementasikan
pembelajaran berdiferensiasi.
Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses
pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut
Tomlinson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran
berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon
kebutuhan belajar murid. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian
keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi
kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang
terkait dengan:
1.
tujuan
pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.
2.
kemampuan
guru menanggapi atau merespon
kebutuhan belajar muridnya.
3.
Kemampuan
guru menciptakan lingkungan
belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk
mencapai tujuan belajar yang
tinggi.
4.
Manajemen
kelas yang efektif.
5.
Penilaian
berkelanjutan.
Tomlinson (2001)
dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in
Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat melihat
kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek.
1. Kesiapan Belajar (Readiness)
Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi,
konsep, atau keterampilan baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat
kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka dan memberikan
mereka tantangan, namun dengan
lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat
menguasai materi atau keterampilan baru tersebut. Ada 6 cara untuk membedakan kesiapan belajar;
a.
Bersifat
mendasar -- Bersifat transformatif
b.
Konkret
- Abstrak.
c.
Sederhana
- Kompleks.
d.
Terstruktur
- Terbuka (Open Ended)
e.
Tergantung
(dependent) - Mandiri (Independent)
f.
Lambat
- Cepat
Beberapa murid dengan kemampuan yang baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu bergerak cepat melalui materi yang telah ia kuasai dan diberikan sedikit tantangan. Tetapi di lain waktu, murid yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk mempelajari topik yang lain.
2. Minat Murid
Minat merupakan suatu keadaan
mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek
tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri. Tomlinson (2001: 53),
mengatakan bahwa tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat, diantaranya
adalah sebagai berikut:
a. membantu
murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri
untuk belajar;
b. mendemonstrasikan
keterhubungan antar semua pembelajaran;
c. menggunakan
keterampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide
atau keterampilan yang kurang dikenal atau baru bagi mereka, dan;
d. meningkatkan
motivasi murid untuk belajar.
3. Profil Belajar Murid
Profil Belajar
mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar.
Tujuan dari memperhatikan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar
adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara alami dan
efisien. Sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung
memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri. Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil
belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat
memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka. Profil belajar murid
terkait dengan banyak faktor. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:
a. Preferensi
terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat
kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya terstruktur/tidak
terstruktur, dsb.
b. Pengaruh
Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.
c. Preferensi
gaya belajar.
Gaya belajar adalah bagaimana murid memilih, memperoleh,
memproses, dan mengingat informasi baru.
Secara umum gaya belajar ada tiga, yaitu:
1) visual:
belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, diagram,
power point, catatan, peta konsep, graphic organizer, dsb);
2) auditori:
belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan
keras, mendengarkan pendapat saat
berdiskusi, mendengarkan musik);
3) kinestetik:
belajar sambil melakukan (misalnya sambil bergerak, melakukan kegiatan hands
on, dsb).
Mengingat bahwa murid-murid kita memiliki gaya belajar
yang berbeda-beda, maka penting bagi guru untuk berusaha untuk menggunakan
kombinasi gaya mengajar.
d. Preferensi
berdasarkan kecerdasan majemuk (multiple
intelligences): Teori tentang kecerdasan majemuk
menjelaskan bahwa manusia sebenarnya memiliki delapan kecerdasan berbeda yang
mencerminkan berbagai cara kita berinteraksi dengan dunia. Kecerdasan tersebut
adalah visual-spasial, musical, bodilykinestetik,
interpersonal, intrapersonal, verbal-linguistik, naturalis, logicmatematika.
Pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan
membantu mencapai hasil belajar yang optimal dikarenakan pembelajaran
berdiferensiasi berpihak pada murid, menciptakan lingkungan belajar yang
positif, kolaboratif dan saling menghargai, serta adanya strategi pembelajaran
didasari oleh kebutuhan murid meliputi kesiapan belajar, minat, dan profil
belajar murid. Dalam pembelajaran berdiferensiasi ada tiga strategi
pembelajaran berdiferensiasi yaitu:
1. Diferensiasi
Konten
Adalah
mendiferensiasikan materi pembelajaran kepada murid berdasarkan kebutuhan,
dilihat dari kesiapan belajar murid secara konkret -- abstrak, minat belajar
murid dengan mempersiapkan topik atau materi sesuai minat siswa, profil belajar
siswa sesuai gaya belajar, audio, visual, atau kinestetik.
2. Diferensiasi
Proses
Adalah
usaha untuk membantu murid memahami materi pembelajaran dengan memberi beberapa
kegiatan atau scaffolding sesuai dengan kebutuhan murid.
3. Diferensiasi
Produk
Produk
berupa tagihan atau hasil yang diharapkan dari murid setelah proses
pembelajaran, baik berupa hasil tes, presentasi atau diskusi, pertunjukkan,
pidato, diagram dan lainnya yang mencerminkan pemahaman murid dari tujuan yang
diharapkan dalam pembelajaran.
Dalam pembelajaran berdiferensiasi terlebih dahulu mengidentifikasi
kebutuhan murid yaitu dari kesiapan belajar murid (lambat-cepat, konkret --
abstrak, mandiri - bantuan, minat murid, profil belajar murid yang meliputi
gaya belajar, latar belakang, dan kecerdasan).
Kesiapan belajar murid atau readiness adalah kapasitas untuk mempelajari
materi baru diibaratkan seperti "The Equalizer" dari yang bersifat
mendasar menuju bersifat transformatif, konkret ke abstrak, sederhana ke
kompleks, terstruktur ke terbuka (open-ended), tergantung ke mandiri, dan
lambat menjadi cepat.
Sedangkan dalam minat belajar maka terdapat "Cocokkan" yaitu
mencari kecocokan antara minat murid dengan tujuan pembelajaran,
"Koneksikan" berarti menunjukkan koneksi antar materi pembelajaran,
"Jembatani" yaitu menjembatani pengetahuan awal dengan pengetahuan
baru, dan "Memotivasi" yang memungkinkan tumbuhnya motivasi murid
untuk belajar.
Dalam profil belajar murid maka perlu mengidentifikasi lingkungan
belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah
cahaya, kemudian pengaruh budaya dari santai menjadi terstruktur, pendiam ke
ekspresif, personal ke impersonal, gaya belajar murid juga dengan
mengidentifikasi yaitu bisa visual (belajar dengan melihat), auditori (belajar
dengan mendengarkan), kinestetik ( belajar sambil melakukan), kecerdasan
majemuk (multiple intelegences), visual ke spasial, musical bodily kinestetik,
logic matematika.
Kaitan antarmateri
Pembelajaran Berdiferensiasi dengan modul sebelumnya yaitu :
1. Filosofi
pendidikan KHD pembelajaran berdiferensiasi dapat mewujudkan Merdeka Belajar.
Berdasarkan pemikiran KHD pendidikan adalah menuntun anak sesuai kodrat alam
dan zaman dengan berpihak pada anak sesuai perkembangan minat, bakat dan
potensi anak. Hal ini berkaitan erat dengan pembelajaran berdiferensiasi yang bertujuan
memberikan pembelajaran kepada anak dengan cara memetakan kebutuhan murid
sesuai kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar anak.
2. Kaitan
dengan Nilai dan peran Guru penggerak bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat
mewujudkan Merdeka Belajar apabila guru penggerak telah memiliki nilai guru
penggerak dan menerapkan peran guru penggerak. Nilai guru penggerak meliputi :
mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, berpihak pada murid. Dan peran guru
penggerak meliputi menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas
praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, dan
mewujudkan kepemimpinan murid.
3. Kaitan
dengan visi guru penggerak, seorang guru penggerak tentunya memiliki visi untuk
mewujudkan merdeka belajar yang sesuai profil pelajar Pancasila, dengan
melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada anak yang selaras dengan
pembelajaran berdiferensiasi menyesuaikan kebutuhan belajar anak berdasarkan
kesiapan belajar, minat dan profil belajar murid. Untuk menciptakan
pembelajaran berdiferensiasi guru penggerak harus mampu berkolaborasi dan
mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki oleh sekolah sehingga mampu mendukung
terwujudnya visi dan mendukung perkembangan murid berdasarkan pemetaan
kebutuhan murid.
4. Kaitan
dengan Budaya Positif, Budaya positif adalah perwujudan dari nilai-nilai atau
keyakinan universal yang diterapkan di sekolah. Lingkungan belajar yang
mendukung diferensiasi dibangun dengan menerapkan budaya positif yaitu :
a. Komunitas
belajar setiap orang di dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut oleh
orang lain.
b. Setiap
orang di dalam kelas saling menghargai
c. Murid
merasa aman, menciptakan murid berani dalam mengemukakan pendapat
d. Ada
harapan bagi pertumbuhan yang ditunjukkan murid. Pertumbuhan setiap murid
berbeda-beda walaupun hanya sedikit guru tetap mengapresiasinya.
e. Guru
mengajak murid untuk mencapai kesuksesan, pengalaman belajar mendorong murid
lebih cepat, sedikit melampaui apa yang telah dikuasainya, guru memberikan
dukungan sehingga murid tidak merasa frustasi tetapi mencapai kesuksesan.
f.
Adanya bentuk keadilan dalam bentuk nyata. Semua
murid berhak mendapatkan perlakuan yang sama di dalam kelas.
g. Guru berkolaborasi dengan murid untuk mencapai pertumbuhan dan kesuksesan bersama, adanya tanggung jawab masing-masing agar pembentukan dan tercipta kelas yang efektif. Guru sebagai pemimpin kelas memiliki peran sangat penting dalam mengembangkan lingkungan belajar yang positif.


