Rabu, 29 Agustus 2012
Hening malam tentram, Dingin
seakan berkuasa. Leluasa menggerayangi tubuh manusia yang tak berselimut sampai
menembus ke sela-sela tulang iga yang rapat. Lain yang terpancar dari rumah pak
Ismaya, agak hangat dengan obrolan seriusnya dengan salah satu dari tiga putranya,
Warta.
“Warta, apa kamu tetap
mau melanjutkan niatmu itu ?”. tanya pak Ismaya pada Warta yang terlihat
sedikit menutup matanya seakan berusaha menjemput dunia bahagianya.
Nampak raut tak percaya
dari wajah bapak yang warna mahkota abadinya sudah berubah. Pak Ismaya tinggal
bersama satu anak kandung dan dua anak angkatnya. Sejak 13 tahun silam,
kehidupannya berjalan tanpa ada permaisuri keluarga yang mengurusnya.
“Iya, aku mau melanjutkan
niatku”. Seketika itu pak Ismaya kaget mendengar jawaban dari Warta. Seakan tak
peduli dengan saran-saran yang terus dilontarkan bapaknya.
Pak Ismaya hanya tertegun
dan hanya bisa melihati atap rumah yang menyembunyikan penghuninya, menatap
pancaran lampu yang mulia redup seperti kondisi batinnya. Dilema besar
menggelayuti perasaan pak Ismaya.
“Sudahlah pak, beri aku
izin untuk berangkat besuk pagi-pagi ! aku janji akan pulang setelah dua tahun
! jangan beritahu mereka dulu !”. Dengan penuh keyakinan dan bertubi-tubi
kalimat penuh rayuan diucapkan Warta pada bapaknya.
Semakin berat dilema yang
dirasakan pak Ismaya. Tak mungkin dia memberi ijin pada Warta tanpa ada
persetujuan dari anggota keluarga yang lain. Apalagi kedua saudara angkat Warta
itu tidak tahu sejak awal, kalau Warta ingin menjadi TKI.
"Warta, sebaiknya kamu pikir kembali
niatmu itu ! Menjadi TKI bukan pilihan tepat menurut bapak. Liat dulu pengumuman
lowongan kerja di kantor pos atau baca itu koran yang memuat banyak lowongan
kerja mungkin cocok dengan kemampuanmu ! Dan ingat ini era globalisasi, alias
persaingan bebas. Kamu itu pandai, bapak pikir kamu masih bisa bersaing dengan
orang lain untuk mencari kerja di negeri sendiri”.
“Tapi, aku mau jadi TKI”. Suara lantang keluar
dari kerongkongan putra tercerdas di keluarga pak Ismaya.
Seakan mendapat hantaman keras dari ombak
tsunami, karang hati pak Ismaya untuk membujuk Warta agar tetap cari kerja di
negeri sendiri pun runtuh. Tak kuasa hati pak Ismaya mendengar keteguhan niat
anaknya itu. Mungkin tak ada masalah dari niatan Warta untuk menjadi TKI,
selain untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga, menjadi TKI pun bisa menambah
pendapatan negara. Tapi pak Ismaya ingin anak-anaknya tetap tinggal di
Indonesia.
“kreteeeeek.....”. Suara pintu tak berdaya, terdengar
dari sudut sebuah ruangan di rumah tersebut, tepatnya dari kamar Bagong. Dengan
celana pendek, jaket tebal warna hitam lengkap dengan sarung batik yang
melingkar di leher. Bagong berjalan mendekat ke arah dua orang yang sedang
hangat mengadu argument.
“Ada apa ini, malam-malam mengganggu orang
saja ? War, ada apa, enek opo ? ngomong dibianterne wae, seperti anggota
DPR saja, yang bicaranya lantang dan suangat fals untuk didengar.” Berjalan
dengan mengucek-ucek mata yang masih berat untuk dibelalakan.
Warta mulai gelisah, khawatir, niatnya akan
kandas dengan kedatangan bagong.
“Pikirkan sekali lagi, sebelum kamu menyesal
!”.
Warta terdiam dan beranjak dari tempat
duduknya. “Pokoknya aku tetap berangkat besuk pagi”. Berjalan menuju kamarnya.
“Gubraaaak....” Pintu lapuk itu dihantamkan ke
dinding. Tak lama kemudian, Nalagareng berlari keluar dari kamarnya. Dikiranya
terjadi gempa tektonik yang menidurkan tower tinggi besar yang berada 100 meter
sebelah kanan rumah mereka.
“hahahaha.....ada bus terjun ke jurang Reng.”
Tawa bagong mencairkan suasana, meski di sebelahnya pak Ismaya sedang mengelus
dada. Wajah Gareng semakin bingung, melihat dua sosok yang berbeda ekspresi.
“Ada apa pak ? apa yang terjadi Gong ?”.
dengan nafas yang masih tersengal-sengal, Gareng mencari tahu apa yang
sebenarnya terjadi. “suara apa tadi ? Warta, Warta dimana ?”.
“Reeeng, Gareng, tambah lucu dirimu. Tu, si
Warta yang banting pintu, dia ngambek mungkin minta rabi “. Tawanya masih menggelegar meski saudara dan bapaknya sedang
panik.
“Duh Gusti, nyuwun ngapunten dateng tingkah anak kula ! oalah lee..lee, semoga
kamu cepat sadar dengan apa yang kamu kehendaki !”. Gareng semakin bingung,
mendengar keluhan orang yang sangat dicintainya. Sejenak bagong mulai
mempelankan tawa khasnya, dan mendekat memegang pundak pak Ismaya dengan tangan
gempalnya.
“sebenarnya ada apa pak, hingga sampai hati Bapak
menanggapi kelakuan Warta ? apa yang dia minta ?”. pak Ismaya melihat tak tega
kedua anaknya, sambil memegang tangan bagong yang ada di pundaknya.
“Warta ingin jadi TKI”.
“hehehehe... mau jadi pahlawan devisa ya, dia
? mau berjuang untuk menghidupi keluarga ya dia, sampai harus ngemis ke negara orang lain ? wong, disekolahkan tinggi-tinggi biar
bisa gantikan pak Muhaimin Iskandar jadi menteri, sekarang kok malah ingin jadi
TKI”. Bagong menguatkan keteguhan hati bapaknya yang tidak mau anaknya jadi
TKI.
“Jaga mulutmu !” suara lantang dari balik
pintu yang kesakitan akbitan dibanting tadi menggema ke seluruh penjuru rumah.
Seperti dentangan lonceng di wihara yang terletak jauh di sebelah selatan rumah
mereka, membuat Nalagareng tersadar dengan apa yang terjadi dihadapannya.
Dengan langkah berwibawa, Gareng mendekat ke
kamar Warta. Seakan tak mempedulikan celotehan Bagong yang masih membombardir
telingga Warta, dengan langkah anggun dia sampai tepat di depan pintu kamar.
Diketuklah berulang kali pintu kamar tersebut, berharap penghuninya nampak di
hadapannya. Tak pernah dia pedulikan dengan raut wajah bagaimana penghuni kamar
menghadap, membawa alat apa penghuni kamar berdiri tepat di pelupuk matanya.
“gubraaak...”. akhirnya sosok yang diharapkan
pun keluar dari benteng persembunyiannya. Dengan wajah merah, penuh emosi dan
amarah, semua jemari mengumpul menjadi satu genggaman kokoh. Gareng pun tak
beranjak dari tempatnya berdiri, dengan wajah penuh kesantunan dia memandang
Warta. Seakan Tak ada keinginan menghindar dari wajah yang penuh dengan geram
durja. Tak ada satu kata pun yang dilontarkan keduanya, meski sedang
berhadap-hadapan.
“ceeep...”. Bak Dewa memegang tanduk sang
penggoda manusia, tangan Gareng memegang tangan Warta. Tak ada sama sekali kata
yang diucap Gareng, hanya isyarat mengajak Warta untuk mengikuti langkahnya ke
hadapan Bapaknya. Mereka pun berjalan bergandeng menuju tempat dimana ada satu
sosok yang sangat mereka segani.
Lontaran mortil yang menyesakkan hati Warta
masih terus keluar dari mulut Bagong. Dengan penuh harapan, pak Ismaya menunggu
kedua panglima keluarganya duduk tepat di hadapannya. Tak lama keduanya hadir
dihadapannya, Gareng mempersilahkan Warta untuk duduk berhadap-hadapan dengan
bapaknya. Dia dan Bagong berdiri sedikit mundur di belakang bapaknya.
“jelaskan alasan apa yang membuat kamu ingin
jadi TKI ! biar kita juga tahu, apakah niat kamu itu benar-benar jihad keluarga
atau apa.” Sekali lagi ucapan penuh kritik dilontarkan Bagong, sambil mencari-cari
tempat duduk karena dia tak betah berlama-lama berdiri.
“gedubraaaak...”. memecah konsentrasi semua
pihak yang akan memulai sidang keputusan pemberian atau pelarangan Warta untuk
berangkat menjadi TKI. Semua mata tertuju pada sosok bongsor yang tersungkur dari tempat duduknya.
Penuh sigap Bagong berusaha berdiri dari
lantai “Maaf, aku lupa kalau yang aku duduki ini kursi Sengkuni, jadi begini aku tersungkur. Hehehehehe..”. Tak ada
ekspresi tertawa atau kasihan yang muncul dari anggota lainnya.
“sekarang bicaralah ! jelaskan, apa yang
sebenarnya kamu inginkan ! biar saudara-saudara kamu pun tahu “. Penuh kasih
sayang pak Ismaya membujuk Warta yang terlihat masih tegar mempertahankan
niatnya.
Bagong yang masih kesakitan akibat terjatuh,
masih menggerutu tentang niatan Warta yang dianggapnya tak begitu mampu merubah
rasa kebahagiaan keluarganya saat ini. Meski tiada sosok ibu di tengah-tengah
keluarga itu, namun keluarga tersebut cukuplah bahagia dengan apa yang selama
ini mereka punya.
“sekali lagi aku tegaskan, aku tetap ingin
berangkat besuk pagi. Aku akan ubah nasib kalian menjadi lebih baik dari
sekarang. Kalian pun tak perlu susah-susah membanting tulang lagi, pagi-pagi
berangkat ke sawah, berpanas-panasan menggembala kerbau lagi. Tidur saja di
rumah menunggu kiriman uang dari aku kelak !”. dengan argument yang masuk akal,
Warta mencoba meyakinkan semua orang dalam rumah.
Sejak awal mengetahui niatan Warta, pak Ismaya
pun tetap mempertahankan keyakinannya untuk tidak mengizinkan anaknya menjadi
TKI. Meski pak Ismaya masih menunggu keputusan anggota lainnya untuk
mengeluarkan keputusannya. Begitu pula dengan Bagong, meski masih baru tahu
niatan Warta menjadi TKI, namun sikap Bagong sudah menggambarkan
ketidaksetujuannya terhadap niat Warta. Apalagi selama di rumah, kerjaan Warta hanyalah
duduk-duduk dan bermalas-malasan. Karena sejak kecil, Warta tak pernah
diajarkan untuk membantu ke sawah atau menggembala kerbau oleh Bapak, berbeda
dengan apa yang diajarkan pada Bagong dan Nalagareng.
“Sadarkah dengan apa yang kamu ucapkan ?kamu menyuruh
kami berdiam di rumah untuk menunggu kiriman dari kamu, ingat bisa apa kamu
hingga menyuruh kami menunggu hasil dari sesuatu yang belum jelas apa yang akan
kamu kerjakan”. Bagong tak sepaham dengan apa yang dituturkan Warta.
Jual-beli argumentasi terjadi begitu sengit,
terkadang memancing amarah masing-masing peserta konferensi keluarga. Terasa
seperti rapat anggota DPR yang membahas penggusutan tuntas skandal Bank
Century. Gareng yang masih berdiri di belakang Bapaknya, tak pernah mendapatkan
kesempatan untuk menuturkan pendapat dan sarannya. Nalagareng tak cukup pandai
berbicara namun sangat dihormati oleh saudara-saudaranya.
Malam semakin larut, dedaunan membatu di luar
sana, semak belukar di belakang rumah pun mulai sepi dari aktivitas penghuninya.
Jarum pendek jam dinding sudah bergeser ke angka dua. Belum ada keputusan final
dari kongres dadakan keluarga pak Ismaya.
“Pokoknya aku akan berangkat pagi ini juga.
Terserah kalian mau beri izin atau tidak. Waktuku tak bisa menunggu, aku akan
berangkat tanpa izin kalian pun tak apa. Yang terpenting, niatku baik
menurutku”. Warta kembali beranjak dari tempatnya, dan meninggalkan pak Ismaya
sendiri duduk. Membuat Bagong naik pitam, meloncat dari tepat duduk yang menyungkurkannya
tadi, berniat untuk menghantam Warta. Sebelum sampai tangan gempalnya menerpa
wajah Warta, Bagong tersungkur lagi akibat tertahan sarung yang melingkar di
lehernya ditarik oleh Gareng.
Warta menahan langkahnya dan pasrah akan
terkena bogem dari Bagong. Meski hal itu tak terjadi dikarenakan Bagong telah
tersungkur. Setelah membuat jatuh Bagong, Nalagareng mendekat ke Warta yang
berada tak jauh dari tempat bagong terjatuh.
“coba renungkan kembali niatmu itu ! coba kamu
lihat kami saudara-saudaramu ! kamu pasti bisa mengambil keputusanmu sendiri. Jangan
hanya kamu pikir enaknya saja jadi TKI, tapi juga pikir resikonya !lihat juga
Bapak, yang selama ini mengurusi kita sendirian !apa kamu tega meninggalkan
Bapak sendirian mengarungi sisa masa tugasnya di dunia ?ingat kita tak pernah
tahu, seberapa lama kita bisa melihat orang yang kita sayangi dan menyanyangi
kita. Kami tak pernah melarang apa yang akan kamu lakukan, tapi cobalah
pertimbangkan lagi !”. Nalagareng memberi pertimbangan yang mungkin bisa
merubah sikap Warta.
Seolah puas mendengar ceramah Gareng, Warta
melanjutkan langkahnya menuju kamar. Dengan raut wajah yang penuh beban dan
pertimbangan-pertimbangan, Warta meninggalkan semua anggota kongres dadakan dan
masuk ke kamar.
Sepeninggal Warta yang masuk ke kamar, Bagong
dan pak Ismaya masih perbincangkan keputusan apa yang akan diambil oleh kepala
keluarga. Sedangkan Gareng masih menunggui Warta di depan kamarnya, dengan
harapan akan ada perubahan sikap dari Warta.
“saya
tak akan pernah beri izin Warta untuk menjadi TKI. Tak peduli sikap Warta masih
tetap atau tidak untuk berangkat. Aku masih sangat bahagia di sini, berada di
tengah-tengah kalian berdua. Semoga kalian tak pernah bosan mendampingiku
menjalankan sisa tugasku di dunia”. Beranjak melangkah menuju ke depan pintu kamar
Warta. Dengan penuh kesedihan, pak Ismaya sampai di depan pintu kamar Warta.
Suasana menghening di satu sudut ruangan rumah pak Ismaya, meski alarm dunia
telah berkumandang. Menunggu keputusan apa yang akan diambil Warta, meski Pak
Ismaya dan Bagong sudah satu niatan untuk tak mengizinkan Warta jadi TKI.