Archive for Juni 2014

Terik matahari waktu itu begitu membakar kulit ariku. Sehabis berjalan-jalan di pasar Mojokerto yang berada di jalan Niaga untuk membeli peralatan listrik, aku coba mencari tempat untuk menenggelamkan hawa panas yang hinggap dalam tubuhku. Hingga akhirnya ku putuskan untuk melajukan kendaraan menuju tempat makan yang biasanya ku kunjungi bersama temanku.
Suasana yang tak biasa ketika aku berkunjung ke tempat itu telah menyambutku. Sepi, hanya ada beberapa orang yang telah mengisi tempat duduk yang disediakan yang punya warung. Setelah memarkir kendaraan, segera aku melaju ke gerobak Si pedagang untuk memesan makanan, seperti biasa mie ayam dan segelas es jeruk.
“Mbak, mie ayam tanpa bakso satu dan es jeruknya.” Pintaku kepada penjual.
“Iya mas, duduk dalam atau di luar?” Penjual bertanya balik kepadaku.
“Dalam mbak, sekalian ngadem.” Jawab singkatku.
Segera setelah memesan makanan, aku menuju tempat yang aku pesankan kepada penjual, agar beliaunya tahu dimana aku duduk nantinya. Ku pandangi berulang kali sudut-sudut ruangan yang ada dua meja rendah berukuran panjang tampak begitu bersih. Ku hadapkan badan ini tepat mengarah ke muka kipas angin yang berputar, untuk mengurangi gerah yang menjalar di tubuh ini.
“Tak seperti biasanya tempat ini, jam sesiang ini meja itu masih tampak putih?”  Aku bertanya dalam pikirku.
Lebih sepuluh menit aku duduk di ruangan itu sendirian, pesananku belum juga dikirimkan. Suhu badanku juga mulai terasa mengering dan tak sepanas lagi. Tapi apa yang aku pesan dari tadi tak kunjung tampak dihadapanku.
“Sepi, ramai, sama saja, pelayanan di sini sangat lambat”. Gumamku tak mampu menahan lapar.
Masih dalam keadaan mendongkol, ku coba untuk menengkok ke tempat si penjual. Ternyata si penjual tak ada di tempat, entah kemana perginya. Tak begitu lama ada sepasang muda-mudi yang masih lengkap berseragam pramuka masuk ke tempat dimana aku duduk sendirian.
“Ini mas, mie ayam dan es jeruknya”. Penjual meletakkan hidangan pesananku di atas meja rendah.
“Iya mbak, terima kasih”. Jawab singkat dengan senyum kecilku.
Tak lama penjual meninggalkan ruangan. Aku segera melengkapi mie ayamku dengan bumbu-bumbu yang telah disediakan penjual di atas meja. Mulai, dari saos hingga kecap manis ku tuangkan ke dalam mangkok sesuai dengan seleraku. Dua remaja yang duduk tepat di depanku, masih terlihat asyik bermain handphone masing-masing.
“Mari mbak, mas, makan dulu”. Ucapku ke kedua remaja itu sebelum aku menhabiskan makanan.
“Iya, mas silahkan!” keduanya membalas secara bersamaan.
Segeraku mulai menaklukkan hawa lapar dan panas di tubuhku dengan dua senjata andalanku itu. Dengan perlahan ku coba menikmati hidanganku. Masih terlihat kedua remeja itu bercengkrama manja di depanku. Seperti aku dan dirinya saja kedua remeja itu, pikirku teringat akan keberadaannya.
“Tadi di kelas kamu kok rame banget .ada apa?” tanya si cowok itu kepada si ceweknya, yang membuat daun telingaku bergetar ingin mengetahuinya.
“Oohh… tadi Mitha ulang tahun, disiram teman-teman dengan air campuran tepung”. Jawab si cewek yang masih asyik bermain handphone di pangkuannya.
Aku yang sedang asyik menikmati hidangan, sesekali menengadahkan kepalaku. Bukan karena ingin melihat kedua remaja itu, tapi untuk menahan air hidung yang terasa mengalir akibat kepedasan. Namun, seketika itu pula aku bisa melihat ekspresi kedua remaja tersebut.
Meski sesekali aku harus mengusap hidungku dengan tissu, tugas menghilangkan laparku pun berakhir. Mungkin kesalahan pencampuran sambal dan sausnya sehingga pedasnya begitu terasa. Namun, masih ada es jeruk untuk menghilangkan pedas ini, pikirku.
“Kamu marah ya?” Tanya si cowok kepada ceweknya yang tak sengaja aku dengar.
“Enggak, kenapa juga marah?”. Timpal cewek itu dengan singkat.
“Ya mungkin karena kejadian kamis kemarin di kantin.”
“Kejadian apa di kantin ? aku ndak lihat.” Si cewek masih asyik menunduk memainkan handphonenya.
“Karena aku duduk sama Shela?” Si cowok terus mencoba mengejar agar si cewek mengaku kalau marah.
Aneh memang, ketika seseorang sudah berkata “tidak marah” harusnya kan disyukuri saja tak perlu mencari cara lain hanya untuk membuat orang mengaku dan berkata “marah”. Sambilku nikmati hembusan kipas angin, pikiranku melayang.
“Oohh…itu, kenapa juga marah. Kamu duduk sama siapa pun terserah kamu.” Jawab si cewek yang kali ini mengangkat wajahnya dan tepat berhadapan ke muka ku.
Seketika itu, aku menyembunyaikan wajahku. Bukan karena takut, melainkan malu dipandangi seorang Cewek.hehehehe…. merasa GR sendiri.
“Aku pun sering kok duduk bersanding sama cowok lain di kelas”. Lanjut si cewek
“Tapi ini kan beda sayang, aku duduknya sama Shela”. Terus mencoba mendapatkan jawaban pasti dari si cewek.
Semakin seru nich kedua remaja bercengkrama, pikirku. Yang satu sudah bilang tidak marah, satunya ingin membuktikan bahwa si cewek marah. Aduh…aduh…. Ada….ada…. saja tingkah remaja.
“Kamu sayang aku kan?” pertanyaan normatif terlontar dari si cowok.
“Ya sayanglah, kalo ndak sayang kenapa juga aku mau diajak ke sini”. Jawab si cewek yang kali ini tatapannya tak mengarah ke muka ku tapi jauh menyebrang ke jalan di seberang warung makan.
Lama mereka berdebat mencari pengakuan dan munculnya kata “MARAH”, selama itu pula hidangan mereka tak kunjung datang. Apa mereka ke tempat ini hanya sekedar duduk-duduk saja? Pikirku. Si cewek kembali lagi mengarahkan pandangannya ke handphone yang dipangkunya. Sesekali dia seperti mengetik sms, tapi entah dengan siapa.
“Kalo kamu sayang, ngaku dong kalau kamu marah?” terus bertanya si cowok kepada si cewek.
“Aduhh….. begitu berharganya ya, kata “MARAH” untuk si cowok ini. Sudah tahu si cewek tidak marah, tapi malah ditanya untuk marah.” Gumamku sendiri sambil menggelengkan kepala.
“Kamu ini aneh ya, aku kan sudah bilang tidak marah. Kenapa memaksa aku untuk bilang “MARAH”. Kali ini si cewek menjawab dengan nada sedikit meninggi di atas Notasi “La”.
“Ya, aku hanya ingin memastikan saja apa kamu benar-benar tidak marah. Begitu saja.” Jawab si cowok dengan volume suara sedikit keras dan sedikit melirik ke arahku.
“Kan, aku sudah bilang, sudah dua kali pula aku menjawab “Tidak Marah”. Apa itu kurang cukup?”  Jawab si cewek sambil memasukkan handphonenya ke dalam tas.
Aku yang berada tepat dihadapan mereka, semakin menyembunyaikan raut wajahku hingga mereka tak merasa malu terhadapku, pikirku. Hidangan mereka pun telah disajikan di atas meja oleh entah pelayan yang mana yang mengantarkan. Mereka diamkan saja hidangan itu mengepul assap panas baksonya.
“Bukan masalah cukup atau tidak cukup, tapi…..” si cowok ingin menjelaskan namun tak tuntas.
“Tapi…tapi apa? Kamu mau aku menjawab dengan kata “MARAH”? “ Sahut si cewek, yang terlihat sudah selesai merapikan bawaanya.
“Oke, ya aku MARAH dengan kamu. Bukan karena kamu duduk dengan Shela, melainkan keegoisanmu bertanya hal sepele ini. Dan ingat, aku bukanlah cewek pencemburu seperti apa yang ada di dalam otakmu. Kamu duduk dengan Shela kek, Marni, Vega, Agnes, Janet, atau cewek mana pun terserah. Karena itu hak kamu.” Lanjut si cewek yang membuat si cowok tertegun dengan jawaban ceweknya.
Aku yang masih duduk dihadapan mereka, hanya bisa tersenyum melihat si cowok berhasil mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Hidangan mereka pun juga masih setia menunggu untuk dihabiskan. Si cewek kembali melihat ke luar warung makan, dan terlihat seorang cowok berseragam pramuka menunggang sepeda motor besar warna merah kombinasi hitam dengan mesin masih hidup di depan warung.
“Sudah, puas kamu dengan jawabanku. Kalau kamu kurang puas, dengarkan ini ! mulai hari ini kamu tidak usah menghubungi aku lagi, dan kamu sudah tak usah susah payah mencari kebenaran aku marah atau tidak”. Jawab si cewek dan segera berdiri.
Si cowok kini merasa menyesal, dengan apa yang dia tanyakan. Tak bergerak, melihat si cewek bangkit dari tempat duduknya. Hanya bisa mengikuti langkah kaki si cewek menjauh dari hadapannya. Mungkin yang lebih memuaskan si cowok adalah si cewek melangkahkan kakinya ke arah cowok penunggang sepeda motor besar yang sedari tadi berdiam di depan warung bakso.
Aku pun segera bangkit dari tempat duduk,bukan untuk menyusul atau mengikuti langkah si cewek tadi melainkan jam dudukku sudah habis. Namun pertanyaan dalam pikiranku kembali muncul, kira-kira siapa yang menemani si cowok menghabiskan dua mangkok Bakso yang telah dia pesan ya???
Sesuatu kejadian yang mengesankan. Hanya karena ingin mendapatkan kata MARAH, seorang cowok harus merelakan pujaannya hilang dari hadapannya.
****Sampun, TAMAT****
*****

Ø  NB : Cerita ini hanyalah fiksi, jika ada kemiripan dengan nama pelaku serta tingkah laku pikiran kami mohon maaf. Karena ini semua hnya “JUS PUDING” (Just Kidding.red)

Cerpen "MARAH"

- Copyright © Jejak Aria Winardi - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Aria Winardi -