Selasa, 17 Juni 2014
Terik
matahari waktu itu begitu membakar kulit ariku. Sehabis berjalan-jalan di pasar
Mojokerto yang berada di jalan Niaga untuk membeli peralatan listrik, aku coba
mencari tempat untuk menenggelamkan hawa panas yang hinggap dalam tubuhku.
Hingga akhirnya ku putuskan untuk melajukan kendaraan menuju tempat makan yang
biasanya ku kunjungi bersama temanku.
Suasana
yang tak biasa ketika aku berkunjung ke tempat itu telah menyambutku. Sepi,
hanya ada beberapa orang yang telah mengisi tempat duduk yang disediakan yang
punya warung. Setelah memarkir kendaraan, segera aku melaju ke gerobak Si
pedagang untuk memesan makanan, seperti biasa mie ayam dan segelas es jeruk.
“Mbak,
mie ayam tanpa bakso satu dan es jeruknya.” Pintaku kepada penjual.
“Iya
mas, duduk dalam atau di luar?” Penjual bertanya balik kepadaku.
“Dalam
mbak, sekalian ngadem.” Jawab
singkatku.
Segera
setelah memesan makanan, aku menuju tempat yang aku pesankan kepada penjual,
agar beliaunya tahu dimana aku duduk nantinya. Ku pandangi berulang kali
sudut-sudut ruangan yang ada dua meja rendah berukuran panjang tampak begitu
bersih. Ku hadapkan badan ini tepat mengarah ke muka kipas angin yang berputar,
untuk mengurangi gerah yang menjalar di tubuh ini.
“Tak
seperti biasanya tempat ini, jam sesiang ini meja itu masih tampak putih?” Aku bertanya dalam pikirku.
Lebih
sepuluh menit aku duduk di ruangan itu sendirian, pesananku belum juga
dikirimkan. Suhu badanku juga mulai terasa mengering dan tak sepanas lagi. Tapi
apa yang aku pesan dari tadi tak kunjung tampak dihadapanku.
“Sepi,
ramai, sama saja, pelayanan di sini sangat lambat”. Gumamku tak mampu menahan
lapar.
Masih
dalam keadaan mendongkol, ku coba untuk menengkok ke tempat si penjual.
Ternyata si penjual tak ada di tempat, entah kemana perginya. Tak begitu lama
ada sepasang muda-mudi yang masih lengkap berseragam pramuka masuk ke tempat
dimana aku duduk sendirian.
“Ini
mas, mie ayam dan es jeruknya”. Penjual meletakkan hidangan pesananku di atas
meja rendah.
“Iya
mbak, terima kasih”. Jawab singkat dengan senyum kecilku.
Tak
lama penjual meninggalkan ruangan. Aku segera melengkapi mie ayamku dengan
bumbu-bumbu yang telah disediakan penjual di atas meja. Mulai, dari saos hingga
kecap manis ku tuangkan ke dalam mangkok sesuai dengan seleraku. Dua remaja
yang duduk tepat di depanku, masih terlihat asyik bermain handphone
masing-masing.
“Mari
mbak, mas, makan dulu”. Ucapku ke kedua remaja itu sebelum aku menhabiskan
makanan.
“Iya,
mas silahkan!” keduanya membalas secara bersamaan.
Segeraku
mulai menaklukkan hawa lapar dan panas di tubuhku dengan dua senjata andalanku
itu. Dengan perlahan ku coba menikmati hidanganku. Masih terlihat kedua remeja
itu bercengkrama manja di depanku. Seperti aku dan dirinya saja kedua remeja
itu, pikirku teringat akan keberadaannya.
“Tadi
di kelas kamu kok rame banget .ada
apa?” tanya si cowok itu kepada si ceweknya, yang membuat daun telingaku
bergetar ingin mengetahuinya.
“Oohh…
tadi Mitha ulang tahun, disiram teman-teman dengan air campuran tepung”. Jawab
si cewek yang masih asyik bermain handphone di pangkuannya.
Aku
yang sedang asyik menikmati hidangan, sesekali menengadahkan kepalaku. Bukan
karena ingin melihat kedua remaja itu, tapi untuk menahan air hidung yang
terasa mengalir akibat kepedasan. Namun, seketika itu pula aku bisa melihat
ekspresi kedua remaja tersebut.
Meski
sesekali aku harus mengusap hidungku dengan tissu,
tugas menghilangkan laparku pun berakhir. Mungkin kesalahan pencampuran sambal
dan sausnya sehingga pedasnya begitu terasa. Namun, masih ada es jeruk untuk
menghilangkan pedas ini, pikirku.
“Kamu
marah ya?” Tanya si cowok kepada ceweknya yang tak sengaja aku dengar.
“Enggak,
kenapa juga marah?”. Timpal cewek itu dengan singkat.
“Ya
mungkin karena kejadian kamis kemarin di kantin.”
“Kejadian
apa di kantin ? aku ndak lihat.” Si cewek masih asyik menunduk memainkan
handphonenya.
“Karena
aku duduk sama Shela?” Si cowok terus mencoba mengejar agar si cewek mengaku
kalau marah.
Aneh
memang, ketika seseorang sudah berkata “tidak marah” harusnya kan disyukuri
saja tak perlu mencari cara lain hanya untuk membuat orang mengaku dan berkata
“marah”. Sambilku nikmati hembusan kipas angin, pikiranku melayang.
“Oohh…itu,
kenapa juga marah. Kamu duduk sama siapa pun terserah kamu.” Jawab si cewek
yang kali ini mengangkat wajahnya dan tepat berhadapan ke muka ku.
Seketika
itu, aku menyembunyaikan wajahku. Bukan karena takut, melainkan malu dipandangi
seorang Cewek.hehehehe…. merasa GR sendiri.
“Aku
pun sering kok duduk bersanding sama cowok lain di kelas”. Lanjut si cewek
“Tapi
ini kan beda sayang, aku duduknya sama Shela”. Terus mencoba mendapatkan
jawaban pasti dari si cewek.
Semakin
seru nich kedua remaja bercengkrama,
pikirku. Yang satu sudah bilang tidak marah, satunya ingin membuktikan bahwa si
cewek marah. Aduh…aduh…. Ada….ada…. saja tingkah remaja.
“Kamu
sayang aku kan?” pertanyaan normatif terlontar dari si cowok.
“Ya
sayanglah, kalo ndak sayang kenapa
juga aku mau diajak ke sini”. Jawab si cewek yang kali ini tatapannya tak
mengarah ke muka ku tapi jauh menyebrang ke jalan di seberang warung makan.
Lama
mereka berdebat mencari pengakuan dan munculnya kata “MARAH”, selama itu pula
hidangan mereka tak kunjung datang. Apa mereka ke tempat ini hanya sekedar
duduk-duduk saja? Pikirku. Si cewek kembali lagi mengarahkan pandangannya ke
handphone yang dipangkunya. Sesekali dia seperti mengetik sms, tapi entah
dengan siapa.
“Kalo
kamu sayang, ngaku dong kalau kamu
marah?” terus bertanya si cowok kepada si cewek.
“Aduhh…..
begitu berharganya ya, kata “MARAH” untuk si cowok ini. Sudah tahu si cewek
tidak marah, tapi malah ditanya untuk marah.” Gumamku sendiri sambil
menggelengkan kepala.
“Kamu
ini aneh ya, aku kan sudah bilang tidak marah. Kenapa memaksa aku untuk bilang
“MARAH”. Kali ini si cewek menjawab dengan nada sedikit meninggi di atas Notasi
“La”.
“Ya,
aku hanya ingin memastikan saja apa kamu benar-benar tidak marah. Begitu saja.”
Jawab si cowok dengan volume suara sedikit keras dan sedikit melirik ke arahku.
“Kan,
aku sudah bilang, sudah dua kali pula aku menjawab “Tidak Marah”. Apa itu
kurang cukup?” Jawab si cewek sambil
memasukkan handphonenya ke dalam tas.
Aku
yang berada tepat dihadapan mereka, semakin menyembunyaikan raut wajahku hingga
mereka tak merasa malu terhadapku, pikirku. Hidangan mereka pun telah disajikan
di atas meja oleh entah pelayan yang mana yang mengantarkan. Mereka diamkan
saja hidangan itu mengepul assap panas baksonya.
“Bukan
masalah cukup atau tidak cukup, tapi…..” si cowok ingin menjelaskan namun tak
tuntas.
“Tapi…tapi
apa? Kamu mau aku menjawab dengan kata “MARAH”? “ Sahut si cewek, yang terlihat
sudah selesai merapikan bawaanya.
“Oke,
ya aku MARAH dengan kamu. Bukan karena kamu duduk dengan Shela, melainkan
keegoisanmu bertanya hal sepele ini. Dan ingat, aku bukanlah cewek pencemburu
seperti apa yang ada di dalam otakmu. Kamu duduk dengan Shela kek, Marni, Vega, Agnes, Janet, atau
cewek mana pun terserah. Karena itu hak kamu.” Lanjut si cewek yang membuat si
cowok tertegun dengan jawaban ceweknya.
Aku
yang masih duduk dihadapan mereka, hanya bisa tersenyum melihat si cowok
berhasil mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Hidangan mereka pun juga masih
setia menunggu untuk dihabiskan. Si cewek kembali melihat ke luar warung makan,
dan terlihat seorang cowok berseragam pramuka menunggang sepeda motor besar
warna merah kombinasi hitam dengan mesin masih hidup di depan warung.
“Sudah,
puas kamu dengan jawabanku. Kalau kamu kurang puas, dengarkan ini ! mulai hari
ini kamu tidak usah menghubungi aku lagi, dan kamu sudah tak usah susah payah
mencari kebenaran aku marah atau tidak”. Jawab si cewek dan segera berdiri.
Si
cowok kini merasa menyesal, dengan apa yang dia tanyakan. Tak bergerak, melihat
si cewek bangkit dari tempat duduknya. Hanya bisa mengikuti langkah kaki si
cewek menjauh dari hadapannya. Mungkin yang lebih memuaskan si cowok adalah si
cewek melangkahkan kakinya ke arah cowok penunggang sepeda motor besar yang
sedari tadi berdiam di depan warung bakso.
Aku
pun segera bangkit dari tempat duduk,bukan untuk menyusul atau mengikuti
langkah si cewek tadi melainkan jam dudukku sudah habis. Namun pertanyaan dalam
pikiranku kembali muncul, kira-kira siapa yang menemani si cowok menghabiskan
dua mangkok Bakso yang telah dia pesan ya???
Sesuatu
kejadian yang mengesankan. Hanya karena ingin mendapatkan kata MARAH, seorang
cowok harus merelakan pujaannya hilang dari hadapannya.
****Sampun,
TAMAT****
*****
Ø NB : Cerita ini
hanyalah fiksi, jika ada kemiripan dengan nama pelaku serta tingkah laku
pikiran kami mohon maaf. Karena ini semua hnya “JUS PUDING” (Just Kidding.red)