Minggu, 20 Juli 2014

Senyum merah terlukis indah di balik awan hari sabtu. Sang surya pun mulai berbagi tempat dengan rembulan. Suasana mulai ramai di tengah alun-alun kota Mojokerto. Bedug magrib telah dipukul oleh pak tua.
“Alhamdulillah, waktu berbuka telah tiba” seru bagas menyambut datangnya suara muadzin yang berkumandang.
Air minum yang disiapkan penggurus masjid pun memjadi buruan para jama’ah. Silih berganti para jama’ah mengambil air minum untuk membatalkan puasanya. Suasana yang begitu akrab terjadi di teras masjid sebelah barat alun-alun. Parkiran pun mulai meluap. Hari itu, minggu pertama bulan puasa Ramadhan pada tahun 2007.
*****
“lho, Bagas dari mana?kok tumben magrib-magrib ada di sini?” pertanyaan yang membuyarkan angan Bagas seketika itu.
“Assalamu’alaikum Dedi, oalah.. aku dari kerja tadi, terus mampir muter-muter di alun-alun sambil nunggu magrib. Maklum anak muda”. Disertai ketawa yang bersahabat.
Dedi dan Bagas merupakan teman lama ketika sekolah di sebuah sekolah swasta kota Mojokerto. Agak aneh memang, Bagas yang rumahnya berada jauh di sebelah utara kota bisa Shalat magrib di masjid dekat rumah Dedi yang tepat berada dibelakang Masjid. Obrolan pun terjadi antara dua sahabat yang lama tak bertemu itu.
“Sekarang kerja dimana kamu ?” tanya Dedi melanjutkan obrolan.
“Aku kerja di pabrik daerah Driyorejo, baru kok aku kerja di sana”
“dulu sempat sih, kerja di pabrik sepatu di daerah Tropodo.” Jawab Bagas sembari membetulkan tali sepatunya.
“Ayo mampir ke rumah, kita buka puasa bareng!” Dedi menawarkan sambil berdiri mengulurkan tangannya
“Terima Kasih,lain waktu saja aku juga buru-buru mau pulang kok” jawab Bagas
“Ya sudah, kapan-kapan mampir ya!dekat kok rumahku” sambil berlalu meninggalkan Bagas yang kebetulan mengambil sepeda motornya.
Suasana mulai ramai. Parkir sepeda motor di depan masjid semakin penuh. Para penjajah kuliner pun sudah memasuki lapangan besar di tengah kota Mojokerto. Bagas menuntun Sepeda motornya menjauh dari parkiran dalam halaman masjid.
“Ehhhh.....” suara yang masuk ke telingganya yang baru saja tertutup oleh helm, mengagetkan Bagas.
“oh, maaf mbak tidak sengaja” spontan Bagas menjawab suara halus tadi.
Bagas menyalakan mesin sepeda motornya dan bersiap melanjutkan perjalanannya. Bukan menuju arah pulang, Bagas berputar arah ke arah selatan jalan Mojopahit. Dipacunya kuda besi itu dengan pelan, sembari menikmati pemandangan yang disajikan toko yang berderet panjang ke selatan.
“kayaknya aku kenal dengan perempuan tadi. Tapi apa iya dia ? Mungkin juga iya,kata teman-teman, dia sekerang sedang kuliah di PPNI Mojokerto. Ah, minggu depan aku coba tungguin lagi dia di masjid. Kalo emang Tuhan berkehendak pasti ketemu”. Gumam Bagas, sepanjang jalan menyelusuri pertokoan Mojopahit dengan Sepeda motor sport warna hitam bergaris kuningnya.
*****
Hari yang terik di minggu kedua bulan puasa tahun itu. Sirine pabrik mengaung dengan garangnya. Para penghuninya mulai mengantri di depan kantor bagiannya masing-masing untuk mengambil gaji mingguannya. Suasana riuh penuh canda dengan wajah sumingrah tergambar jelas siang itu tepat pukul 14.30. Persis seperti itulah suasana hati Bagas siang itu. Selain menerima gajinya, Bagas juga sangat menanti hari sabtu itu karena ada misi yang harus dilaksanakannya tak lain adalah menunggu dan bertemu perempuan berkerudung di teras masjid Al-Fattah Mojokerto.
Ada yang aneh memang dengan tingkah Bagas waktu itu, dia tak lagi berhenti sejak bersama teman-teman kerjanya untuk bercanda dan bercengkrama di warung depan pabrik. Dia langsung mengambil motor sportnya dan bergegas pulang.
“Gas, sini dulu lah kenapa buru?” teriak Feri mencoba menghentikan laju Bagas.
Bagas hanya memnjawab seruan itu dengan membunyikan klakson sepedamotornya. Dilajukannya kendaraannya itu dengan cepat menyusuri jalanan Driyorejo yang tampak mulai macet, karena banyak orang keluar dari tempat mereka bekerja.
Jalan besar yang dipilih Bagas agar cepat sampai tujuannya. Lebih dari setengah jam dia sampai di depan mulut jembatan besar pembuka kota Mojokerto. Tersendat sebentar tiga lampu di perempatan Gajah Mada. Sign kanan dinyalakan, bertanda arah ke pusat kota.
Para jama’ah ashar satu per satu meninggalkan gedung megah, tampak tempat parkir yang lenggang. Suara merdu pendarus sangat lembut membelai rongga telingganya, perlahan dia tuntun sepeda motornya memasuki halaman masjid Al-Fattah. Hanya terdapat tiga sepeda motor yang berjajar, sepeda matic biru, sepeda angin dan sepeda motor milik Bagas. Selepas meletakkan sepeda motornya dia berlalu menuju tempat pensucian.
“tumben sepi hari ini”. Bergumam dia melewati kolam air kecil menuju pensucian.
***********************
“Alhamdulillah....” serunya.
Melepaskan penat kerja, serta peluh raganya. Berlalu menuju teras depan yang berlantai keramik marmer yang menambah rasa dingin nyaman lantai Masjid ini. Ditentengnya tas kerja yang berisi pakaian kerjanya. Sungguh rasa nyaman dan damai hatinya.
Dari kejauhan masih tampak tiga kendaraan terparkir rapi. Dipandangi lama ketiga kendaraan itu. Semakin lama, semakin jelas ia memandangi. Menggurat kening, memicingkan penglihatannya.
“Sepertinya, aku kenal sepeda itu?” tanyanya
“Iya sepeda itu”
“Itu pasti dia”

semakin yakin dia akan bertemu dengan gadis itu. Segera ia pakai sepasang sepatunya. Merunduk mengikat tali untuk menuju arah patrinya.

“Bagas!” suara yang tak asing memanggil namanya

belum selesai mengikta tali, bagas tak hiraukan suara yang memanggil. Masih dalam keadaan merunduk. Mengencangkan tali dan berlalu meninggalkan teras sejuk.

“Hay, Bagas!” untuk kedua kalinya suara itu menembus telingganya

semakin menjauh bagas berlalu. Namun ada yang aneh dalam hatinya, mulai merasa ada yang memanggil. Tapi bukan memanggilku, batinnya berkata. Dia pandangi dalam-dalam matic biru itu, semakinm tajam dan jelas ingatannya. Sepeda motor yang sempat ia senggol minggu kemarin dikendarai seorang gadis berbaju serba putih.

“Kenapa mas, memandangi sepeda saya?” dari belakang suara itu mengagetkan Bagas

seketika itu pula Bagas memalingkan pandangannya ke sumber suara yang mengegetkannya.

“Lhoo?”
“Tu kan, kamu Bagas ?” menambah suaranya si Gadis berkerudung cokelat tampak lebih ceria

“Dewii.....?” Bagas tak percaya yang diliat adalah teman semasa SMP.
Masih tak percaya dengan apa yang dialaminya. Bertemu dengan gadis ynag sempat menjadi pengisi hatinya kala waktu akhir SMP. Gadis berkerudung munggil yang sering diganggunya kala itu. Kini berubah menjadi gadis berkerudung nan anggun, cantik.

“Jadi, yang memanggil tadi kamu Wi?” tanya Bagas.
“Halah, kamu saja yang sudah lupa sama aku” sedikit ngambek gadis itu.

“Maaf Dewi, saya kira tadi aku berhalusinasi. Soalnya tadi hanya berpikir mencari si empunya sepeda motor ini”
“Berarti yang aku senggol sabtu lalu, kamu?” tambah Bagas.
“Uhh...Iya, dasar!” sembari mencubit lengan Bagas. “setelah kejadian itu, aku manggil kamu, tapi kamunya ndak respon”. Dewi memasang wajah jutek manjanya.
“Hehehehe..... ternyata kamu juga mengejarku” Goda Bagas.
“Kamu juga kan, mencari Si punya sepeda motor ini?” balik menggoda
“Emang kalau.......” Belum sampat melanjutkan kata-katanya, Dewi sudah melanjutkan Frase yang ingin diucapkan Bagas.
“Jodoh itu ndak akan tertukar dan pasti ketemu”. Tertawa riang kedaunya
“Eh, kamu mau kemana?” Tanya Dewi.
“Mau pulang, kan sudah ketemu siapa pemiliknya” tertawa Bagas menggoda Dewi.
“Lha, masak udah ketemu kok malah ditinggal pulang” kembali ngambek manja
“Hehehe...emangnya mau aku ajak jalan-jalan dan cari makan?” tanya Bagas dengan ramahnya
“Ya itu yang aku tunggu. Hihihihi” kembali ceria...
“Siap Bu Perawat” sambil meletakkan jemarinya di keningnya layaknya penghormatan kepada komandan.
Kedua teman mas SMP itu pun bersama-sama berlalu meninggalkan masjid Al-Fattah, berkeliling kota mojokerto sembari menunggu waktu berbuka puasa datang.
******THE END*****

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Jejak Aria Winardi - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Aria Winardi -