Senyum merah terlukis indah di balik awan hari sabtu. Sang surya pun
mulai berbagi tempat dengan rembulan. Suasana mulai ramai di tengah
alun-alun kota Mojokerto. Bedug magrib telah dipukul oleh pak tua.
“Alhamdulillah, waktu berbuka telah tiba” seru bagas menyambut datangnya suara muadzin yang berkumandang.
Air
minum yang disiapkan penggurus masjid pun memjadi buruan para jama’ah.
Silih berganti para jama’ah mengambil air minum untuk membatalkan
puasanya. Suasana yang begitu akrab terjadi di teras masjid sebelah
barat alun-alun. Parkiran pun mulai meluap. Hari itu, minggu pertama
bulan puasa Ramadhan pada tahun 2007.
*****
“lho, Bagas dari mana?kok tumben magrib-magrib ada di sini?” pertanyaan yang membuyarkan angan Bagas seketika itu.
“Assalamu’alaikum
Dedi, oalah.. aku dari kerja tadi, terus mampir muter-muter di
alun-alun sambil nunggu magrib. Maklum anak muda”. Disertai ketawa yang
bersahabat.
Dedi dan Bagas merupakan teman lama ketika sekolah di
sebuah sekolah swasta kota Mojokerto. Agak aneh memang, Bagas yang
rumahnya berada jauh di sebelah utara kota bisa Shalat magrib di masjid
dekat rumah Dedi yang tepat berada dibelakang Masjid. Obrolan pun
terjadi antara dua sahabat yang lama tak bertemu itu.
“Sekarang kerja dimana kamu ?” tanya Dedi melanjutkan obrolan.
“Aku kerja di pabrik daerah Driyorejo, baru kok aku kerja di sana”
“dulu sempat sih, kerja di pabrik sepatu di daerah Tropodo.” Jawab Bagas sembari membetulkan tali sepatunya.
“Ayo mampir ke rumah, kita buka puasa bareng!” Dedi menawarkan sambil berdiri mengulurkan tangannya
“Terima Kasih,lain waktu saja aku juga buru-buru mau pulang kok” jawab Bagas
“Ya sudah, kapan-kapan mampir ya!dekat kok rumahku” sambil berlalu meninggalkan Bagas yang kebetulan mengambil sepeda motornya.
Suasana
mulai ramai. Parkir sepeda motor di depan masjid semakin penuh. Para
penjajah kuliner pun sudah memasuki lapangan besar di tengah kota
Mojokerto. Bagas menuntun Sepeda motornya menjauh dari parkiran dalam
halaman masjid.
“Ehhhh.....” suara yang masuk ke telingganya yang baru saja tertutup oleh helm, mengagetkan Bagas.
“oh, maaf mbak tidak sengaja” spontan Bagas menjawab suara halus tadi.
Bagas
menyalakan mesin sepeda motornya dan bersiap melanjutkan perjalanannya.
Bukan menuju arah pulang, Bagas berputar arah ke arah selatan jalan
Mojopahit. Dipacunya kuda besi itu dengan pelan, sembari menikmati
pemandangan yang disajikan toko yang berderet panjang ke selatan.
“kayaknya
aku kenal dengan perempuan tadi. Tapi apa iya dia ? Mungkin juga
iya,kata teman-teman, dia sekerang sedang kuliah di PPNI Mojokerto. Ah,
minggu depan aku coba tungguin lagi dia di masjid. Kalo emang Tuhan
berkehendak pasti ketemu”. Gumam Bagas, sepanjang jalan menyelusuri
pertokoan Mojopahit dengan Sepeda motor sport warna hitam bergaris
kuningnya.
*****
Hari yang terik di minggu kedua bulan puasa tahun
itu. Sirine pabrik mengaung dengan garangnya. Para penghuninya mulai
mengantri di depan kantor bagiannya masing-masing untuk mengambil gaji
mingguannya. Suasana riuh penuh canda dengan wajah sumingrah tergambar
jelas siang itu tepat pukul 14.30. Persis seperti itulah suasana hati
Bagas siang itu. Selain menerima gajinya, Bagas juga sangat menanti hari
sabtu itu karena ada misi yang harus dilaksanakannya tak lain adalah
menunggu dan bertemu perempuan berkerudung di teras masjid Al-Fattah
Mojokerto.
Ada yang aneh memang dengan tingkah Bagas waktu itu, dia
tak lagi berhenti sejak bersama teman-teman kerjanya untuk bercanda dan
bercengkrama di warung depan pabrik. Dia langsung mengambil motor
sportnya dan bergegas pulang.
“Gas, sini dulu lah kenapa buru?” teriak Feri mencoba menghentikan laju Bagas.
Bagas
hanya memnjawab seruan itu dengan membunyikan klakson sepedamotornya.
Dilajukannya kendaraannya itu dengan cepat menyusuri jalanan Driyorejo
yang tampak mulai macet, karena banyak orang keluar dari tempat mereka
bekerja.
Jalan besar yang dipilih Bagas agar cepat sampai tujuannya.
Lebih dari setengah jam dia sampai di depan mulut jembatan besar pembuka
kota Mojokerto. Tersendat sebentar tiga lampu di perempatan Gajah Mada.
Sign kanan dinyalakan, bertanda arah ke pusat kota.
Para jama’ah
ashar satu per satu meninggalkan gedung megah, tampak tempat parkir yang
lenggang. Suara merdu pendarus sangat lembut membelai rongga
telingganya, perlahan dia tuntun sepeda motornya memasuki halaman masjid
Al-Fattah. Hanya terdapat tiga sepeda motor yang berjajar, sepeda matic
biru, sepeda angin dan sepeda motor milik Bagas. Selepas meletakkan
sepeda motornya dia berlalu menuju tempat pensucian.
“tumben sepi hari ini”. Bergumam dia melewati kolam air kecil menuju pensucian.
***********************
“Alhamdulillah....” serunya.
Melepaskan
penat kerja, serta peluh raganya. Berlalu menuju teras depan yang
berlantai keramik marmer yang menambah rasa dingin nyaman lantai Masjid
ini. Ditentengnya tas kerja yang berisi pakaian kerjanya. Sungguh rasa
nyaman dan damai hatinya.
Dari kejauhan masih tampak tiga kendaraan
terparkir rapi. Dipandangi lama ketiga kendaraan itu. Semakin lama,
semakin jelas ia memandangi. Menggurat kening, memicingkan
penglihatannya.
“Sepertinya, aku kenal sepeda itu?” tanyanya
“Iya sepeda itu”
“Itu pasti dia”
semakin
yakin dia akan bertemu dengan gadis itu. Segera ia pakai sepasang
sepatunya. Merunduk mengikat tali untuk menuju arah patrinya.
“Bagas!” suara yang tak asing memanggil namanya
belum
selesai mengikta tali, bagas tak hiraukan suara yang memanggil. Masih
dalam keadaan merunduk. Mengencangkan tali dan berlalu meninggalkan
teras sejuk.
“Hay, Bagas!” untuk kedua kalinya suara itu menembus telingganya
semakin
menjauh bagas berlalu. Namun ada yang aneh dalam hatinya, mulai merasa
ada yang memanggil. Tapi bukan memanggilku, batinnya berkata. Dia
pandangi dalam-dalam matic biru itu, semakinm tajam dan jelas
ingatannya. Sepeda motor yang sempat ia senggol minggu kemarin
dikendarai seorang gadis berbaju serba putih.
“Kenapa mas, memandangi sepeda saya?” dari belakang suara itu mengagetkan Bagas
seketika itu pula Bagas memalingkan pandangannya ke sumber suara yang mengegetkannya.
“Lhoo?”
“Tu kan, kamu Bagas ?” menambah suaranya si Gadis berkerudung cokelat tampak lebih ceria
“Dewii.....?” Bagas tak percaya yang diliat adalah teman semasa SMP.
Masih
tak percaya dengan apa yang dialaminya. Bertemu dengan gadis ynag
sempat menjadi pengisi hatinya kala waktu akhir SMP. Gadis berkerudung
munggil yang sering diganggunya kala itu. Kini berubah menjadi gadis
berkerudung nan anggun, cantik.
“Jadi, yang memanggil tadi kamu Wi?” tanya Bagas.
“Halah, kamu saja yang sudah lupa sama aku” sedikit ngambek gadis itu.
“Maaf Dewi, saya kira tadi aku berhalusinasi. Soalnya tadi hanya berpikir mencari si empunya sepeda motor ini”
“Berarti yang aku senggol sabtu lalu, kamu?” tambah Bagas.
“Uhh...Iya,
dasar!” sembari mencubit lengan Bagas. “setelah kejadian itu, aku
manggil kamu, tapi kamunya ndak respon”. Dewi memasang wajah jutek
manjanya.
“Hehehehe..... ternyata kamu juga mengejarku” Goda Bagas.
“Kamu juga kan, mencari Si punya sepeda motor ini?” balik menggoda
“Emang kalau.......” Belum sampat melanjutkan kata-katanya, Dewi sudah melanjutkan Frase yang ingin diucapkan Bagas.
“Jodoh itu ndak akan tertukar dan pasti ketemu”. Tertawa riang kedaunya
“Eh, kamu mau kemana?” Tanya Dewi.
“Mau pulang, kan sudah ketemu siapa pemiliknya” tertawa Bagas menggoda Dewi.
“Lha, masak udah ketemu kok malah ditinggal pulang” kembali ngambek manja
“Hehehe...emangnya mau aku ajak jalan-jalan dan cari makan?” tanya Bagas dengan ramahnya
“Ya itu yang aku tunggu. Hihihihi” kembali ceria...
“Siap Bu Perawat” sambil meletakkan jemarinya di keningnya layaknya penghormatan kepada komandan.
Kedua
teman mas SMP itu pun bersama-sama berlalu meninggalkan masjid
Al-Fattah, berkeliling kota mojokerto sembari menunggu waktu berbuka
puasa datang.
******THE END*****