Sabtu, 26 Juli 2014
Marjono, Sampidi, Mukhlis, dan
Anung mendapat jadwal giliran mendarus al-qur’an di Langgar Nurul Huda kampung
Mapel tempat mereka tinggal. Selepas ashar, mereka pun janjian untuk datang
bersama-sama selepas shalat tarawih nanti malam.Empat sahabat yang selalu
bersama itu pun sepakat untuk tidak pulang sepelas shalat tarawih nanti malam.
Waktu yang mereka janjikan pun
telah tiba, para jama’ah tarawih pun mulai meninggalkan langgar.Namun, setelah
semuanya lengang, mereka tak melihat batang hidung Anung.Ketiga sahabat itu pun
menggumam karena Anung tak menepati janji.Tanpa menunggu kedatangan Anung,
ketiganya pun bergegas memulai tadarus di dalam langgar yang masih berdinding
bambu itu.
Sampidi sedang mendapati mendarusal-qur’an,
surah Al-Baqarah Juz 1.Mukhlis bertugas menyimak sebelum kebagian jatah untuk
membaca.Jono yang mengawali membaca, telah menyelesaikan tiga a’in, selonjoran
meluruskan punggung.Tak lama ketika Sampidi mendarus, datang Slamet, dan
Salikan dengan menenteng ember yang berisi jaminan untuk orang yang mendarus.Dua
orang yang terakhir datang itu pun ikut menyimak Sampidi mendarus.
“Kemana si Anung ya, sampai saat
ini belum datang juga?”Gumam Jono selonjoran di samping Salikan yang sedang
menyimak.
“Tadi aku lihat, dia baru pulang
dari warung Bu Tijah.Sepertinya beli Kopi untuk Bapaknya”.Sahut Salikan
menghentikan kegiatan menyimak Sampidi.
“Oooohhh…..pantesan kok belum
datang”.
Tak lama setelah Salikan ikut
selonjoran Marjono, Slamet pun mengikuti tingkah Salikan untuk menghentikan
kegiatan menyimak.Tetapi dia tidak ikut selonjoran melainkan mengeluarkan buku
pelajaran yang dia simpan di balik lipatan sarungnya.Buku yang dia keluarkan
adalah buku latihan soal-soal Bahasa Indonesia kelas enam.Ulangan catur wulan pertama
tahun ini memang berbarengan dengna bulan ramadhan. Slamet selalu membawa buku
pelajaran ke langgar sambil menunggu giliran ia mendarus.
Tampak dari kejauhan seorang anak
tergopoh-gopoh lari ke arah langgar.Ketiga anak yang sedang rehatan mendarus
bangkit dari tempat selonjoran untuk menamakan siapa yang datang.Semakin dekat
anak itu dengan nafas yang tersenggal.Ternyata anak yang dari tadi mereka
tunggu yang datang, Anung.
“Ohh…. Dari mana saja kamu, kok baru datang?”Jono menyambut Anung
dengan pertanyaan.
“Maaf, aku tadi diminta untuk beli
kopi bapak”.Dengan nafas yang masih tersenggal dia menjawab Jono.
Seperti hari-hari sebelumnya di
bulan ramadhan, jika hendak tidur di langgar Anung selalu membawa jam
beker.Kali ini juga.Beker itu sudah diset agar berdering pukul 02.00, saat
mereka harus patroli untuk membangunkan warga yang hendak memasak untuk makan
sahur.
Langgar Nurul Huda yang berada di
barat rumah warga Mapel itu memang menjadi rumah kedua bagi anak kampung
tersebut. Selain berfungsi sebagai tempat beribadah warga, tempat itu juga
dijadikan markas bagi anak-anak yang akan atau selesai main di bendungan
belakang langgar. Terkadang dijadikan untuk mengatur jadwala mereka bermain
bola.Beberapa anak juga memanfaatkannya untuk belajar kala ulangan umum tiba.
“Alah pake belajar segala,
paling-paling soal THB-nya gampang!”. Ledek Jono kepada Slamet yang tengah berkutat dengan buku
latihannya.
“Belajar apa sih, Met?” Tanya Anung
“Bahasa Indonesia, Nung”. Jawab
Slamet.
“Alah… bahasa Indonesiamalah
gampang, wong Cuma soal membaca saja dan pasti jawabannya ada di bacaan soal”.Jono
terus menggoda.
Slamet tak menanggapi celetukan
Jono.
“Sudah jangan ngomong saja, itu-loh
Mukhlis enggak ada yang nyimak!”Hardik Sampidi yang selesai mendarus kepada
Jono yang tetap menggoda Slamet.
“Aku capek Di, tadi sudah tiga a’in
aku baca. Waktunya untuk istirahat.hehehehe…”Jono cekikikan menimpali Sampidi.“Salikan
saja yang menyimak, dari tadi dia belumnyimak dan baca”.
“Aku juga capek Jon, tadi sore
selepas Ashar bantu bapak ke sawah cari makan kambing”. Sahut Salikan sembari
memalingkan pandangan dari Marjono dan Sampidi.
“Kalau begitu biar aku saja yang
menyimak Mukhlis”.Anung menawarkan diri, segera mendekat kepada Mukhlis yang
sedang mendarus.
Entah karena belum terkena dampak
dari kehidupan kotaatau memang dasarnya mereka itu anak-anak baik. Lihatlah
tingkah mereka.Di tengah persiapan THB (Tes Hasil Belajar.red), mereka masih menyempatkan waktu untuk tadarus Al-Qur’an.Senakal
apaun mereka, masih saja mau dan rajin membaca Al-Qur’an.Marjono yang tahun
lalu tidak naik kelas saja masih rajin mengaji, meski sambil bermain dan
bercanda.
“Nung, ganti kamu yang darus!”
Pinta Mukhlis
“Lhoo…kok cepet?” Sahut Anung.
“Cepet, cepet…aku darus sampe punggungku pegel-pegel begini kok”
Jawab Mukhlis.
“Itu tandanya dipunggungmu ada
setannya” Sahut Slamet.
“Enggak mungkin dia diganggu
setean, lah wong temannya kok” Cetus
Anung.
“Hahaha…” Keempat sahabat itupun
mengakak.
“Oh, asem…ayondang darus, Nung!”Sunggut Mukhlis.
Anung menggeser tempat duduknya untuk
melanjutkan mendarus.Sedangkan Mukhlis langsung mengambil tempat di sebelah
Marjono untuk selonjoran merenggangkan punggungnya.Anung mendarus tanpa ada yang
menyimak, ke-empat temannya sedang larut dalam guyonan khas mereka.Dua halaman
sudah terbaca oleh Anung.
“Kan, Salikan, giliran kamu
mendarus!” Panggil Anung.
Tak ada jawaban, malah terdengar
suara dengkuran lembut dari mulut Salikan.
“Yaa…tewas” ucap Anung. “Kan,
Bangun! Giliranmu mendarus”
“Sudah, enggak usah dibangunkan
kita akhiri saja darusannya” Tukas Slamet sembari merapikan buku latihannya.
“Kita Istirahat saja, sudah jam setengah sebelas”
Anung pun melipat menandai Juz yang
baru saja ia selesaikan dan menata kembali Al-Qur’an di tempatnya. Jam bekernya
menunjukkan waktu 10.30. Mereka pun bersiap untuk tidur.
*******
Kriiiiing……Kriiiing…..
Bunyi Nyaring beker menggelitik
gendang telinga.Marjono geragapan dengan napas tak beraturan.Salikan mengeliat
bangkit dari tidurnya, tanggannya menjulrur ke arah beker di atas kepala Anung
dan mematikan suara yang membisingkan ketenangan tidurnya.Dilihatnya Slamet dan
Anung masih tengkurap tertidur.
“Hooah…jam berapa sih ?’ desis
Salikan sambil berusaha menamakn matanya ke dalam angka yang melingkar di
beker. “Cepet bangun, sudah jam dua” pintanya.
“Bangun rek, jadi patroli
nggak?”Marjono yang sudah mulai tenang memanggil dengan suara parau.
“Ehhhmmm…..bentar lagi” Sampidi
hanya mengubah posisi tidurnya
“Klis, patroli ngak?” Tanya
Salikan.
“Aku ngantuk” Mukhlis bermalasan,
“Aku ndak ikut” tambahnya.
“Nung, Met, jadi patroli ndak?”
Tanya Marjono.
Keduanya tak menjawab.Terlelap.
“Berdua saja, Kan?” tawar Marjono.
“Hmm..ayo wis”.
Keduanya bangkit lalu menuju ke
tempat wudhu untuk membasuh muka guna mengusir kantuk.Marjono menenteng
kentongan, Salikan membawa panci penyok dan pemukul kayu.Tak lama kemudian,
suara khas patroli pun terdengar dan suara keduanya pun menyemangat
membangunkan.
“Sahuuurrr…Sahur..!” Suara Marjono.
“Bapak, Bapak, Ibu, Ibu, dan
Adik,adik, bangun….Sahur…”Sambung Salikan.
Marjono dan Salikan menyusuri
jalanan kampung Mapel dari arah utara ke selatan.
“Hei, jam berapa ini?” teriak Bu
Tijah dari balik warungnya.“Ngelindur ta?”
Marjono dan Salikan
celinggukan.Seorang bapak yang masih nongkrong di warung Bu Tijah menghampiri
mereka berdua. “Baru jam 11 patroli, sana tidur dulu!” Usir bapak itu.
Marjono dan Salikan membalikkan
badan dengan rasa kebingungan.Segera mengambil langkah seribu tanpa menengok ke
belakang lagi.Sesampai di langgar dengan napas ngos-ngosan, mereka mendapati
pemandangan yang mengesalkan.Suara tawa memenuhi langgar.Mukhlis cekikikan
berguling-guling di lantai, Slamet senyum-senyum bersandar di bawah Jidor
langgar.Sementara Anung meloncat-loncat kegirangan dengantelunjukmengarahMarjonodanSalikan.
“Ohh….Wedus kabeh” umpat Marjono sambiri membanting kentongan.
“Gaplek..gaplek..dibujuki” Salikan
lemas terduduk di depan langgar.
“Makanya jangan tidur sore-sore”
Ujar Sampidi sambil menahan tawa.