Senin, 15 Agustus 2022

 



Apa yang Anda ketahui tentang pengertian sajak? Apa yang ada di benakmu ketika mendengar sajak? Tidak sedikit orang menyatakan bahwa sajak sama dengan puisi. Namun ternyata keduanya terdapat perbedaan lho. Jika berbicara tentang puisi tentu bahasan yang akan disampaikan adalah mengenai sebuah karya sastra yang sarat dengan kalimat yang mengandung perasaan dan juga pemikiran sebagai wujud dari ekspresi diri. Bagaimana dengan sajak?


Menurut KBBI arti dari sajak itu sendiri adalah suatu karya sastra yang dalam penyajiannya berbentuk baris-baris yang terikat dan teratur.


Sajak adalah puisi Melayu moden yang berbentuk karangan berangkap, berbentuk bebas dan tidak terikat pada jumlah baris, perkataan sebaris, suku kata sebaris, rangkap, rima dan sebagainya.


Sekilas memang mirip ya, antara puisi dengan sajak namun, jika ditelisik lebih dalam sajak memiliki arti yang lebih spesifik dibandingkan dengan puisi. Bisa dibilang kalau puisi merupakan sastra yang menudungi sajak sementara sajak adalah suatu individu puisi.


Teringat pada malam peringatan hari santri ke-2, pembacaan puisi menjadi salah satu rangkaian agenda. Bertajuk “Ketika Kyai-Nyai-Santri Berpuisi : Pesantren Tanpa Tanda Titik,” puluhan penyair, para Kyai dan Nyai unjuk kebolehan membaca puisi  di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki.


Dengan segala kepadatan aktivitas pesantren—yang seperti tak berjeda itu; semisal sekolah, musyawarah, hafalan, ngaji, roan, lalaran, bahtsul masa’il, ditambah masalah-masalah subjektif pada diri santri—nyatanya santri tetap memiliki dahaga untuk merekam setiap jejak peristiwa, menghidupkan gagasan, membangun imajinasi, dan mengekspresikan setiap inci perjalanan di atas tinta yang tergores artistik, dalam selembar kertas.

Dalam kepadatan aktivitas pesantren itu, santri mampu menemukan ruang kecil bagi dirinya untuk menulis, berkisah, dan memformulasikan apa saja yang masih terbatas dan terbata. Ia susun keterbatasan itu—juga keterbatasannya—menjadi sebuah narasi sempurna, sebuah cipta yang eksotis.

Kaum sarungan, dengan gaya yang khas dan unik, pada mulanya memang dikenal sebagai orang-orang yang selalu menggumuli kitab-kitab klasik dan anti terhadap “bacaan luar”. Tetapi zaman terus berubah, waktu terus bergerak di atas kesadaran santri untuk melihat hal-hal “lain” dengan sikap terbuka. Dan di era kini, santri memiliki kapabilitas untuk ikut berperan dalam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya berputar pada literatur kitab klasik belaka. Santri benar-benar telah membuktikan bahwa kaumnya mampu mengisi dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada, mulai dari pemerintahan, industri, akademik, utamanya dunia kepenulisan.


Pun demikian yang dilakukan santri-santri Pondok Pesantren Al-Multazam. Di sekian kepadatan aktivitas mereka—satu diantara perannya dalam dunia kepenulisan, berhasil melahirkan tulisan yang diberi tajuk “Sang Pelita Adiratna”.


Dalam lembaran ini, penulis berusaha untuk sedikit mengulik tentang karya terbaru santri pondok pesantren Al-Multazam yang tertuang dalam Kumpulan Sajak. Mulai dari struktur hingga proses kreatifnya.


STRUKTUR SAJAK ATAU PUISI

STRUKTUR

 1 cara sesuatu disusun atau dibangun; susunan; bangunan; 2 yang disusun dengan pola tertentu; 3 pengaturan unsur atau bagian suatu benda; 4 ketentuan unsur-unsur dari suatu benda; 5 Ling pengaturan pola dalam bahasa secara sintagmatis; (KBBI)

Analisis struktural pada karya sastra dalam hal ini karya fiksi yaitu dengan mengidentifikasi, mengkaji, kemudian mendeskripsikan hubungan antar unsur instrinsik karya fiksi yang menjadi objek analisis (Pradopo, 2001:267-268). 

Pengertian Puisi

Pengertian Puisi adalah suatu karya sastra berupa ungkapan isi hati penulis di mana di dalamnya ada irama, lirik, rima, dan ritme pada setiap barisnya. Dikemas dalam bahasa yang imajinatif dan disusun dengan kata yang padat dan penuh makna.

 

Pengertian Puisi Menurut Para Ahli

Menurut H.B Jassin Puisi adalah suatu karya sastra yang diucapkan dengan sebuah perasaan yang di dalamnya mengandung suatu pikiran-pikiran dan sebuah tanggapan-tanggapan. 

Menurut Sumardi Puisi adalah karya sastra dengan bahasa dipadatkan, dipersingkat dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan kata-kata bermakna kiasan (imajinatif). 

Menurut James Reevas Puisi merupakan ungkapan bahasa yang penuh dan kaya akan daya pikat. 

Menurut Herman Waluyo Puisi adalah suatu karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan memokuskan semua kekuatan bahasa dalam sebuah struktur fisik dan struktur batinnya. 

Karya puisi mengandung nilai estetika tersendiri. Orang yang membuat puisi disebut dengan penyair puisi. Tiap puisi memiliki karakteristik tersendiri diantara satu dengan lainnya.

Dalam puisi terdapat unsur-unsur yang membentuknya. Unsur Puisi terdiri dari struktur batin dan struktur fisik.

1. Struktur Fisik Puisi

Struktur fisik puisi adalah  unsur puisi yang bisa dilihat dan diamati secara langsung dengan mata. Struktur ini terdiri dari diksi, citraan/imaji, majas, kata konkret, tipografi dan rima.

Diksi adalah pemilihan kata oleh seorang penyair untuk mendapatkan efek yang sesuai dengan keinginannnya. Pemilihan diksi pada puisi sangat berpengaruh dengan makna yang ingin disampaikan penyair.

Contoh :

Pemilihan kata pada judul  “Sang Pelita Adiratna”, 3 kata terpilih memberi gambaran bahwa para penulis menempatkan apa yang menjadi keistimewaan penulis di tempat yang lebih dari yang istimewa.

“Detak jantungku seolah tak berdenyut, Kala sang arunika tampak sengit, nan enggan menorehkan senyum”, pilihan kata arunika menggantikan kata fajar atau matahari, yang lazim digunakan oleh penulis pemula. Ini juga menunjukkan bahwa khazanah baca para penulis yang luas.

Selain pilihan kata yang memiliki karateristik, pilihan sederhana nan penuh perwakilan suasana juga kuat dan telah ditampilkan dalam kumpulan sajak ini.

“tempahan kaki yang meliru tanda kehadiranmu, menapakkan kakki di atas bumi tempatku beradu”

“Sesuatu yang sederhana namun bermakna, memberikan sejuta goresan tinta, mengukir sebuah sejarah dari banyaknya sejarah”

Kata Konkret adalah susunan kata yang memungkinkan terjadinya imaji. 

Kata konkret seperti badai salju menggambarkan permasalahan atau ketidaktahuan, 

Rima atau Irama Adalah persamaan bunyi dalam penyampaian puisi dari awal hingga akhir puisi. Beberapa bentuk rima di antaranya: (1) Onomatope: Tiruan bunyi, misalnya prank yang mengungkapkan sesuatu yang pecah. (2) Bentuk intern pola bunyi, yaitu aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi, dan sebagainya. (3) Pengulangan kata, yaitu penentuan tinggi-rendah, panjang-pendek, keras-lemah suatu bunyi.


Imaji atau Citraan adalah pemberi gambaran kepada para pendengar/pembaca agar seolah-olah dapat melihat, mendengar, merasakan atau mengalami hal-hal yang terkandung dalam puisi. Citraan mempunyai 6 macam, diantaranya citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, perabaan dan pergerakan.


Tipografi Adalah bentuk format suatu puisi, seperti pengaturan baris, batas tepi kertas kanan, kiri, atas, bawah, jenis huruf yang digunakan. Unsur ini berpengaruh pada pemaknaan dari isi puisi itu sendiri.

Dalam kumpulan sajak ini, memang belum tampak tipografi yang memiliki ke-khas-an tersendiri, cendurung lazim puisi-puisi remaja sekolah yang sedang kasmaran. Bukan menjadi kekurangan, namun inilah karakter santri yang tidak neko-neko. Dan juga tidak perlu jadi neko-neko, agar terlihat lebih istimewa.

Majas adalah pemakaian bahasa dengan cara melukiskan sesuatu dengan konotasi khusus sehingga arti sebuah kata bisa mempunyai banyak makna.

“Tak ada benih pemuda bangsa yang terjadi”, benih dalam denotasi makna berarti biji atau buah yang disediakan untuk ditanam atau disemaikan: sesuatu yang akan tumbuh atau akan menjadi:

2. Struktur Batin Puisi

Struktur batin puisi adlaah unsur pembangunan puisi berupa makna yang tidak terlihat oleh mata. Contohnya adalah tema, nada, suasana, perasaan dan amanat/tujuan.

Tema/ Makna adalah unsur ini berupa makna yang tersirat yang ingin disampikan penulis kepada pembaca/ pendengar.

Nada adalah sikap penyair terhadap audience-nya, yang berkaitan dengan makna dan rasa. Dari nada yang terdengar, audience dapat menyimpulkan sikap penulis sedang mendikte, menggurui, memandang rendah, atau sikap lainnya.

Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penulis pada para audience-nya.


Dari sekian struktur yang terjabarkan dalam kumpulan sajak ini, tergambar jelas bahwa para penulis ingin menjelaskan bahwa seorang atau sosok guru yang diharapkan adalah seorang yang mampu memberikan teladan (tiru) serta seorang dapat dipercaya (gugu) untuk menemani perjalanan mencari pengetahuan sebagai bekal untuk membersamai zaman mereka hidup dan bekal di kehidupan berikutnya.


Sosok guru yang selalu bisa menjadi teman untuk berinovasi dan saling berbagi pengalaman mengajar yang baik, seperti arunika. Mungkin saat ini, para penulis menemukan segalanya pada sosok yang digambarkan laksana perempuan yang cantik. Dalam pemaknaan konotasinya, sosok yang memiliki keanggunan dalam karakter masing-masing, dan memberikan kesejukan pandangan ketika penat menyergap di tengah kepenatan aktivitas sebagai santri.


Kenapa demikian ?


Karena Siswa generasi Z memiliki karakteristik unik yang harus Guru Pintar ketahui. Hal ini akan sangat bermanfaat bagi Guru Pintar untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik gen Z dan juga kebutuhan mereka.

Pada umumnya siswa generasi Z selalu terhubung dengan dunia maya dan dapat melakukan segala sesuatunya dengan menggunakan kecanggihan teknologi yang ada. Anak-anak ini sudah terbiasa memegang gawai sejak kecil. Pengenalan teknologi dan dunia maya ini sangat berpengaruh pada perkembangan kehidupan dan kepribadian anak Gen Z.

Bukan karena lahir dan hidup pada jaman perkembangan teknologi, namun geneari ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang tentunya menjadi sisi lain untuk dipelajari, untuk kelebihan mereka antara lain ; Memiliki intelektual yang baik, lebih terbuka terhadap segala sesuatu, memiliki akses untuk mendapatkan informasi yang lebih. Banyak, memiliki motivasi tinggi terhadap suatu hal, multitasking atau dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu. Namun, ada hal yang juga perlu diwaspadai atau menjadi wira’I terhadap kekurangan mereka ; Individualistis dan egosentris, kurang fokus, menyukai hal-hal yang instan dan kurang menghargai proses, memiliki emosi yang labil. Implikasi karakteristik generasi Z yang menjadi perhatikan seorang guru sebagai berikut; memberikan bimbingan, menyenangkan, mengakomodir kegemaran mereka.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Jejak Aria Winardi - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Aria Winardi -