Jumat, 06 Maret 2015
Merayap
di bawah jembatan berkaki lima
Bukan
untuk mengiba,
Bukan
pula untuk menangis
Di
sana kau temukan senyum menggoda
Bukan
kawan, bukan pula lawan
Ia
lahir seperti bayi yang merengek minta susu sang ibu
Ia
ada karena Tuhan menakdirkannya ada
Bukan
untuk dipuja,
Bukan
pula untuk dicela
Lihat,
ia menghampirimu
Bukankah
wangi bunga tercium dari bau badannya yang dianggap busuk?
Larut
mendaki purnama yang muncul
Seketika
mata terpejam habiskan nafkah
Ia
hadir, buka lembaran-lembaran di ujung waktu
Bukan
untuknya…
Sekali
lagi, bukan untuknya
Cukup
hati yang tahu bibir memerah
Cukup
batin yang mengerti rasa bersalah
Ini
kesaksian
Nyata
meski tertutup kabut yang mengepul di depan cahaya
Buta
seolah bukan perkara pribadi,
Mungkin
tak melirik betapa moleknya dia
Menggoda
hati, terpacu nafsu
Di
sana… di bawah remangnya kunang-kunang berterbangan
Lalu
berkisah…,
Menjajal
para lelaki yang dikata hidung belang
Meneguk
secangkir kopi pahit, menghisap putung rokok yang hampir habis
Menggoda…
Bukan
untuknya, untuk hati
Tebar
pesona menyegarkan gundah yang mereda –sesaat-
Bisikkan
rayuan ‘gombal’
Tak
pelak, dia bernyanyi cinta
Sepanjang
jalan cinta yang dibuat sendiri
Orang-orang
bicarakan dia -semalam buatkan gaduh tak terkira-
Membukukkannya
seperti riwayat berarti
Namun
tak peduli, di sana dia tetap bernyanyi
Merajam!!!
Dan
enyah tatkala embun mulai menyisakkan di dedaunan basah
Panggung
berakhir sudah, tak terdengar suara-suara aduhai
Sirine
memanggil…
Pontang-panting
menyulut ketakutan, padahal ia telah senang
Di
sana…
Di
bawah jembatan berkaki lima itu
Sebuah
wajah tak asing tertidur dalam mimpi yang lain
‘Aku
bernyanyi bukan untukku…, tapi untuk anakku yang terbujur di pemakaman
sebelah
rumahku’
Amboi…,
air mata sudah membopong kesucian hati
Created
By ZUWAILY