Archive for 2014




Marjono, Sampidi, Mukhlis, dan Anung mendapat jadwal giliran mendarus al-qur’an di Langgar Nurul Huda kampung Mapel tempat mereka tinggal. Selepas ashar, mereka pun janjian untuk datang bersama-sama selepas shalat tarawih nanti malam.Empat sahabat yang selalu bersama itu pun sepakat untuk tidak pulang sepelas shalat tarawih nanti malam.
Waktu yang mereka janjikan pun telah tiba, para jama’ah tarawih pun mulai meninggalkan langgar.Namun, setelah semuanya lengang, mereka tak melihat batang hidung Anung.Ketiga sahabat itu pun menggumam karena Anung tak menepati janji.Tanpa menunggu kedatangan Anung, ketiganya pun bergegas memulai tadarus di dalam langgar yang masih berdinding bambu itu.
Sampidi sedang mendapati mendarusal-qur’an, surah Al-Baqarah Juz 1.Mukhlis bertugas menyimak sebelum kebagian jatah untuk membaca.Jono yang mengawali membaca, telah menyelesaikan tiga a’in, selonjoran meluruskan punggung.Tak lama ketika Sampidi mendarus, datang Slamet, dan Salikan dengan menenteng ember yang berisi jaminan untuk orang yang mendarus.Dua orang yang terakhir datang itu pun ikut menyimak Sampidi mendarus.
“Kemana si Anung ya, sampai saat ini belum datang juga?”Gumam Jono selonjoran di samping Salikan yang sedang menyimak.
“Tadi aku lihat, dia baru pulang dari warung Bu Tijah.Sepertinya beli Kopi untuk Bapaknya”.Sahut Salikan menghentikan kegiatan menyimak Sampidi.
“Oooohhh…..pantesan kok belum datang”.
Tak lama setelah Salikan ikut selonjoran Marjono, Slamet pun mengikuti tingkah Salikan untuk menghentikan kegiatan menyimak.Tetapi dia tidak ikut selonjoran melainkan mengeluarkan buku pelajaran yang dia simpan di balik lipatan sarungnya.Buku yang dia keluarkan adalah buku latihan soal-soal Bahasa Indonesia kelas enam.Ulangan catur wulan pertama tahun ini memang berbarengan dengna bulan ramadhan. Slamet selalu membawa buku pelajaran ke langgar sambil menunggu giliran ia mendarus.
Tampak dari kejauhan seorang anak tergopoh-gopoh lari ke arah langgar.Ketiga anak yang sedang rehatan mendarus bangkit dari tempat selonjoran untuk menamakan siapa yang datang.Semakin dekat anak itu dengan nafas yang tersenggal.Ternyata anak yang dari tadi mereka tunggu yang datang, Anung.
“Ohh…. Dari mana saja kamu, kok baru datang?”Jono menyambut Anung dengan pertanyaan.
“Maaf, aku tadi diminta untuk beli kopi bapak”.Dengan nafas yang masih tersenggal dia menjawab Jono.
Seperti hari-hari sebelumnya di bulan ramadhan, jika hendak tidur di langgar Anung selalu membawa jam beker.Kali ini juga.Beker itu sudah diset agar berdering pukul 02.00, saat mereka harus patroli untuk membangunkan warga yang hendak memasak untuk makan sahur.
Langgar Nurul Huda yang berada di barat rumah warga Mapel itu memang menjadi rumah kedua bagi anak kampung tersebut. Selain berfungsi sebagai tempat beribadah warga, tempat itu juga dijadikan markas bagi anak-anak yang akan atau selesai main di bendungan belakang langgar. Terkadang dijadikan untuk mengatur jadwala mereka bermain bola.Beberapa anak juga memanfaatkannya untuk belajar kala ulangan umum tiba.
“Alah pake belajar segala, paling-paling soal THB-nya gampang!”. Ledek Jono kepada  Slamet yang tengah berkutat dengan buku latihannya.
“Belajar apa sih, Met?” Tanya Anung
“Bahasa Indonesia, Nung”. Jawab Slamet.
“Alah… bahasa Indonesiamalah gampang, wong Cuma soal membaca saja dan pasti jawabannya ada di bacaan soal”.Jono terus menggoda.
Slamet tak menanggapi celetukan Jono.
“Sudah jangan ngomong saja, itu-loh Mukhlis enggak ada yang nyimak!”Hardik Sampidi yang selesai mendarus kepada Jono yang tetap menggoda Slamet.
“Aku capek Di, tadi sudah tiga a’in aku baca. Waktunya untuk istirahat.hehehehe…”Jono cekikikan menimpali Sampidi.“Salikan saja yang menyimak, dari tadi dia belumnyimak dan baca”.
“Aku juga capek Jon, tadi sore selepas Ashar bantu bapak ke sawah cari makan kambing”. Sahut Salikan sembari memalingkan pandangan dari Marjono dan Sampidi.
“Kalau begitu biar aku saja yang menyimak Mukhlis”.Anung menawarkan diri, segera mendekat kepada Mukhlis yang sedang mendarus.
Entah karena belum terkena dampak dari kehidupan kotaatau memang dasarnya mereka itu anak-anak baik. Lihatlah tingkah mereka.Di tengah persiapan THB (Tes Hasil Belajar.red), mereka masih menyempatkan waktu untuk tadarus Al-Qur’an.Senakal apaun mereka, masih saja mau dan rajin membaca Al-Qur’an.Marjono yang tahun lalu tidak naik kelas saja masih rajin mengaji, meski sambil bermain dan bercanda.
“Nung, ganti kamu yang darus!” Pinta Mukhlis
“Lhoo…kok cepet?” Sahut Anung.
“Cepet, cepet…aku darus sampe punggungku pegel-pegel begini kok” Jawab Mukhlis.
“Itu tandanya dipunggungmu ada setannya” Sahut Slamet.
“Enggak mungkin dia diganggu setean, lah wong temannya kok” Cetus Anung.
“Hahaha…” Keempat sahabat itupun mengakak.
“Oh, asem…ayondang darus, Nung!”Sunggut Mukhlis.
Anung menggeser tempat duduknya untuk melanjutkan mendarus.Sedangkan Mukhlis langsung mengambil tempat di sebelah Marjono untuk selonjoran merenggangkan punggungnya.Anung mendarus tanpa ada yang menyimak, ke-empat temannya sedang larut dalam guyonan khas mereka.Dua halaman sudah terbaca oleh Anung.
“Kan, Salikan, giliran kamu mendarus!” Panggil Anung.
Tak ada jawaban, malah terdengar suara dengkuran lembut dari mulut Salikan.
“Yaa…tewas” ucap Anung. “Kan, Bangun! Giliranmu mendarus”
“Sudah, enggak usah dibangunkan kita akhiri saja darusannya” Tukas Slamet sembari merapikan buku latihannya. “Kita Istirahat saja, sudah jam setengah sebelas”
Anung pun melipat menandai Juz yang baru saja ia selesaikan dan menata kembali Al-Qur’an di tempatnya. Jam bekernya menunjukkan waktu 10.30. Mereka pun bersiap untuk tidur.
*******
Kriiiiing……Kriiiing…..
Bunyi Nyaring beker menggelitik gendang telinga.Marjono geragapan dengan napas tak beraturan.Salikan mengeliat bangkit dari tidurnya, tanggannya menjulrur ke arah beker di atas kepala Anung dan mematikan suara yang membisingkan ketenangan tidurnya.Dilihatnya Slamet dan Anung masih tengkurap tertidur.
“Hooah…jam berapa sih ?’ desis Salikan sambil berusaha menamakn matanya ke dalam angka yang melingkar di beker. “Cepet bangun, sudah jam dua” pintanya.
“Bangun rek, jadi patroli nggak?”Marjono yang sudah mulai tenang memanggil dengan suara parau.
“Ehhhmmm…..bentar lagi” Sampidi hanya mengubah posisi tidurnya
“Klis, patroli ngak?” Tanya Salikan.
“Aku ngantuk” Mukhlis bermalasan, “Aku ndak ikut” tambahnya.
“Nung, Met, jadi patroli ndak?” Tanya Marjono.
Keduanya tak menjawab.Terlelap.
“Berdua saja, Kan?” tawar Marjono.
“Hmm..ayo wis”.
Keduanya bangkit lalu menuju ke tempat wudhu untuk membasuh muka guna mengusir kantuk.Marjono menenteng kentongan, Salikan membawa panci penyok dan pemukul kayu.Tak lama kemudian, suara khas patroli pun terdengar dan suara keduanya pun menyemangat membangunkan.
“Sahuuurrr…Sahur..!”  Suara Marjono.
“Bapak, Bapak, Ibu, Ibu, dan Adik,adik, bangun….Sahur…”Sambung Salikan.
Marjono dan Salikan menyusuri jalanan kampung Mapel dari arah utara ke selatan.
“Hei, jam berapa ini?” teriak Bu Tijah dari balik warungnya.“Ngelindur ta?”
Marjono dan Salikan celinggukan.Seorang bapak yang masih nongkrong di warung Bu Tijah menghampiri mereka berdua. “Baru jam 11 patroli, sana tidur dulu!” Usir bapak itu.
Marjono dan Salikan membalikkan badan dengan rasa kebingungan.Segera mengambil langkah seribu tanpa menengok ke belakang lagi.Sesampai di langgar dengan napas ngos-ngosan, mereka mendapati pemandangan yang mengesalkan.Suara tawa memenuhi langgar.Mukhlis cekikikan berguling-guling di lantai, Slamet senyum-senyum bersandar di bawah Jidor langgar.Sementara Anung meloncat-loncat kegirangan dengantelunjukmengarahMarjonodanSalikan.
“Ohh….Wedus kabeh” umpat Marjono sambiri membanting kentongan.
“Gaplek..gaplek..dibujuki” Salikan lemas terduduk di depan langgar.
“Makanya jangan tidur sore-sore” Ujar Sampidi sambil menahan tawa.
Marjono hanya Misuh-misuh bersandar di teras kanan langgar.

PATROLI RAMADHAN

Senyum merah terlukis indah di balik awan hari sabtu. Sang surya pun mulai berbagi tempat dengan rembulan. Suasana mulai ramai di tengah alun-alun kota Mojokerto. Bedug magrib telah dipukul oleh pak tua.
“Alhamdulillah, waktu berbuka telah tiba” seru bagas menyambut datangnya suara muadzin yang berkumandang.
Air minum yang disiapkan penggurus masjid pun memjadi buruan para jama’ah. Silih berganti para jama’ah mengambil air minum untuk membatalkan puasanya. Suasana yang begitu akrab terjadi di teras masjid sebelah barat alun-alun. Parkiran pun mulai meluap. Hari itu, minggu pertama bulan puasa Ramadhan pada tahun 2007.
*****
“lho, Bagas dari mana?kok tumben magrib-magrib ada di sini?” pertanyaan yang membuyarkan angan Bagas seketika itu.
“Assalamu’alaikum Dedi, oalah.. aku dari kerja tadi, terus mampir muter-muter di alun-alun sambil nunggu magrib. Maklum anak muda”. Disertai ketawa yang bersahabat.
Dedi dan Bagas merupakan teman lama ketika sekolah di sebuah sekolah swasta kota Mojokerto. Agak aneh memang, Bagas yang rumahnya berada jauh di sebelah utara kota bisa Shalat magrib di masjid dekat rumah Dedi yang tepat berada dibelakang Masjid. Obrolan pun terjadi antara dua sahabat yang lama tak bertemu itu.
“Sekarang kerja dimana kamu ?” tanya Dedi melanjutkan obrolan.
“Aku kerja di pabrik daerah Driyorejo, baru kok aku kerja di sana”
“dulu sempat sih, kerja di pabrik sepatu di daerah Tropodo.” Jawab Bagas sembari membetulkan tali sepatunya.
“Ayo mampir ke rumah, kita buka puasa bareng!” Dedi menawarkan sambil berdiri mengulurkan tangannya
“Terima Kasih,lain waktu saja aku juga buru-buru mau pulang kok” jawab Bagas
“Ya sudah, kapan-kapan mampir ya!dekat kok rumahku” sambil berlalu meninggalkan Bagas yang kebetulan mengambil sepeda motornya.
Suasana mulai ramai. Parkir sepeda motor di depan masjid semakin penuh. Para penjajah kuliner pun sudah memasuki lapangan besar di tengah kota Mojokerto. Bagas menuntun Sepeda motornya menjauh dari parkiran dalam halaman masjid.
“Ehhhh.....” suara yang masuk ke telingganya yang baru saja tertutup oleh helm, mengagetkan Bagas.
“oh, maaf mbak tidak sengaja” spontan Bagas menjawab suara halus tadi.
Bagas menyalakan mesin sepeda motornya dan bersiap melanjutkan perjalanannya. Bukan menuju arah pulang, Bagas berputar arah ke arah selatan jalan Mojopahit. Dipacunya kuda besi itu dengan pelan, sembari menikmati pemandangan yang disajikan toko yang berderet panjang ke selatan.
“kayaknya aku kenal dengan perempuan tadi. Tapi apa iya dia ? Mungkin juga iya,kata teman-teman, dia sekerang sedang kuliah di PPNI Mojokerto. Ah, minggu depan aku coba tungguin lagi dia di masjid. Kalo emang Tuhan berkehendak pasti ketemu”. Gumam Bagas, sepanjang jalan menyelusuri pertokoan Mojopahit dengan Sepeda motor sport warna hitam bergaris kuningnya.
*****
Hari yang terik di minggu kedua bulan puasa tahun itu. Sirine pabrik mengaung dengan garangnya. Para penghuninya mulai mengantri di depan kantor bagiannya masing-masing untuk mengambil gaji mingguannya. Suasana riuh penuh canda dengan wajah sumingrah tergambar jelas siang itu tepat pukul 14.30. Persis seperti itulah suasana hati Bagas siang itu. Selain menerima gajinya, Bagas juga sangat menanti hari sabtu itu karena ada misi yang harus dilaksanakannya tak lain adalah menunggu dan bertemu perempuan berkerudung di teras masjid Al-Fattah Mojokerto.
Ada yang aneh memang dengan tingkah Bagas waktu itu, dia tak lagi berhenti sejak bersama teman-teman kerjanya untuk bercanda dan bercengkrama di warung depan pabrik. Dia langsung mengambil motor sportnya dan bergegas pulang.
“Gas, sini dulu lah kenapa buru?” teriak Feri mencoba menghentikan laju Bagas.
Bagas hanya memnjawab seruan itu dengan membunyikan klakson sepedamotornya. Dilajukannya kendaraannya itu dengan cepat menyusuri jalanan Driyorejo yang tampak mulai macet, karena banyak orang keluar dari tempat mereka bekerja.
Jalan besar yang dipilih Bagas agar cepat sampai tujuannya. Lebih dari setengah jam dia sampai di depan mulut jembatan besar pembuka kota Mojokerto. Tersendat sebentar tiga lampu di perempatan Gajah Mada. Sign kanan dinyalakan, bertanda arah ke pusat kota.
Para jama’ah ashar satu per satu meninggalkan gedung megah, tampak tempat parkir yang lenggang. Suara merdu pendarus sangat lembut membelai rongga telingganya, perlahan dia tuntun sepeda motornya memasuki halaman masjid Al-Fattah. Hanya terdapat tiga sepeda motor yang berjajar, sepeda matic biru, sepeda angin dan sepeda motor milik Bagas. Selepas meletakkan sepeda motornya dia berlalu menuju tempat pensucian.
“tumben sepi hari ini”. Bergumam dia melewati kolam air kecil menuju pensucian.
***********************
“Alhamdulillah....” serunya.
Melepaskan penat kerja, serta peluh raganya. Berlalu menuju teras depan yang berlantai keramik marmer yang menambah rasa dingin nyaman lantai Masjid ini. Ditentengnya tas kerja yang berisi pakaian kerjanya. Sungguh rasa nyaman dan damai hatinya.
Dari kejauhan masih tampak tiga kendaraan terparkir rapi. Dipandangi lama ketiga kendaraan itu. Semakin lama, semakin jelas ia memandangi. Menggurat kening, memicingkan penglihatannya.
“Sepertinya, aku kenal sepeda itu?” tanyanya
“Iya sepeda itu”
“Itu pasti dia”

semakin yakin dia akan bertemu dengan gadis itu. Segera ia pakai sepasang sepatunya. Merunduk mengikat tali untuk menuju arah patrinya.

“Bagas!” suara yang tak asing memanggil namanya

belum selesai mengikta tali, bagas tak hiraukan suara yang memanggil. Masih dalam keadaan merunduk. Mengencangkan tali dan berlalu meninggalkan teras sejuk.

“Hay, Bagas!” untuk kedua kalinya suara itu menembus telingganya

semakin menjauh bagas berlalu. Namun ada yang aneh dalam hatinya, mulai merasa ada yang memanggil. Tapi bukan memanggilku, batinnya berkata. Dia pandangi dalam-dalam matic biru itu, semakinm tajam dan jelas ingatannya. Sepeda motor yang sempat ia senggol minggu kemarin dikendarai seorang gadis berbaju serba putih.

“Kenapa mas, memandangi sepeda saya?” dari belakang suara itu mengagetkan Bagas

seketika itu pula Bagas memalingkan pandangannya ke sumber suara yang mengegetkannya.

“Lhoo?”
“Tu kan, kamu Bagas ?” menambah suaranya si Gadis berkerudung cokelat tampak lebih ceria

“Dewii.....?” Bagas tak percaya yang diliat adalah teman semasa SMP.
Masih tak percaya dengan apa yang dialaminya. Bertemu dengan gadis ynag sempat menjadi pengisi hatinya kala waktu akhir SMP. Gadis berkerudung munggil yang sering diganggunya kala itu. Kini berubah menjadi gadis berkerudung nan anggun, cantik.

“Jadi, yang memanggil tadi kamu Wi?” tanya Bagas.
“Halah, kamu saja yang sudah lupa sama aku” sedikit ngambek gadis itu.

“Maaf Dewi, saya kira tadi aku berhalusinasi. Soalnya tadi hanya berpikir mencari si empunya sepeda motor ini”
“Berarti yang aku senggol sabtu lalu, kamu?” tambah Bagas.
“Uhh...Iya, dasar!” sembari mencubit lengan Bagas. “setelah kejadian itu, aku manggil kamu, tapi kamunya ndak respon”. Dewi memasang wajah jutek manjanya.
“Hehehehe..... ternyata kamu juga mengejarku” Goda Bagas.
“Kamu juga kan, mencari Si punya sepeda motor ini?” balik menggoda
“Emang kalau.......” Belum sampat melanjutkan kata-katanya, Dewi sudah melanjutkan Frase yang ingin diucapkan Bagas.
“Jodoh itu ndak akan tertukar dan pasti ketemu”. Tertawa riang kedaunya
“Eh, kamu mau kemana?” Tanya Dewi.
“Mau pulang, kan sudah ketemu siapa pemiliknya” tertawa Bagas menggoda Dewi.
“Lha, masak udah ketemu kok malah ditinggal pulang” kembali ngambek manja
“Hehehe...emangnya mau aku ajak jalan-jalan dan cari makan?” tanya Bagas dengan ramahnya
“Ya itu yang aku tunggu. Hihihihi” kembali ceria...
“Siap Bu Perawat” sambil meletakkan jemarinya di keningnya layaknya penghormatan kepada komandan.
Kedua teman mas SMP itu pun bersama-sama berlalu meninggalkan masjid Al-Fattah, berkeliling kota mojokerto sembari menunggu waktu berbuka puasa datang.
******THE END*****

GADIS BERKERUDUNG COKELAT

Terik matahari waktu itu begitu membakar kulit ariku. Sehabis berjalan-jalan di pasar Mojokerto yang berada di jalan Niaga untuk membeli peralatan listrik, aku coba mencari tempat untuk menenggelamkan hawa panas yang hinggap dalam tubuhku. Hingga akhirnya ku putuskan untuk melajukan kendaraan menuju tempat makan yang biasanya ku kunjungi bersama temanku.
Suasana yang tak biasa ketika aku berkunjung ke tempat itu telah menyambutku. Sepi, hanya ada beberapa orang yang telah mengisi tempat duduk yang disediakan yang punya warung. Setelah memarkir kendaraan, segera aku melaju ke gerobak Si pedagang untuk memesan makanan, seperti biasa mie ayam dan segelas es jeruk.
“Mbak, mie ayam tanpa bakso satu dan es jeruknya.” Pintaku kepada penjual.
“Iya mas, duduk dalam atau di luar?” Penjual bertanya balik kepadaku.
“Dalam mbak, sekalian ngadem.” Jawab singkatku.
Segera setelah memesan makanan, aku menuju tempat yang aku pesankan kepada penjual, agar beliaunya tahu dimana aku duduk nantinya. Ku pandangi berulang kali sudut-sudut ruangan yang ada dua meja rendah berukuran panjang tampak begitu bersih. Ku hadapkan badan ini tepat mengarah ke muka kipas angin yang berputar, untuk mengurangi gerah yang menjalar di tubuh ini.
“Tak seperti biasanya tempat ini, jam sesiang ini meja itu masih tampak putih?”  Aku bertanya dalam pikirku.
Lebih sepuluh menit aku duduk di ruangan itu sendirian, pesananku belum juga dikirimkan. Suhu badanku juga mulai terasa mengering dan tak sepanas lagi. Tapi apa yang aku pesan dari tadi tak kunjung tampak dihadapanku.
“Sepi, ramai, sama saja, pelayanan di sini sangat lambat”. Gumamku tak mampu menahan lapar.
Masih dalam keadaan mendongkol, ku coba untuk menengkok ke tempat si penjual. Ternyata si penjual tak ada di tempat, entah kemana perginya. Tak begitu lama ada sepasang muda-mudi yang masih lengkap berseragam pramuka masuk ke tempat dimana aku duduk sendirian.
“Ini mas, mie ayam dan es jeruknya”. Penjual meletakkan hidangan pesananku di atas meja rendah.
“Iya mbak, terima kasih”. Jawab singkat dengan senyum kecilku.
Tak lama penjual meninggalkan ruangan. Aku segera melengkapi mie ayamku dengan bumbu-bumbu yang telah disediakan penjual di atas meja. Mulai, dari saos hingga kecap manis ku tuangkan ke dalam mangkok sesuai dengan seleraku. Dua remaja yang duduk tepat di depanku, masih terlihat asyik bermain handphone masing-masing.
“Mari mbak, mas, makan dulu”. Ucapku ke kedua remaja itu sebelum aku menhabiskan makanan.
“Iya, mas silahkan!” keduanya membalas secara bersamaan.
Segeraku mulai menaklukkan hawa lapar dan panas di tubuhku dengan dua senjata andalanku itu. Dengan perlahan ku coba menikmati hidanganku. Masih terlihat kedua remeja itu bercengkrama manja di depanku. Seperti aku dan dirinya saja kedua remeja itu, pikirku teringat akan keberadaannya.
“Tadi di kelas kamu kok rame banget .ada apa?” tanya si cowok itu kepada si ceweknya, yang membuat daun telingaku bergetar ingin mengetahuinya.
“Oohh… tadi Mitha ulang tahun, disiram teman-teman dengan air campuran tepung”. Jawab si cewek yang masih asyik bermain handphone di pangkuannya.
Aku yang sedang asyik menikmati hidangan, sesekali menengadahkan kepalaku. Bukan karena ingin melihat kedua remaja itu, tapi untuk menahan air hidung yang terasa mengalir akibat kepedasan. Namun, seketika itu pula aku bisa melihat ekspresi kedua remaja tersebut.
Meski sesekali aku harus mengusap hidungku dengan tissu, tugas menghilangkan laparku pun berakhir. Mungkin kesalahan pencampuran sambal dan sausnya sehingga pedasnya begitu terasa. Namun, masih ada es jeruk untuk menghilangkan pedas ini, pikirku.
“Kamu marah ya?” Tanya si cowok kepada ceweknya yang tak sengaja aku dengar.
“Enggak, kenapa juga marah?”. Timpal cewek itu dengan singkat.
“Ya mungkin karena kejadian kamis kemarin di kantin.”
“Kejadian apa di kantin ? aku ndak lihat.” Si cewek masih asyik menunduk memainkan handphonenya.
“Karena aku duduk sama Shela?” Si cowok terus mencoba mengejar agar si cewek mengaku kalau marah.
Aneh memang, ketika seseorang sudah berkata “tidak marah” harusnya kan disyukuri saja tak perlu mencari cara lain hanya untuk membuat orang mengaku dan berkata “marah”. Sambilku nikmati hembusan kipas angin, pikiranku melayang.
“Oohh…itu, kenapa juga marah. Kamu duduk sama siapa pun terserah kamu.” Jawab si cewek yang kali ini mengangkat wajahnya dan tepat berhadapan ke muka ku.
Seketika itu, aku menyembunyaikan wajahku. Bukan karena takut, melainkan malu dipandangi seorang Cewek.hehehehe…. merasa GR sendiri.
“Aku pun sering kok duduk bersanding sama cowok lain di kelas”. Lanjut si cewek
“Tapi ini kan beda sayang, aku duduknya sama Shela”. Terus mencoba mendapatkan jawaban pasti dari si cewek.
Semakin seru nich kedua remaja bercengkrama, pikirku. Yang satu sudah bilang tidak marah, satunya ingin membuktikan bahwa si cewek marah. Aduh…aduh…. Ada….ada…. saja tingkah remaja.
“Kamu sayang aku kan?” pertanyaan normatif terlontar dari si cowok.
“Ya sayanglah, kalo ndak sayang kenapa juga aku mau diajak ke sini”. Jawab si cewek yang kali ini tatapannya tak mengarah ke muka ku tapi jauh menyebrang ke jalan di seberang warung makan.
Lama mereka berdebat mencari pengakuan dan munculnya kata “MARAH”, selama itu pula hidangan mereka tak kunjung datang. Apa mereka ke tempat ini hanya sekedar duduk-duduk saja? Pikirku. Si cewek kembali lagi mengarahkan pandangannya ke handphone yang dipangkunya. Sesekali dia seperti mengetik sms, tapi entah dengan siapa.
“Kalo kamu sayang, ngaku dong kalau kamu marah?” terus bertanya si cowok kepada si cewek.
“Aduhh….. begitu berharganya ya, kata “MARAH” untuk si cowok ini. Sudah tahu si cewek tidak marah, tapi malah ditanya untuk marah.” Gumamku sendiri sambil menggelengkan kepala.
“Kamu ini aneh ya, aku kan sudah bilang tidak marah. Kenapa memaksa aku untuk bilang “MARAH”. Kali ini si cewek menjawab dengan nada sedikit meninggi di atas Notasi “La”.
“Ya, aku hanya ingin memastikan saja apa kamu benar-benar tidak marah. Begitu saja.” Jawab si cowok dengan volume suara sedikit keras dan sedikit melirik ke arahku.
“Kan, aku sudah bilang, sudah dua kali pula aku menjawab “Tidak Marah”. Apa itu kurang cukup?”  Jawab si cewek sambil memasukkan handphonenya ke dalam tas.
Aku yang berada tepat dihadapan mereka, semakin menyembunyaikan raut wajahku hingga mereka tak merasa malu terhadapku, pikirku. Hidangan mereka pun telah disajikan di atas meja oleh entah pelayan yang mana yang mengantarkan. Mereka diamkan saja hidangan itu mengepul assap panas baksonya.
“Bukan masalah cukup atau tidak cukup, tapi…..” si cowok ingin menjelaskan namun tak tuntas.
“Tapi…tapi apa? Kamu mau aku menjawab dengan kata “MARAH”? “ Sahut si cewek, yang terlihat sudah selesai merapikan bawaanya.
“Oke, ya aku MARAH dengan kamu. Bukan karena kamu duduk dengan Shela, melainkan keegoisanmu bertanya hal sepele ini. Dan ingat, aku bukanlah cewek pencemburu seperti apa yang ada di dalam otakmu. Kamu duduk dengan Shela kek, Marni, Vega, Agnes, Janet, atau cewek mana pun terserah. Karena itu hak kamu.” Lanjut si cewek yang membuat si cowok tertegun dengan jawaban ceweknya.
Aku yang masih duduk dihadapan mereka, hanya bisa tersenyum melihat si cowok berhasil mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Hidangan mereka pun juga masih setia menunggu untuk dihabiskan. Si cewek kembali melihat ke luar warung makan, dan terlihat seorang cowok berseragam pramuka menunggang sepeda motor besar warna merah kombinasi hitam dengan mesin masih hidup di depan warung.
“Sudah, puas kamu dengan jawabanku. Kalau kamu kurang puas, dengarkan ini ! mulai hari ini kamu tidak usah menghubungi aku lagi, dan kamu sudah tak usah susah payah mencari kebenaran aku marah atau tidak”. Jawab si cewek dan segera berdiri.
Si cowok kini merasa menyesal, dengan apa yang dia tanyakan. Tak bergerak, melihat si cewek bangkit dari tempat duduknya. Hanya bisa mengikuti langkah kaki si cewek menjauh dari hadapannya. Mungkin yang lebih memuaskan si cowok adalah si cewek melangkahkan kakinya ke arah cowok penunggang sepeda motor besar yang sedari tadi berdiam di depan warung bakso.
Aku pun segera bangkit dari tempat duduk,bukan untuk menyusul atau mengikuti langkah si cewek tadi melainkan jam dudukku sudah habis. Namun pertanyaan dalam pikiranku kembali muncul, kira-kira siapa yang menemani si cowok menghabiskan dua mangkok Bakso yang telah dia pesan ya???
Sesuatu kejadian yang mengesankan. Hanya karena ingin mendapatkan kata MARAH, seorang cowok harus merelakan pujaannya hilang dari hadapannya.
****Sampun, TAMAT****
*****

Ø  NB : Cerita ini hanyalah fiksi, jika ada kemiripan dengan nama pelaku serta tingkah laku pikiran kami mohon maaf. Karena ini semua hnya “JUS PUDING” (Just Kidding.red)

Cerpen "MARAH"

Ku mohon....
Jangan membohongi
Karna pedihnya terasa
Jangan menghianati
Karna sakitnya terasa

Ku mohon....
Jangan berjanji
Karna kita selalu menanti
Jangan tinggali
Karna cukup bahagia

Apa yang mau
Kita t'lah lakukan
Apa yang ada
Kita t'lah berdaya

Karna masih cinta
Karna masih setia
Jangan berjanji
Hanya pembuktian

Masih Setia Janji

Terlalu tinggi pedal yang harus ku pijak
Sepeda yang terkais dari penampungan
Bedug lohor terdengar dalam kerongkong telinga
Beroda empat yang membuatku tertawa

Bapak membawakannya untukku
Penuh harapan anaknya menaikinya
Tapi terlalu tinggi pedalnya
Butuh pegangan untuk menggapainya

Tak berhenti untuk berharap
Bapak serahkan pundaknya
Pegang bahuku untuk menjagamu
Agar kamu tak kalah dengan temannmu

Berkali terjatuh membuat tertawa
Lajunya pelan semakin cepat
Satu desa terlintasi
Sebelum hilang terkikis kaki yang besar

Kisah Sepeda kecilku

Yang di balik pintu

Derap kaki menyapu butir pasir
Kelam pancarkan bara hiraukan
Lembut belaian angin temani raga
Tanda jiwa yang meminta

Bayang terlukis bening
Sembuyikan pancaran
Raga pesona memicingkan suasana
Bukalah tabir pembatasnya

Tak lelah raga meminta
Terpaku dalam kedigdayaan
Bertahan di balik pintu
Menunggu jatuh peminta

Bertahan di balik pintu.......

Sahabat...
Tak perlu ikut menangis
Hanya untuk tertawa..
Untuk merasa...
Untuk mengerti....

Sahabat......
Raga terpisah
Jiwa terhalang...
Hambar yang tersaji
Bukan untuk dijauhi...

Sahabat...
Satu kata dalam beribu warna
Satu kata dalam beribu rasa
Satu kata dalam beribu pikir
Satu kata dalam beribu waktu

Sahabat....
Bukan kita sama
Hanya perbedaan...
Cambuk aku...
Kan ku kenal sahabat

KARENA KITA ADALAH SATU

Ketika senja tiba
Gelap temukan cahaya
Kelam temukan lentera
Malam temukan kejora

Mestinya..
Jiwa temukan pasangannya
sebelum tertutup mata
Selamanya..

Tanpa perlu bertanya
Harta yang dibawa
atau keelokan rupa

Harusnya..
Seperti fajar temukan pagi
Hati jadi mentari..

Created : Diannita Riski

Dari: Senja, Kepada: Fajar

Kata orang, guru itu penat
Gaji tak seberapa, kerja berlambak
Aku kata, guru itu rehat
Mengajar tak seberapa, tapi penuh berkat
Kerja sekerat-sekerat, pahala penuh sendat
Ilmu yang dicurah tak dapat disekat
Makin dicurah makin mendekat

Kata orang, guru itu sungguh bosan
Setiap tahun, muka sama setiap bulan
Aku kata, guru itu sungguh riang
Sekali berkata murid ketawa girang
Bila berjaya, murid terus menjulang
Jasa bakti tak pernah hilang

Terima kasih bapak guruku...
Terima kasih ibu guruku...
Kau timang aku dengan kasihmu
Kau nyalakan lentaraku dengan sayangmu
Hingga berarti langkah dalam hidupku

Puisi Untuk Guru

- Copyright © Jejak Aria Winardi - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Aria Winardi -