Archive for 2014
Marjono, Sampidi, Mukhlis, dan
Anung mendapat jadwal giliran mendarus al-qur’an di Langgar Nurul Huda kampung
Mapel tempat mereka tinggal. Selepas ashar, mereka pun janjian untuk datang
bersama-sama selepas shalat tarawih nanti malam.Empat sahabat yang selalu
bersama itu pun sepakat untuk tidak pulang sepelas shalat tarawih nanti malam.
Waktu yang mereka janjikan pun
telah tiba, para jama’ah tarawih pun mulai meninggalkan langgar.Namun, setelah
semuanya lengang, mereka tak melihat batang hidung Anung.Ketiga sahabat itu pun
menggumam karena Anung tak menepati janji.Tanpa menunggu kedatangan Anung,
ketiganya pun bergegas memulai tadarus di dalam langgar yang masih berdinding
bambu itu.
Sampidi sedang mendapati mendarusal-qur’an,
surah Al-Baqarah Juz 1.Mukhlis bertugas menyimak sebelum kebagian jatah untuk
membaca.Jono yang mengawali membaca, telah menyelesaikan tiga a’in, selonjoran
meluruskan punggung.Tak lama ketika Sampidi mendarus, datang Slamet, dan
Salikan dengan menenteng ember yang berisi jaminan untuk orang yang mendarus.Dua
orang yang terakhir datang itu pun ikut menyimak Sampidi mendarus.
“Kemana si Anung ya, sampai saat
ini belum datang juga?”Gumam Jono selonjoran di samping Salikan yang sedang
menyimak.
“Tadi aku lihat, dia baru pulang
dari warung Bu Tijah.Sepertinya beli Kopi untuk Bapaknya”.Sahut Salikan
menghentikan kegiatan menyimak Sampidi.
“Oooohhh…..pantesan kok belum
datang”.
Tak lama setelah Salikan ikut
selonjoran Marjono, Slamet pun mengikuti tingkah Salikan untuk menghentikan
kegiatan menyimak.Tetapi dia tidak ikut selonjoran melainkan mengeluarkan buku
pelajaran yang dia simpan di balik lipatan sarungnya.Buku yang dia keluarkan
adalah buku latihan soal-soal Bahasa Indonesia kelas enam.Ulangan catur wulan pertama
tahun ini memang berbarengan dengna bulan ramadhan. Slamet selalu membawa buku
pelajaran ke langgar sambil menunggu giliran ia mendarus.
Tampak dari kejauhan seorang anak
tergopoh-gopoh lari ke arah langgar.Ketiga anak yang sedang rehatan mendarus
bangkit dari tempat selonjoran untuk menamakan siapa yang datang.Semakin dekat
anak itu dengan nafas yang tersenggal.Ternyata anak yang dari tadi mereka
tunggu yang datang, Anung.
“Ohh…. Dari mana saja kamu, kok baru datang?”Jono menyambut Anung
dengan pertanyaan.
“Maaf, aku tadi diminta untuk beli
kopi bapak”.Dengan nafas yang masih tersenggal dia menjawab Jono.
Seperti hari-hari sebelumnya di
bulan ramadhan, jika hendak tidur di langgar Anung selalu membawa jam
beker.Kali ini juga.Beker itu sudah diset agar berdering pukul 02.00, saat
mereka harus patroli untuk membangunkan warga yang hendak memasak untuk makan
sahur.
Langgar Nurul Huda yang berada di
barat rumah warga Mapel itu memang menjadi rumah kedua bagi anak kampung
tersebut. Selain berfungsi sebagai tempat beribadah warga, tempat itu juga
dijadikan markas bagi anak-anak yang akan atau selesai main di bendungan
belakang langgar. Terkadang dijadikan untuk mengatur jadwala mereka bermain
bola.Beberapa anak juga memanfaatkannya untuk belajar kala ulangan umum tiba.
“Alah pake belajar segala,
paling-paling soal THB-nya gampang!”. Ledek Jono kepada Slamet yang tengah berkutat dengan buku
latihannya.
“Belajar apa sih, Met?” Tanya Anung
“Bahasa Indonesia, Nung”. Jawab
Slamet.
“Alah… bahasa Indonesiamalah
gampang, wong Cuma soal membaca saja dan pasti jawabannya ada di bacaan soal”.Jono
terus menggoda.
Slamet tak menanggapi celetukan
Jono.
“Sudah jangan ngomong saja, itu-loh
Mukhlis enggak ada yang nyimak!”Hardik Sampidi yang selesai mendarus kepada
Jono yang tetap menggoda Slamet.
“Aku capek Di, tadi sudah tiga a’in
aku baca. Waktunya untuk istirahat.hehehehe…”Jono cekikikan menimpali Sampidi.“Salikan
saja yang menyimak, dari tadi dia belumnyimak dan baca”.
“Aku juga capek Jon, tadi sore
selepas Ashar bantu bapak ke sawah cari makan kambing”. Sahut Salikan sembari
memalingkan pandangan dari Marjono dan Sampidi.
“Kalau begitu biar aku saja yang
menyimak Mukhlis”.Anung menawarkan diri, segera mendekat kepada Mukhlis yang
sedang mendarus.
Entah karena belum terkena dampak
dari kehidupan kotaatau memang dasarnya mereka itu anak-anak baik. Lihatlah
tingkah mereka.Di tengah persiapan THB (Tes Hasil Belajar.red), mereka masih menyempatkan waktu untuk tadarus Al-Qur’an.Senakal
apaun mereka, masih saja mau dan rajin membaca Al-Qur’an.Marjono yang tahun
lalu tidak naik kelas saja masih rajin mengaji, meski sambil bermain dan
bercanda.
“Nung, ganti kamu yang darus!”
Pinta Mukhlis
“Lhoo…kok cepet?” Sahut Anung.
“Cepet, cepet…aku darus sampe punggungku pegel-pegel begini kok”
Jawab Mukhlis.
“Itu tandanya dipunggungmu ada
setannya” Sahut Slamet.
“Enggak mungkin dia diganggu
setean, lah wong temannya kok” Cetus
Anung.
“Hahaha…” Keempat sahabat itupun
mengakak.
“Oh, asem…ayondang darus, Nung!”Sunggut Mukhlis.
Anung menggeser tempat duduknya untuk
melanjutkan mendarus.Sedangkan Mukhlis langsung mengambil tempat di sebelah
Marjono untuk selonjoran merenggangkan punggungnya.Anung mendarus tanpa ada yang
menyimak, ke-empat temannya sedang larut dalam guyonan khas mereka.Dua halaman
sudah terbaca oleh Anung.
“Kan, Salikan, giliran kamu
mendarus!” Panggil Anung.
Tak ada jawaban, malah terdengar
suara dengkuran lembut dari mulut Salikan.
“Yaa…tewas” ucap Anung. “Kan,
Bangun! Giliranmu mendarus”
“Sudah, enggak usah dibangunkan
kita akhiri saja darusannya” Tukas Slamet sembari merapikan buku latihannya.
“Kita Istirahat saja, sudah jam setengah sebelas”
Anung pun melipat menandai Juz yang
baru saja ia selesaikan dan menata kembali Al-Qur’an di tempatnya. Jam bekernya
menunjukkan waktu 10.30. Mereka pun bersiap untuk tidur.
*******
Kriiiiing……Kriiiing…..
Bunyi Nyaring beker menggelitik
gendang telinga.Marjono geragapan dengan napas tak beraturan.Salikan mengeliat
bangkit dari tidurnya, tanggannya menjulrur ke arah beker di atas kepala Anung
dan mematikan suara yang membisingkan ketenangan tidurnya.Dilihatnya Slamet dan
Anung masih tengkurap tertidur.
“Hooah…jam berapa sih ?’ desis
Salikan sambil berusaha menamakn matanya ke dalam angka yang melingkar di
beker. “Cepet bangun, sudah jam dua” pintanya.
“Bangun rek, jadi patroli
nggak?”Marjono yang sudah mulai tenang memanggil dengan suara parau.
“Ehhhmmm…..bentar lagi” Sampidi
hanya mengubah posisi tidurnya
“Klis, patroli ngak?” Tanya
Salikan.
“Aku ngantuk” Mukhlis bermalasan,
“Aku ndak ikut” tambahnya.
“Nung, Met, jadi patroli ndak?”
Tanya Marjono.
Keduanya tak menjawab.Terlelap.
“Berdua saja, Kan?” tawar Marjono.
“Hmm..ayo wis”.
Keduanya bangkit lalu menuju ke
tempat wudhu untuk membasuh muka guna mengusir kantuk.Marjono menenteng
kentongan, Salikan membawa panci penyok dan pemukul kayu.Tak lama kemudian,
suara khas patroli pun terdengar dan suara keduanya pun menyemangat
membangunkan.
“Sahuuurrr…Sahur..!” Suara Marjono.
“Bapak, Bapak, Ibu, Ibu, dan
Adik,adik, bangun….Sahur…”Sambung Salikan.
Marjono dan Salikan menyusuri
jalanan kampung Mapel dari arah utara ke selatan.
“Hei, jam berapa ini?” teriak Bu
Tijah dari balik warungnya.“Ngelindur ta?”
Marjono dan Salikan
celinggukan.Seorang bapak yang masih nongkrong di warung Bu Tijah menghampiri
mereka berdua. “Baru jam 11 patroli, sana tidur dulu!” Usir bapak itu.
Marjono dan Salikan membalikkan
badan dengan rasa kebingungan.Segera mengambil langkah seribu tanpa menengok ke
belakang lagi.Sesampai di langgar dengan napas ngos-ngosan, mereka mendapati
pemandangan yang mengesalkan.Suara tawa memenuhi langgar.Mukhlis cekikikan
berguling-guling di lantai, Slamet senyum-senyum bersandar di bawah Jidor
langgar.Sementara Anung meloncat-loncat kegirangan dengantelunjukmengarahMarjonodanSalikan.
“Ohh….Wedus kabeh” umpat Marjono sambiri membanting kentongan.
“Gaplek..gaplek..dibujuki” Salikan
lemas terduduk di depan langgar.
“Makanya jangan tidur sore-sore”
Ujar Sampidi sambil menahan tawa.
PATROLI RAMADHAN
Senyum merah terlukis indah di balik awan hari sabtu. Sang surya pun
mulai berbagi tempat dengan rembulan. Suasana mulai ramai di tengah
alun-alun kota Mojokerto. Bedug magrib telah dipukul oleh pak tua.
“Alhamdulillah, waktu berbuka telah tiba” seru bagas menyambut datangnya suara muadzin yang berkumandang.
Air minum yang disiapkan penggurus masjid pun memjadi buruan para jama’ah. Silih berganti para jama’ah mengambil air minum untuk membatalkan puasanya. Suasana yang begitu akrab terjadi di teras masjid sebelah barat alun-alun. Parkiran pun mulai meluap. Hari itu, minggu pertama bulan puasa Ramadhan pada tahun 2007.
*****
“lho, Bagas dari mana?kok tumben magrib-magrib ada di sini?” pertanyaan yang membuyarkan angan Bagas seketika itu.
“Assalamu’alaikum Dedi, oalah.. aku dari kerja tadi, terus mampir muter-muter di alun-alun sambil nunggu magrib. Maklum anak muda”. Disertai ketawa yang bersahabat.
Dedi dan Bagas merupakan teman lama ketika sekolah di sebuah sekolah swasta kota Mojokerto. Agak aneh memang, Bagas yang rumahnya berada jauh di sebelah utara kota bisa Shalat magrib di masjid dekat rumah Dedi yang tepat berada dibelakang Masjid. Obrolan pun terjadi antara dua sahabat yang lama tak bertemu itu.
“Sekarang kerja dimana kamu ?” tanya Dedi melanjutkan obrolan.
“Aku kerja di pabrik daerah Driyorejo, baru kok aku kerja di sana”
“dulu sempat sih, kerja di pabrik sepatu di daerah Tropodo.” Jawab Bagas sembari membetulkan tali sepatunya.
“Ayo mampir ke rumah, kita buka puasa bareng!” Dedi menawarkan sambil berdiri mengulurkan tangannya
“Terima Kasih,lain waktu saja aku juga buru-buru mau pulang kok” jawab Bagas
“Ya sudah, kapan-kapan mampir ya!dekat kok rumahku” sambil berlalu meninggalkan Bagas yang kebetulan mengambil sepeda motornya.
Suasana mulai ramai. Parkir sepeda motor di depan masjid semakin penuh. Para penjajah kuliner pun sudah memasuki lapangan besar di tengah kota Mojokerto. Bagas menuntun Sepeda motornya menjauh dari parkiran dalam halaman masjid.
“Ehhhh.....” suara yang masuk ke telingganya yang baru saja tertutup oleh helm, mengagetkan Bagas.
“oh, maaf mbak tidak sengaja” spontan Bagas menjawab suara halus tadi.
Bagas menyalakan mesin sepeda motornya dan bersiap melanjutkan perjalanannya. Bukan menuju arah pulang, Bagas berputar arah ke arah selatan jalan Mojopahit. Dipacunya kuda besi itu dengan pelan, sembari menikmati pemandangan yang disajikan toko yang berderet panjang ke selatan.
“kayaknya aku kenal dengan perempuan tadi. Tapi apa iya dia ? Mungkin juga iya,kata teman-teman, dia sekerang sedang kuliah di PPNI Mojokerto. Ah, minggu depan aku coba tungguin lagi dia di masjid. Kalo emang Tuhan berkehendak pasti ketemu”. Gumam Bagas, sepanjang jalan menyelusuri pertokoan Mojopahit dengan Sepeda motor sport warna hitam bergaris kuningnya.
*****
Hari yang terik di minggu kedua bulan puasa tahun itu. Sirine pabrik mengaung dengan garangnya. Para penghuninya mulai mengantri di depan kantor bagiannya masing-masing untuk mengambil gaji mingguannya. Suasana riuh penuh canda dengan wajah sumingrah tergambar jelas siang itu tepat pukul 14.30. Persis seperti itulah suasana hati Bagas siang itu. Selain menerima gajinya, Bagas juga sangat menanti hari sabtu itu karena ada misi yang harus dilaksanakannya tak lain adalah menunggu dan bertemu perempuan berkerudung di teras masjid Al-Fattah Mojokerto.
Ada yang aneh memang dengan tingkah Bagas waktu itu, dia tak lagi berhenti sejak bersama teman-teman kerjanya untuk bercanda dan bercengkrama di warung depan pabrik. Dia langsung mengambil motor sportnya dan bergegas pulang.
“Gas, sini dulu lah kenapa buru?” teriak Feri mencoba menghentikan laju Bagas.
Bagas hanya memnjawab seruan itu dengan membunyikan klakson sepedamotornya. Dilajukannya kendaraannya itu dengan cepat menyusuri jalanan Driyorejo yang tampak mulai macet, karena banyak orang keluar dari tempat mereka bekerja.
Jalan besar yang dipilih Bagas agar cepat sampai tujuannya. Lebih dari setengah jam dia sampai di depan mulut jembatan besar pembuka kota Mojokerto. Tersendat sebentar tiga lampu di perempatan Gajah Mada. Sign kanan dinyalakan, bertanda arah ke pusat kota.
Para jama’ah ashar satu per satu meninggalkan gedung megah, tampak tempat parkir yang lenggang. Suara merdu pendarus sangat lembut membelai rongga telingganya, perlahan dia tuntun sepeda motornya memasuki halaman masjid Al-Fattah. Hanya terdapat tiga sepeda motor yang berjajar, sepeda matic biru, sepeda angin dan sepeda motor milik Bagas. Selepas meletakkan sepeda motornya dia berlalu menuju tempat pensucian.
“tumben sepi hari ini”. Bergumam dia melewati kolam air kecil menuju pensucian.
***********************
“Alhamdulillah....” serunya.
Melepaskan penat kerja, serta peluh raganya. Berlalu menuju teras depan yang berlantai keramik marmer yang menambah rasa dingin nyaman lantai Masjid ini. Ditentengnya tas kerja yang berisi pakaian kerjanya. Sungguh rasa nyaman dan damai hatinya.
Dari kejauhan masih tampak tiga kendaraan terparkir rapi. Dipandangi lama ketiga kendaraan itu. Semakin lama, semakin jelas ia memandangi. Menggurat kening, memicingkan penglihatannya.
“Sepertinya, aku kenal sepeda itu?” tanyanya
“Iya sepeda itu”
“Itu pasti dia”
semakin yakin dia akan bertemu dengan gadis itu. Segera ia pakai sepasang sepatunya. Merunduk mengikat tali untuk menuju arah patrinya.
“Bagas!” suara yang tak asing memanggil namanya
belum selesai mengikta tali, bagas tak hiraukan suara yang memanggil. Masih dalam keadaan merunduk. Mengencangkan tali dan berlalu meninggalkan teras sejuk.
“Hay, Bagas!” untuk kedua kalinya suara itu menembus telingganya
semakin menjauh bagas berlalu. Namun ada yang aneh dalam hatinya, mulai merasa ada yang memanggil. Tapi bukan memanggilku, batinnya berkata. Dia pandangi dalam-dalam matic biru itu, semakinm tajam dan jelas ingatannya. Sepeda motor yang sempat ia senggol minggu kemarin dikendarai seorang gadis berbaju serba putih.
“Kenapa mas, memandangi sepeda saya?” dari belakang suara itu mengagetkan Bagas
seketika itu pula Bagas memalingkan pandangannya ke sumber suara yang mengegetkannya.
“Lhoo?”
“Tu kan, kamu Bagas ?” menambah suaranya si Gadis berkerudung cokelat tampak lebih ceria
“Dewii.....?” Bagas tak percaya yang diliat adalah teman semasa SMP.
Masih tak percaya dengan apa yang dialaminya. Bertemu dengan gadis ynag sempat menjadi pengisi hatinya kala waktu akhir SMP. Gadis berkerudung munggil yang sering diganggunya kala itu. Kini berubah menjadi gadis berkerudung nan anggun, cantik.
“Jadi, yang memanggil tadi kamu Wi?” tanya Bagas.
“Halah, kamu saja yang sudah lupa sama aku” sedikit ngambek gadis itu.
“Maaf Dewi, saya kira tadi aku berhalusinasi. Soalnya tadi hanya berpikir mencari si empunya sepeda motor ini”
“Berarti yang aku senggol sabtu lalu, kamu?” tambah Bagas.
“Uhh...Iya, dasar!” sembari mencubit lengan Bagas. “setelah kejadian itu, aku manggil kamu, tapi kamunya ndak respon”. Dewi memasang wajah jutek manjanya.
“Hehehehe..... ternyata kamu juga mengejarku” Goda Bagas.
“Kamu juga kan, mencari Si punya sepeda motor ini?” balik menggoda
“Emang kalau.......” Belum sampat melanjutkan kata-katanya, Dewi sudah melanjutkan Frase yang ingin diucapkan Bagas.
“Jodoh itu ndak akan tertukar dan pasti ketemu”. Tertawa riang kedaunya
“Eh, kamu mau kemana?” Tanya Dewi.
“Mau pulang, kan sudah ketemu siapa pemiliknya” tertawa Bagas menggoda Dewi.
“Lha, masak udah ketemu kok malah ditinggal pulang” kembali ngambek manja
“Hehehe...emangnya mau aku ajak jalan-jalan dan cari makan?” tanya Bagas dengan ramahnya
“Ya itu yang aku tunggu. Hihihihi” kembali ceria...
“Siap Bu Perawat” sambil meletakkan jemarinya di keningnya layaknya penghormatan kepada komandan.
Kedua teman mas SMP itu pun bersama-sama berlalu meninggalkan masjid Al-Fattah, berkeliling kota mojokerto sembari menunggu waktu berbuka puasa datang.
******THE END*****
“Alhamdulillah, waktu berbuka telah tiba” seru bagas menyambut datangnya suara muadzin yang berkumandang.
Air minum yang disiapkan penggurus masjid pun memjadi buruan para jama’ah. Silih berganti para jama’ah mengambil air minum untuk membatalkan puasanya. Suasana yang begitu akrab terjadi di teras masjid sebelah barat alun-alun. Parkiran pun mulai meluap. Hari itu, minggu pertama bulan puasa Ramadhan pada tahun 2007.
*****
“lho, Bagas dari mana?kok tumben magrib-magrib ada di sini?” pertanyaan yang membuyarkan angan Bagas seketika itu.
“Assalamu’alaikum Dedi, oalah.. aku dari kerja tadi, terus mampir muter-muter di alun-alun sambil nunggu magrib. Maklum anak muda”. Disertai ketawa yang bersahabat.
Dedi dan Bagas merupakan teman lama ketika sekolah di sebuah sekolah swasta kota Mojokerto. Agak aneh memang, Bagas yang rumahnya berada jauh di sebelah utara kota bisa Shalat magrib di masjid dekat rumah Dedi yang tepat berada dibelakang Masjid. Obrolan pun terjadi antara dua sahabat yang lama tak bertemu itu.
“Sekarang kerja dimana kamu ?” tanya Dedi melanjutkan obrolan.
“Aku kerja di pabrik daerah Driyorejo, baru kok aku kerja di sana”
“dulu sempat sih, kerja di pabrik sepatu di daerah Tropodo.” Jawab Bagas sembari membetulkan tali sepatunya.
“Ayo mampir ke rumah, kita buka puasa bareng!” Dedi menawarkan sambil berdiri mengulurkan tangannya
“Terima Kasih,lain waktu saja aku juga buru-buru mau pulang kok” jawab Bagas
“Ya sudah, kapan-kapan mampir ya!dekat kok rumahku” sambil berlalu meninggalkan Bagas yang kebetulan mengambil sepeda motornya.
Suasana mulai ramai. Parkir sepeda motor di depan masjid semakin penuh. Para penjajah kuliner pun sudah memasuki lapangan besar di tengah kota Mojokerto. Bagas menuntun Sepeda motornya menjauh dari parkiran dalam halaman masjid.
“Ehhhh.....” suara yang masuk ke telingganya yang baru saja tertutup oleh helm, mengagetkan Bagas.
“oh, maaf mbak tidak sengaja” spontan Bagas menjawab suara halus tadi.
Bagas menyalakan mesin sepeda motornya dan bersiap melanjutkan perjalanannya. Bukan menuju arah pulang, Bagas berputar arah ke arah selatan jalan Mojopahit. Dipacunya kuda besi itu dengan pelan, sembari menikmati pemandangan yang disajikan toko yang berderet panjang ke selatan.
“kayaknya aku kenal dengan perempuan tadi. Tapi apa iya dia ? Mungkin juga iya,kata teman-teman, dia sekerang sedang kuliah di PPNI Mojokerto. Ah, minggu depan aku coba tungguin lagi dia di masjid. Kalo emang Tuhan berkehendak pasti ketemu”. Gumam Bagas, sepanjang jalan menyelusuri pertokoan Mojopahit dengan Sepeda motor sport warna hitam bergaris kuningnya.
*****
Hari yang terik di minggu kedua bulan puasa tahun itu. Sirine pabrik mengaung dengan garangnya. Para penghuninya mulai mengantri di depan kantor bagiannya masing-masing untuk mengambil gaji mingguannya. Suasana riuh penuh canda dengan wajah sumingrah tergambar jelas siang itu tepat pukul 14.30. Persis seperti itulah suasana hati Bagas siang itu. Selain menerima gajinya, Bagas juga sangat menanti hari sabtu itu karena ada misi yang harus dilaksanakannya tak lain adalah menunggu dan bertemu perempuan berkerudung di teras masjid Al-Fattah Mojokerto.
Ada yang aneh memang dengan tingkah Bagas waktu itu, dia tak lagi berhenti sejak bersama teman-teman kerjanya untuk bercanda dan bercengkrama di warung depan pabrik. Dia langsung mengambil motor sportnya dan bergegas pulang.
“Gas, sini dulu lah kenapa buru?” teriak Feri mencoba menghentikan laju Bagas.
Bagas hanya memnjawab seruan itu dengan membunyikan klakson sepedamotornya. Dilajukannya kendaraannya itu dengan cepat menyusuri jalanan Driyorejo yang tampak mulai macet, karena banyak orang keluar dari tempat mereka bekerja.
Jalan besar yang dipilih Bagas agar cepat sampai tujuannya. Lebih dari setengah jam dia sampai di depan mulut jembatan besar pembuka kota Mojokerto. Tersendat sebentar tiga lampu di perempatan Gajah Mada. Sign kanan dinyalakan, bertanda arah ke pusat kota.
Para jama’ah ashar satu per satu meninggalkan gedung megah, tampak tempat parkir yang lenggang. Suara merdu pendarus sangat lembut membelai rongga telingganya, perlahan dia tuntun sepeda motornya memasuki halaman masjid Al-Fattah. Hanya terdapat tiga sepeda motor yang berjajar, sepeda matic biru, sepeda angin dan sepeda motor milik Bagas. Selepas meletakkan sepeda motornya dia berlalu menuju tempat pensucian.
“tumben sepi hari ini”. Bergumam dia melewati kolam air kecil menuju pensucian.
***********************
“Alhamdulillah....” serunya.
Melepaskan penat kerja, serta peluh raganya. Berlalu menuju teras depan yang berlantai keramik marmer yang menambah rasa dingin nyaman lantai Masjid ini. Ditentengnya tas kerja yang berisi pakaian kerjanya. Sungguh rasa nyaman dan damai hatinya.
Dari kejauhan masih tampak tiga kendaraan terparkir rapi. Dipandangi lama ketiga kendaraan itu. Semakin lama, semakin jelas ia memandangi. Menggurat kening, memicingkan penglihatannya.
“Sepertinya, aku kenal sepeda itu?” tanyanya
“Iya sepeda itu”
“Itu pasti dia”
semakin yakin dia akan bertemu dengan gadis itu. Segera ia pakai sepasang sepatunya. Merunduk mengikat tali untuk menuju arah patrinya.
“Bagas!” suara yang tak asing memanggil namanya
belum selesai mengikta tali, bagas tak hiraukan suara yang memanggil. Masih dalam keadaan merunduk. Mengencangkan tali dan berlalu meninggalkan teras sejuk.
“Hay, Bagas!” untuk kedua kalinya suara itu menembus telingganya
semakin menjauh bagas berlalu. Namun ada yang aneh dalam hatinya, mulai merasa ada yang memanggil. Tapi bukan memanggilku, batinnya berkata. Dia pandangi dalam-dalam matic biru itu, semakinm tajam dan jelas ingatannya. Sepeda motor yang sempat ia senggol minggu kemarin dikendarai seorang gadis berbaju serba putih.
“Kenapa mas, memandangi sepeda saya?” dari belakang suara itu mengagetkan Bagas
seketika itu pula Bagas memalingkan pandangannya ke sumber suara yang mengegetkannya.
“Lhoo?”
“Tu kan, kamu Bagas ?” menambah suaranya si Gadis berkerudung cokelat tampak lebih ceria
“Dewii.....?” Bagas tak percaya yang diliat adalah teman semasa SMP.
Masih tak percaya dengan apa yang dialaminya. Bertemu dengan gadis ynag sempat menjadi pengisi hatinya kala waktu akhir SMP. Gadis berkerudung munggil yang sering diganggunya kala itu. Kini berubah menjadi gadis berkerudung nan anggun, cantik.
“Jadi, yang memanggil tadi kamu Wi?” tanya Bagas.
“Halah, kamu saja yang sudah lupa sama aku” sedikit ngambek gadis itu.
“Maaf Dewi, saya kira tadi aku berhalusinasi. Soalnya tadi hanya berpikir mencari si empunya sepeda motor ini”
“Berarti yang aku senggol sabtu lalu, kamu?” tambah Bagas.
“Uhh...Iya, dasar!” sembari mencubit lengan Bagas. “setelah kejadian itu, aku manggil kamu, tapi kamunya ndak respon”. Dewi memasang wajah jutek manjanya.
“Hehehehe..... ternyata kamu juga mengejarku” Goda Bagas.
“Kamu juga kan, mencari Si punya sepeda motor ini?” balik menggoda
“Emang kalau.......” Belum sampat melanjutkan kata-katanya, Dewi sudah melanjutkan Frase yang ingin diucapkan Bagas.
“Jodoh itu ndak akan tertukar dan pasti ketemu”. Tertawa riang kedaunya
“Eh, kamu mau kemana?” Tanya Dewi.
“Mau pulang, kan sudah ketemu siapa pemiliknya” tertawa Bagas menggoda Dewi.
“Lha, masak udah ketemu kok malah ditinggal pulang” kembali ngambek manja
“Hehehe...emangnya mau aku ajak jalan-jalan dan cari makan?” tanya Bagas dengan ramahnya
“Ya itu yang aku tunggu. Hihihihi” kembali ceria...
“Siap Bu Perawat” sambil meletakkan jemarinya di keningnya layaknya penghormatan kepada komandan.
Kedua teman mas SMP itu pun bersama-sama berlalu meninggalkan masjid Al-Fattah, berkeliling kota mojokerto sembari menunggu waktu berbuka puasa datang.
******THE END*****
GADIS BERKERUDUNG COKELAT
Terik
matahari waktu itu begitu membakar kulit ariku. Sehabis berjalan-jalan di pasar
Mojokerto yang berada di jalan Niaga untuk membeli peralatan listrik, aku coba
mencari tempat untuk menenggelamkan hawa panas yang hinggap dalam tubuhku.
Hingga akhirnya ku putuskan untuk melajukan kendaraan menuju tempat makan yang
biasanya ku kunjungi bersama temanku.
Suasana
yang tak biasa ketika aku berkunjung ke tempat itu telah menyambutku. Sepi,
hanya ada beberapa orang yang telah mengisi tempat duduk yang disediakan yang
punya warung. Setelah memarkir kendaraan, segera aku melaju ke gerobak Si
pedagang untuk memesan makanan, seperti biasa mie ayam dan segelas es jeruk.
“Mbak,
mie ayam tanpa bakso satu dan es jeruknya.” Pintaku kepada penjual.
“Iya
mas, duduk dalam atau di luar?” Penjual bertanya balik kepadaku.
“Dalam
mbak, sekalian ngadem.” Jawab
singkatku.
Segera
setelah memesan makanan, aku menuju tempat yang aku pesankan kepada penjual,
agar beliaunya tahu dimana aku duduk nantinya. Ku pandangi berulang kali
sudut-sudut ruangan yang ada dua meja rendah berukuran panjang tampak begitu
bersih. Ku hadapkan badan ini tepat mengarah ke muka kipas angin yang berputar,
untuk mengurangi gerah yang menjalar di tubuh ini.
“Tak
seperti biasanya tempat ini, jam sesiang ini meja itu masih tampak putih?” Aku bertanya dalam pikirku.
Lebih
sepuluh menit aku duduk di ruangan itu sendirian, pesananku belum juga
dikirimkan. Suhu badanku juga mulai terasa mengering dan tak sepanas lagi. Tapi
apa yang aku pesan dari tadi tak kunjung tampak dihadapanku.
“Sepi,
ramai, sama saja, pelayanan di sini sangat lambat”. Gumamku tak mampu menahan
lapar.
Masih
dalam keadaan mendongkol, ku coba untuk menengkok ke tempat si penjual.
Ternyata si penjual tak ada di tempat, entah kemana perginya. Tak begitu lama
ada sepasang muda-mudi yang masih lengkap berseragam pramuka masuk ke tempat
dimana aku duduk sendirian.
“Ini
mas, mie ayam dan es jeruknya”. Penjual meletakkan hidangan pesananku di atas
meja rendah.
“Iya
mbak, terima kasih”. Jawab singkat dengan senyum kecilku.
Tak
lama penjual meninggalkan ruangan. Aku segera melengkapi mie ayamku dengan
bumbu-bumbu yang telah disediakan penjual di atas meja. Mulai, dari saos hingga
kecap manis ku tuangkan ke dalam mangkok sesuai dengan seleraku. Dua remaja
yang duduk tepat di depanku, masih terlihat asyik bermain handphone
masing-masing.
“Mari
mbak, mas, makan dulu”. Ucapku ke kedua remaja itu sebelum aku menhabiskan
makanan.
“Iya,
mas silahkan!” keduanya membalas secara bersamaan.
Segeraku
mulai menaklukkan hawa lapar dan panas di tubuhku dengan dua senjata andalanku
itu. Dengan perlahan ku coba menikmati hidanganku. Masih terlihat kedua remeja
itu bercengkrama manja di depanku. Seperti aku dan dirinya saja kedua remeja
itu, pikirku teringat akan keberadaannya.
“Tadi
di kelas kamu kok rame banget .ada
apa?” tanya si cowok itu kepada si ceweknya, yang membuat daun telingaku
bergetar ingin mengetahuinya.
“Oohh…
tadi Mitha ulang tahun, disiram teman-teman dengan air campuran tepung”. Jawab
si cewek yang masih asyik bermain handphone di pangkuannya.
Aku
yang sedang asyik menikmati hidangan, sesekali menengadahkan kepalaku. Bukan
karena ingin melihat kedua remaja itu, tapi untuk menahan air hidung yang
terasa mengalir akibat kepedasan. Namun, seketika itu pula aku bisa melihat
ekspresi kedua remaja tersebut.
Meski
sesekali aku harus mengusap hidungku dengan tissu,
tugas menghilangkan laparku pun berakhir. Mungkin kesalahan pencampuran sambal
dan sausnya sehingga pedasnya begitu terasa. Namun, masih ada es jeruk untuk
menghilangkan pedas ini, pikirku.
“Kamu
marah ya?” Tanya si cowok kepada ceweknya yang tak sengaja aku dengar.
“Enggak,
kenapa juga marah?”. Timpal cewek itu dengan singkat.
“Ya
mungkin karena kejadian kamis kemarin di kantin.”
“Kejadian
apa di kantin ? aku ndak lihat.” Si cewek masih asyik menunduk memainkan
handphonenya.
“Karena
aku duduk sama Shela?” Si cowok terus mencoba mengejar agar si cewek mengaku
kalau marah.
Aneh
memang, ketika seseorang sudah berkata “tidak marah” harusnya kan disyukuri
saja tak perlu mencari cara lain hanya untuk membuat orang mengaku dan berkata
“marah”. Sambilku nikmati hembusan kipas angin, pikiranku melayang.
“Oohh…itu,
kenapa juga marah. Kamu duduk sama siapa pun terserah kamu.” Jawab si cewek
yang kali ini mengangkat wajahnya dan tepat berhadapan ke muka ku.
Seketika
itu, aku menyembunyaikan wajahku. Bukan karena takut, melainkan malu dipandangi
seorang Cewek.hehehehe…. merasa GR sendiri.
“Aku
pun sering kok duduk bersanding sama cowok lain di kelas”. Lanjut si cewek
“Tapi
ini kan beda sayang, aku duduknya sama Shela”. Terus mencoba mendapatkan
jawaban pasti dari si cewek.
Semakin
seru nich kedua remaja bercengkrama,
pikirku. Yang satu sudah bilang tidak marah, satunya ingin membuktikan bahwa si
cewek marah. Aduh…aduh…. Ada….ada…. saja tingkah remaja.
“Kamu
sayang aku kan?” pertanyaan normatif terlontar dari si cowok.
“Ya
sayanglah, kalo ndak sayang kenapa
juga aku mau diajak ke sini”. Jawab si cewek yang kali ini tatapannya tak
mengarah ke muka ku tapi jauh menyebrang ke jalan di seberang warung makan.
Lama
mereka berdebat mencari pengakuan dan munculnya kata “MARAH”, selama itu pula
hidangan mereka tak kunjung datang. Apa mereka ke tempat ini hanya sekedar
duduk-duduk saja? Pikirku. Si cewek kembali lagi mengarahkan pandangannya ke
handphone yang dipangkunya. Sesekali dia seperti mengetik sms, tapi entah
dengan siapa.
“Kalo
kamu sayang, ngaku dong kalau kamu
marah?” terus bertanya si cowok kepada si cewek.
“Aduhh…..
begitu berharganya ya, kata “MARAH” untuk si cowok ini. Sudah tahu si cewek
tidak marah, tapi malah ditanya untuk marah.” Gumamku sendiri sambil
menggelengkan kepala.
“Kamu
ini aneh ya, aku kan sudah bilang tidak marah. Kenapa memaksa aku untuk bilang
“MARAH”. Kali ini si cewek menjawab dengan nada sedikit meninggi di atas Notasi
“La”.
“Ya,
aku hanya ingin memastikan saja apa kamu benar-benar tidak marah. Begitu saja.”
Jawab si cowok dengan volume suara sedikit keras dan sedikit melirik ke arahku.
“Kan,
aku sudah bilang, sudah dua kali pula aku menjawab “Tidak Marah”. Apa itu
kurang cukup?” Jawab si cewek sambil
memasukkan handphonenya ke dalam tas.
Aku
yang berada tepat dihadapan mereka, semakin menyembunyaikan raut wajahku hingga
mereka tak merasa malu terhadapku, pikirku. Hidangan mereka pun telah disajikan
di atas meja oleh entah pelayan yang mana yang mengantarkan. Mereka diamkan
saja hidangan itu mengepul assap panas baksonya.
“Bukan
masalah cukup atau tidak cukup, tapi…..” si cowok ingin menjelaskan namun tak
tuntas.
“Tapi…tapi
apa? Kamu mau aku menjawab dengan kata “MARAH”? “ Sahut si cewek, yang terlihat
sudah selesai merapikan bawaanya.
“Oke,
ya aku MARAH dengan kamu. Bukan karena kamu duduk dengan Shela, melainkan
keegoisanmu bertanya hal sepele ini. Dan ingat, aku bukanlah cewek pencemburu
seperti apa yang ada di dalam otakmu. Kamu duduk dengan Shela kek, Marni, Vega, Agnes, Janet, atau
cewek mana pun terserah. Karena itu hak kamu.” Lanjut si cewek yang membuat si
cowok tertegun dengan jawaban ceweknya.
Aku
yang masih duduk dihadapan mereka, hanya bisa tersenyum melihat si cowok
berhasil mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Hidangan mereka pun juga masih
setia menunggu untuk dihabiskan. Si cewek kembali melihat ke luar warung makan,
dan terlihat seorang cowok berseragam pramuka menunggang sepeda motor besar
warna merah kombinasi hitam dengan mesin masih hidup di depan warung.
“Sudah,
puas kamu dengan jawabanku. Kalau kamu kurang puas, dengarkan ini ! mulai hari
ini kamu tidak usah menghubungi aku lagi, dan kamu sudah tak usah susah payah
mencari kebenaran aku marah atau tidak”. Jawab si cewek dan segera berdiri.
Si
cowok kini merasa menyesal, dengan apa yang dia tanyakan. Tak bergerak, melihat
si cewek bangkit dari tempat duduknya. Hanya bisa mengikuti langkah kaki si
cewek menjauh dari hadapannya. Mungkin yang lebih memuaskan si cowok adalah si
cewek melangkahkan kakinya ke arah cowok penunggang sepeda motor besar yang
sedari tadi berdiam di depan warung bakso.
Aku
pun segera bangkit dari tempat duduk,bukan untuk menyusul atau mengikuti
langkah si cewek tadi melainkan jam dudukku sudah habis. Namun pertanyaan dalam
pikiranku kembali muncul, kira-kira siapa yang menemani si cowok menghabiskan
dua mangkok Bakso yang telah dia pesan ya???
Sesuatu
kejadian yang mengesankan. Hanya karena ingin mendapatkan kata MARAH, seorang
cowok harus merelakan pujaannya hilang dari hadapannya.
****Sampun,
TAMAT****
*****
Ø NB : Cerita ini
hanyalah fiksi, jika ada kemiripan dengan nama pelaku serta tingkah laku
pikiran kami mohon maaf. Karena ini semua hnya “JUS PUDING” (Just Kidding.red)
Cerpen "MARAH"
Ku mohon....Jangan membohongi
Karna pedihnya terasa
Jangan menghianati
Karna sakitnya terasa
Ku mohon....
Jangan berjanji
Karna kita selalu menanti
Jangan tinggali
Karna cukup bahagia
Apa yang mau
Kita t'lah lakukan
Apa yang ada
Kita t'lah berdaya
Karna masih cinta
Karna masih setia
Jangan berjanji
Hanya pembuktian
Masih Setia Janji
Terlalu tinggi pedal yang
harus ku pijak
Sepeda yang terkais dari
penampungan
Bedug lohor terdengar
dalam kerongkong telinga
Beroda empat yang
membuatku tertawa
Bapak membawakannya
untukku
Penuh harapan anaknya
menaikinya
Tapi terlalu tinggi
pedalnya
Butuh pegangan untuk
menggapainya
Tak berhenti untuk
berharap
Bapak serahkan pundaknya
Pegang bahuku untuk
menjagamu
Agar kamu tak kalah dengan
temannmu
Berkali terjatuh membuat
tertawa
Lajunya pelan semakin
cepat
Satu desa terlintasi
Sebelum hilang terkikis
kaki yang besar
Kisah Sepeda kecilku
Yang di balik pintu
Derap kaki
menyapu butir pasir
Kelam pancarkan
bara hiraukan
Lembut belaian
angin temani raga
Tanda jiwa yang
meminta
Bayang terlukis
bening
Sembuyikan
pancaran
Raga pesona
memicingkan suasana
Bukalah tabir
pembatasnya
Tak lelah raga meminta
Terpaku dalam
kedigdayaan
Bertahan di balik
pintu
Menunggu jatuh
peminta
Bertahan di balik
pintu.......
Sahabat...
Tak perlu ikut menangis
Hanya untuk tertawa..
Untuk merasa...
Untuk mengerti....
Sahabat......
Raga terpisah
Jiwa terhalang...
Hambar yang tersaji
Bukan untuk dijauhi...
Sahabat...
Satu kata dalam beribu warna
Satu kata dalam beribu rasa
Satu kata dalam beribu pikir
Satu kata dalam beribu waktu
Sahabat....
Bukan kita sama
Hanya perbedaan...
Cambuk aku...
Kan ku kenal sahabat
KARENA KITA ADALAH SATU
Gelap temukan cahaya
Kelam temukan lentera
Malam temukan kejora
Mestinya..
Jiwa temukan pasangannya
sebelum tertutup mata
Selamanya..
Tanpa perlu bertanya
Harta yang dibawa
atau keelokan rupa
Harusnya..
Seperti fajar temukan pagi
Hati jadi mentari..
Created : Diannita Riski
Dari: Senja, Kepada: Fajar
Kata orang, guru itu penat
Gaji tak seberapa, kerja berlambak
Aku kata, guru itu rehat
Mengajar tak seberapa, tapi penuh berkat
Kerja sekerat-sekerat, pahala penuh sendat
Ilmu yang dicurah tak dapat disekat
Makin dicurah makin mendekat
Kata orang, guru itu sungguh bosan
Setiap tahun, muka sama setiap bulan
Aku kata, guru itu sungguh riang
Sekali berkata murid ketawa girang
Bila berjaya, murid terus menjulang
Jasa bakti tak pernah hilang
Terima
kasih bapak guruku...
Terima
kasih ibu guruku...
Kau
timang aku dengan kasihmu
Kau
nyalakan lentaraku dengan sayangmu
Hingga
berarti langkah dalam hidupku

