Guru merupakan seseorang yang
telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan,
dan melatih muridnya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkannya tersebut.
Dalam hal ini, guru tidak hanya mengajarkan pendidikan formal, tapi juga pendidikan
lainnya dan bisa menjadi sosok yang diteladani oleh para muridnya. Lalu, Bagaimana
seorang guru dapat mengelola kelas dan memenuhi kebutuhan belajar
murid-muridnya yang berbeda-beda? Seorang guru harus memerhatikan
banyak hal agar pembelajaran dapat berlangsung optimal dan tujuan pembelajaran
dapat tercapai dengan baik. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah
kebutuhan belajar setiap murid. Untuk menjawab tantangan tersebut,
maka seorang guru harus dapat merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi model
pembelajaran yang tepat.
Ki Hajar Dewantara pernah menyampaikan bahwa maksud dari pendidikan
adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka
sebagai manusia maupun anggota
masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Sebagai pendidik, kita tentu menyadari bahwa setiap anak adalah unik dan
memiliki kodratnya masing-masing. Tugas kita sebagai guru adalah menyediakan
lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan
berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, dan
memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan
bahagia. Setiap murid yang duduk di kelas kita adalah individu yang unik dan
ini seharusnya menjadi dasar dari praktik-praktik pembelajaran yang kita
lakukan di kelas dan di sekolah, serta menjadi kerangka acuan saat mengevaluasi
praktik-praktik pembelajaran kita.
Dengan meyakini bahwa setiap anak adalah unik, maka sebagai pendidik,
kita semua juga tentu harus membuka mata terhadap adanya keberagaman
murid-murid di kelas kita. Melihat betapa luas keberagaman murid-murid kita, maka sebagai guru, kita
perlu berpikir bagaimana caranya kita dapat menyediakan layanan pendidikan yang
memungkinkan semua murid mempunyai kesempatan dan pilihan untuk mengakses apa
yang kita ajarkan secara efektif sesuai dengan kebutuhan mereka. Sebagai
pendidik, dengan meyakini bahwa tugas kita adalah melayani murid-murid dengan
segala keberagaman tersebut serta menyediakan lingkungan dan pengalaman belajar
terbaik bagi mereka. Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk merespon
karakteristik murid-murid yang beragam ini adalah dengan mengimplementasikan
pembelajaran berdiferensiasi.
Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses
pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut
Tomlinson (1999:14) dalam kelas yang mengimplementasikan pembelajaran
berdiferensiasi, seorang guru melakukan upaya yang konsisten untuk merespon
kebutuhan belajar murid. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian
keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi
kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang
terkait dengan:
1.
tujuan
pembelajaran yang didefinisikan secara jelas.
2.
kemampuan
guru menanggapi atau merespon
kebutuhan belajar muridnya.
3.
Kemampuan
guru menciptakan lingkungan
belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk
mencapai tujuan belajar yang
tinggi.
4.
Manajemen
kelas yang efektif.
5.
Penilaian
berkelanjutan.
Tomlinson (2001)
dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in
Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat melihat
kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek.
1. Kesiapan Belajar (Readiness)
Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi,
konsep, atau keterampilan baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat
kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka dan memberikan
mereka tantangan, namun dengan
lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat
menguasai materi atau keterampilan baru tersebut. Ada 6 cara untuk membedakan kesiapan belajar;
a.
Bersifat
mendasar -- Bersifat transformatif
b.
Konkret
- Abstrak.
c.
Sederhana
- Kompleks.
d.
Terstruktur
- Terbuka (Open Ended)
e.
Tergantung
(dependent) - Mandiri (Independent)
f.
Lambat
- Cepat
Beberapa murid dengan kemampuan yang baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu bergerak cepat melalui materi yang telah ia kuasai dan diberikan sedikit tantangan. Tetapi di lain waktu, murid yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk mempelajari topik yang lain.
2. Minat Murid
Minat merupakan suatu keadaan
mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek
tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri. Tomlinson (2001: 53),
mengatakan bahwa tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat, diantaranya
adalah sebagai berikut:
a. membantu
murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri
untuk belajar;
b. mendemonstrasikan
keterhubungan antar semua pembelajaran;
c. menggunakan
keterampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide
atau keterampilan yang kurang dikenal atau baru bagi mereka, dan;
d. meningkatkan
motivasi murid untuk belajar.
3. Profil Belajar Murid
Profil Belajar
mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar.
Tujuan dari memperhatikan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar
adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara alami dan
efisien. Sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung
memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri. Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil
belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat
memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka. Profil belajar murid
terkait dengan banyak faktor. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:
a. Preferensi
terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat
kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya terstruktur/tidak
terstruktur, dsb.
b. Pengaruh
Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.
c. Preferensi
gaya belajar.
Gaya belajar adalah bagaimana murid memilih, memperoleh,
memproses, dan mengingat informasi baru.
Secara umum gaya belajar ada tiga, yaitu:
1) visual:
belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, diagram,
power point, catatan, peta konsep, graphic organizer, dsb);
2) auditori:
belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan
keras, mendengarkan pendapat saat
berdiskusi, mendengarkan musik);
3) kinestetik:
belajar sambil melakukan (misalnya sambil bergerak, melakukan kegiatan hands
on, dsb).
Mengingat bahwa murid-murid kita memiliki gaya belajar
yang berbeda-beda, maka penting bagi guru untuk berusaha untuk menggunakan
kombinasi gaya mengajar.
d. Preferensi
berdasarkan kecerdasan majemuk (multiple
intelligences): Teori tentang kecerdasan majemuk
menjelaskan bahwa manusia sebenarnya memiliki delapan kecerdasan berbeda yang
mencerminkan berbagai cara kita berinteraksi dengan dunia. Kecerdasan tersebut
adalah visual-spasial, musical, bodilykinestetik,
interpersonal, intrapersonal, verbal-linguistik, naturalis, logicmatematika.
Pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan
membantu mencapai hasil belajar yang optimal dikarenakan pembelajaran
berdiferensiasi berpihak pada murid, menciptakan lingkungan belajar yang
positif, kolaboratif dan saling menghargai, serta adanya strategi pembelajaran
didasari oleh kebutuhan murid meliputi kesiapan belajar, minat, dan profil
belajar murid. Dalam pembelajaran berdiferensiasi ada tiga strategi
pembelajaran berdiferensiasi yaitu:
1. Diferensiasi
Konten
Adalah
mendiferensiasikan materi pembelajaran kepada murid berdasarkan kebutuhan,
dilihat dari kesiapan belajar murid secara konkret -- abstrak, minat belajar
murid dengan mempersiapkan topik atau materi sesuai minat siswa, profil belajar
siswa sesuai gaya belajar, audio, visual, atau kinestetik.
2. Diferensiasi
Proses
Adalah
usaha untuk membantu murid memahami materi pembelajaran dengan memberi beberapa
kegiatan atau scaffolding sesuai dengan kebutuhan murid.
3. Diferensiasi
Produk
Produk
berupa tagihan atau hasil yang diharapkan dari murid setelah proses
pembelajaran, baik berupa hasil tes, presentasi atau diskusi, pertunjukkan,
pidato, diagram dan lainnya yang mencerminkan pemahaman murid dari tujuan yang
diharapkan dalam pembelajaran.
Dalam pembelajaran berdiferensiasi terlebih dahulu mengidentifikasi
kebutuhan murid yaitu dari kesiapan belajar murid (lambat-cepat, konkret --
abstrak, mandiri - bantuan, minat murid, profil belajar murid yang meliputi
gaya belajar, latar belakang, dan kecerdasan).
Kesiapan belajar murid atau readiness adalah kapasitas untuk mempelajari
materi baru diibaratkan seperti "The Equalizer" dari yang bersifat
mendasar menuju bersifat transformatif, konkret ke abstrak, sederhana ke
kompleks, terstruktur ke terbuka (open-ended), tergantung ke mandiri, dan
lambat menjadi cepat.
Sedangkan dalam minat belajar maka terdapat "Cocokkan" yaitu
mencari kecocokan antara minat murid dengan tujuan pembelajaran,
"Koneksikan" berarti menunjukkan koneksi antar materi pembelajaran,
"Jembatani" yaitu menjembatani pengetahuan awal dengan pengetahuan
baru, dan "Memotivasi" yang memungkinkan tumbuhnya motivasi murid
untuk belajar.
Dalam profil belajar murid maka perlu mengidentifikasi lingkungan
belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah
cahaya, kemudian pengaruh budaya dari santai menjadi terstruktur, pendiam ke
ekspresif, personal ke impersonal, gaya belajar murid juga dengan
mengidentifikasi yaitu bisa visual (belajar dengan melihat), auditori (belajar
dengan mendengarkan), kinestetik ( belajar sambil melakukan), kecerdasan
majemuk (multiple intelegences), visual ke spasial, musical bodily kinestetik,
logic matematika.
Kaitan antarmateri
Pembelajaran Berdiferensiasi dengan modul sebelumnya yaitu :
1. Filosofi
pendidikan KHD pembelajaran berdiferensiasi dapat mewujudkan Merdeka Belajar.
Berdasarkan pemikiran KHD pendidikan adalah menuntun anak sesuai kodrat alam
dan zaman dengan berpihak pada anak sesuai perkembangan minat, bakat dan
potensi anak. Hal ini berkaitan erat dengan pembelajaran berdiferensiasi yang bertujuan
memberikan pembelajaran kepada anak dengan cara memetakan kebutuhan murid
sesuai kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar anak.
2. Kaitan
dengan Nilai dan peran Guru penggerak bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat
mewujudkan Merdeka Belajar apabila guru penggerak telah memiliki nilai guru
penggerak dan menerapkan peran guru penggerak. Nilai guru penggerak meliputi :
mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, berpihak pada murid. Dan peran guru
penggerak meliputi menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas
praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, dan
mewujudkan kepemimpinan murid.
3. Kaitan
dengan visi guru penggerak, seorang guru penggerak tentunya memiliki visi untuk
mewujudkan merdeka belajar yang sesuai profil pelajar Pancasila, dengan
melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada anak yang selaras dengan
pembelajaran berdiferensiasi menyesuaikan kebutuhan belajar anak berdasarkan
kesiapan belajar, minat dan profil belajar murid. Untuk menciptakan
pembelajaran berdiferensiasi guru penggerak harus mampu berkolaborasi dan
mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki oleh sekolah sehingga mampu mendukung
terwujudnya visi dan mendukung perkembangan murid berdasarkan pemetaan
kebutuhan murid.
4. Kaitan
dengan Budaya Positif, Budaya positif adalah perwujudan dari nilai-nilai atau
keyakinan universal yang diterapkan di sekolah. Lingkungan belajar yang
mendukung diferensiasi dibangun dengan menerapkan budaya positif yaitu :
a. Komunitas
belajar setiap orang di dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut oleh
orang lain.
b. Setiap
orang di dalam kelas saling menghargai
c. Murid
merasa aman, menciptakan murid berani dalam mengemukakan pendapat
d. Ada
harapan bagi pertumbuhan yang ditunjukkan murid. Pertumbuhan setiap murid
berbeda-beda walaupun hanya sedikit guru tetap mengapresiasinya.
e. Guru
mengajak murid untuk mencapai kesuksesan, pengalaman belajar mendorong murid
lebih cepat, sedikit melampaui apa yang telah dikuasainya, guru memberikan
dukungan sehingga murid tidak merasa frustasi tetapi mencapai kesuksesan.
f.
Adanya bentuk keadilan dalam bentuk nyata. Semua
murid berhak mendapatkan perlakuan yang sama di dalam kelas.
g. Guru berkolaborasi dengan murid untuk mencapai pertumbuhan dan kesuksesan bersama, adanya tanggung jawab masing-masing agar pembentukan dan tercipta kelas yang efektif. Guru sebagai pemimpin kelas memiliki peran sangat penting dalam mengembangkan lingkungan belajar yang positif.
KONEKTIVITAS PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
“Anak-anak
hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan
menuntun tumbuhnya kodrat itu.”
(Ki
Hajar Dewantara)
Guru merupakan seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan
suatu ilmu, mendidik, mengarahkan, dan melatih muridnya agar memahami ilmu pengetahuan
yang diajarkannya tersebut. Dalam hal ini, guru tidak hanya mengajarkan
pendidikan formal, tapi juga pendidikan lainnya dan bisa menjadi sosok yang
diteladani oleh para muridnya. Lalu, Bagaimana seorang guru dapat mengelola
kelas dan memenuhi kebutuhan belajar murid-muridnya yang berbeda-beda? Seorang
guru harus memerhatikan banyak hal agar pembelajaran dapat berlangsung optimal
dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Salah satu hal yang perlu
diperhatikan adalah kebutuhan belajar setiap murid. Hal-hal yang
dapat dilakukan oleh seorang guru ;
1. Langkah
awal yang perlu dilakukan seorang guru adalah mengamati serta menganalisi
dengan cara observasi atau bentuk tes awal lainnya, guna mengetahui karakteristik
dan latar belakang murid yang berbeda. Tentunya perlakuan untuk setiap individu
juga akan berbeda. Langkah berikutnya guru dapat merancang metode
pembelajaran yang bervariasi agar murid yang memiliki karakteristik berbeda
dapat menyerap materi dan mengikuti pembelajaran dengan baik.
2. Selanjutnya,
guru dapat mengamati dan mengevaluasi seberapa efektif metode pembelajaran
yang telah diterapkan. Jika memungkinkan, cobalah untuk bertanya pada murid
tentang bagaimana pendapatnya selama menjalani pembelajaran. Melakukan
refleksi pembelajaran sangatlah penting.
3. Dari sana guru
dapat mengembangkan metode pembelajaran sebelumnya dengan mempertimbangkan
hasil evaluasi yang diperoleh. Dengan begitu maka metode yang diterapkan di
kelas dapat berkembang jadi lebih baik lagi.
4. Langkah terakhir
yang bisa dilakukan guru agar dapat memenuhi kebutuhan belajar murid adalah
memerbanyak literasi metode, model, atau strategi pembelajaran.
Laksana sebuah orkestra, seorang guru merupakan arangger,yang
memiliki tugas untuk mempersiapkan, menata, dan memiliki tanggung jawab untuk
menyelaraskan beragam alat musik sehingga menjadi satu album musik yang dapat
dinikmati oleh pendengarnya. Dengan memahami perbedaan dan keunikan murid, seorang
guru hendaknya dapat memerlakukan murid sesuai dengan kebutuhannya, sehingga
kebutuhan belajar murid dapat terpenuhi. Hal inilah yang menjadi dasar saya
untuk melakukan pembelajaran dan mengevaluasi pembelajaran saya.
Setiap anak terlahir unik dan
berbeda, mereka memiliki keistimewaannya masing-masing. Saat berada di dalam kelas, guru mungkin
akan menyadari bahwa setiap anak yang meskipun berasal dari kelompok usia yang
sama, memiliki banyak perbedaan. Baik dari sifat, sikap, penampilan, kebiasaan,
minat, tingkat kecerdasan, tingkat emosional, cara bicara, bahkan cara belajar
mereka. Perbedaan ini adalah sesuatu yang alami dan wajar.
Sebagai seorang pendidik, hal pertama
yang saya lakukan adalah melakukan observasi pengenalan terhadap murid dengan cara bertanya
dan bercerita untuk mengetahui latar belakang murid, dan melakukan tes awal di
pertemuan pertama pembelajaran untuk mengetahui kemampuan kognitif murid.
Berbekal informasi awal
tersebut, saya dapat merancang pembelajaran sesuai dengan karakteristik belajar
murid serta memertimbangkan materi ajar. Dengan begitu, saya dapat menggunakan
metode pembelajaran yang bervariasi.
Untuk mengakomodir perbedaan yang
dimiliki murid, maka seorang guru harus bisa memberikan pembelajaran yang
menghargai perbedaan semua siswa, terbuka untuk semua, dan memenuhi kebutuhan
setiap individu. Tentu perlu perlakuan yang berbeda untuk tiap murid. Perlakuan
yang saya berikan kepada murid dengan cara membuat kelompok belajar murid dari
hasil tes awal pembelajaran. Pembelajaran berlangsung dalam berbagai cara untuk
memastikan bahwa informasi baru dapat dipahami oleh semua murid
Tantangan yang saya hadapi dalam proses pembelajaran adalah bagaimana ritme
belajar murid tetap pada level selaras dan baik. Di awal pembelajaran saya
masih kesulitan untuk mendiagnosis hasil tes awal, karena hasil yang sangat
beragam. Namun dengan berkolaborasi bersama guru BK, saya dapat menatasi tantangan
tersebut. Di setiap materi pembelajaran, saya melakukan metode pembelajaran
yang berbeda, dan membebaskan murid belajar sesuai dengan kesenangan mereka
serta mendampingi mereka dalam berproses pembelajaran. Hal-hal yang menjadi
tantangan seorang guru, sebagai berikut :
a.
Tingkat kesiapan belajar murid yang berbeda.
Kemampuan awal murid yang berbeda-beda dalam menerima materi berpengaruh pada
proses pembelajaran berlangsung sehingga akan berpengaruh pula pada tingkat
konsentrasi siswa saat menerima materi dalam proses pembelajaran. Menjadi
tantangan bagi guru untuk bisa menyajikan pembelajaran yang mampu menuntun
murid untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.
b.
Perilaku siswa yang beragam. Setiap murid memiliki
karakteristik masing-masing dalam belajar, maka guru seharusnya mampu mengenali
karakteristik seriap muridnya sehingga proses pembelajaran dapat berjalan
dengan lancar dan materi dapat terserap dengan sempurna oleh masing-masing
murid.
c.
Minat dan bakat siswa yang berbeda. Murid dengan
minat dan bakat berbeda juga harus menjadi perhatian guru. Seorang guru harus
bisa menyadari perbedaan minat dan bakat setiap muridnya sehingga proses
pembelajaran akan dapat berjalan dengan lancar. Dengan tersalurnya minat
dan bakat siswa secara tepat dapat meningkatkan pembelajaran dan motivasi
belajar siswa. Lalu sebaliknya, kalau tidak dikelola dengan tepat akan
menimbulkan masalah bagi siswa, guru, bahkan sekolah.
Dalam menghadapi tantangan terkait
dengan keragaman murid maka pembelajaran dirancang dengan strategi guru untuk memenuhi
kebutuhan murid. maka guru harus dapat menciptakan strategi yang tepat untuk
menciptakan iklim belajar yang kondusif:
a.
Memilih Metode Pembelajaran Yang Tepat
Dengan mengetahui karakter
seperti apa saja yang ada di kelas, guru bisa memadukan beragam metode
pembelajaran untuk satu materi agar bisa dipahami oleh semua anak. Metode
pembelajaran termasuk juga media pembelajaran yang menarik dan sumber belajar
yang bervariasi.
b.
Memperlakukan Peserta Didik Secara Adil
Kemampuan murid yang tidak sama
dalam satu mata pelajaran maka salah satu sikap guru menghadapi perbedaan
karakter ini adalah tetap memperlakukan semua siswa dengan sama rata. terlepas
dari seberapa besar kemampuan mereka dalam menerima materi yang diberikan oleh
guru. Keragaman murid dalam menerima materi pelajaran akan adil jika
disesuaikan dengan kemampuan setiap murid.
c.
Memberikan Motivasi Yang Tepat
Guru berperan memberikan motivasi
yang tepat untuk setiap muridnya. Temukan kekurangan dan kelebihan setiap murid
kemudian berikan dorongan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Hasil dari
pembelajaran akan tercapai sesuai kompetnsi masing-masing murid melalui
motivasi yang tepat dari guru pada setiap murid yang berbeda.
d.
Interaksi Secara Tepat
Membangun komunikasi yang tepat sangat penting
dalam mencuptakan iklim belajar yang kondusif dan berpihak pada murid.
Pemahaman yang baik terhadap perbedaan individual anak adalah kunci untuk
menjalin komunikasi yang baik dengan peserta didik.
Proses pembelajaran dilaksanakan
dengan mengutamakan pada setiap keputusan guru sebagai respon dari kebutuhan
indvidu murid, sehingga menjadi sebuah pembelajaran yang berpihak pada murid. Proses pembelajaran
juga dilaksanakan dengan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung murid
untuk belajar dan memastikan setiap murid merasakan dukungan untuk mereka di
sepanjang proses pembelajaran.
Pembelajaran dievaluasi secara
bertahap dan berkelanjutan sehingga akan diketahui kelemahan dan kelebihan
setiap proses pembelajaran yang telah dan akan dilaksanakan. Guru dapat
menggunakan informasi dari proses evaluasi sebagai panduan untuk menentukan
mana siswa yang masih tertinggal dan yang sudah untuk mencapai target. Dengan
demikian, proses pembelajaran akan dapat berjalan dengan lancar dan berpihak
pada murid.
ARANGGER PENDIDIKAN ADALAH SEORANG GURU "PENJAGA RITME PEMBELAJARAN"
| tampilan cover ppt budaya positif |
A. Latar Belakang
Sekolah idaman
adalah sekolah yang mampu menciptakan kenyaman dan memberikan kemerdekaan untuk
hidup dan berkembang bagi murid sesuai kodratnya. Sekolah tersebut terhindar
dari segala macam bentuk penindasan, bulliying, kekerasan dan pemaksaan
terhadap warga sekolah khususnya murid. Sekolah tersebut akan berusaha sekuat
tenaga untuk menciptakan suasana yang penuh dengan kehamonisan dan pembiasaan
positif.
Faktanya masih
ditemukan lingkungan sekolah yang belum memberikan keleluasaan kepada murid. Murid
masih terkekang dengan budaya negatif, budaya yang tidak berpihak kepada murid.
Murid sering menghindari pelanggaran karena takut dihukum secara fisik ataupun
moral. Murid menaati peraturan karena takut dihukum atau menerima konsekuensi yang
berat dan dapat menurunkan nama baiknya. Akibatnya murid melakukan kebaikan
hanya pada saat di sekolah atau hanya pada saat di depan orang yang lain
seperti Guru, Kesiswaan atau yang lainnya. Keteraturan yang mereka lakukan
tidak berasal dari kesadaran dan lubuh hati. Keteraturan tersebut bukanlah
sebuah kebiasaan akan tetapi ketakutan dan mencari perhatian.
Sekolah harusnya
berusaha menciptakan iklim pendidikan yang mampu membiasakan setiap warganya
khususnya murid melakukan budaya positif. Budaya yang mengakar kuat dan menjadi
sebuah kebiasaan yang dilakukan secara kontinyu dan sadar oleh setiap warga
sekolah. Semua pihak harus terlibat dalam pembiasaan positif tersebut.
Pembiasaan positif yang merupakan budaya positif akan menjadi budaya sekolah.
Budaya yang dipegang teguh oleh seluruh warga sekolah dan menjadi kekhasan dari
sekolah tersebut. Budaya tersebut harus terintegrasi dalam seluruh kegiatan
sekolah, baik dalam pra pembelajaran, proses pembelajaran ataupun di luar kelas
seperti dalam lingkungan pondok pesantren. Pertanyaannya adalah bagaimana
budaya positif dapat tumbuh dan tertanam dalam proses pembelajaran, bagaimana
budaya positif dapat terbiasa dilakukan dalam kegiatan di luar sekolah.
Harapannya jika budaya positif mengakar dalam diri setiap murid, maka secara
tercipta profil pelajar pancasila.
B. Tujuan
- Menumbuhkan budaya positif
dengan kesepakatan kelas.
- Menumbuhkan nilai-nilai
profil pelajar pancasila pada diri murid dalam kegiatan pembelajaran.
- Mengintegrasikan dan
membiasakan murid untuk menanamkan nilai-nilai profil pelajar pancasila.
C. Tolak Ukur
- Murid mampu membuat
kesepakatan kelas yang dipasang dinding kelas.
- Murid dapat mengaplikasikan
nilai-nilai profil pelajar pancasila secara sadar dan kontinyu dalam
proses belajar.
- Murid terlibat aktif dengan
sadar mengamalkan nilai-nilai profil pelajar pancasila.
D. Linimasa
tindakan yang dilakukan
Adapun
langkah-langkah yang akan dilakukan:
- Sosialisasi kepada seluruh
warga sekolah meliputi kepala sekolah, guru, murid, dan tenaga
kependidikan terkait disiplin positif, kesepakatan kelas dan profil
pelajar pancasila.
- Guru menjelaskan tentang
pengertian dan pentingnya kesepakatan kelas.
- Guru memfasilatasi murid
untuk membuat kesepakatan kelas.
- Kesepakatan kelas yang telah
disepakati selanjutnya ditandatangani seluruh warga kelas dan dipasang di
dinding kelas.
- Sosialisasi kepada seluruh murid
baru tentang penumbuhan karakter.
- Menumbuhkan, menanamkan dan
membiasakan nilai-nilai profil pelajar pancasila dan kegiatan
ekstrakurikuler.
- Mendokumentasikan setiap
kegiatan yang menumbuhkan, mencerminkan dan membiasakan nilai-nilai profil
pelajar pancasila.
E. Dukungan yang dibutuhkan
- Walikamar dan pengurus di pondok pesantren
dalam membiasakan budaya positif.
- Warga sekolah sebagai role model/ teladan bagi murid dalam menanamkan budaya positif.
- Seluruh warga sekolah berkolaborasi, bergotong royong dan bergerak bersinergis dalam menciptakan serta membiasakan budaya positif di sekolah.
BUDAYA POSITIF - TERKESAN MEMAKSA NAMUN PERKASA !
Kegiatan ini merupakan kegiatan pembuka dari
seluruh rangkaian materi belajar di Program Pendidikan Guru Penggerak. Pada
kegiatan ini, Anda akan melakukan sebuah refleksi diri sejauh mana Anda
mengenal dan memahami Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD). Sejauh ini
Anda sudah sering mendengar kata kata seperti budi pekerti, ing
ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani yang
menjadi jiwa dari pendidikan nasional. Oleh sebab itu, pada tahap awal
ini, Anda akan berdialog dengan diri Anda sendiri untuk menemukan pemikiran
mendasar Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya dengan peran Anda sebagai
pendidik’.
Sebagai pemantik proses refleksi tersebut, mari
kita ingat-ingat kembali pengalaman ketika kita bersekolah. Jawaban pertanyaan
berikut tidak perlu ditulis namun tetap perlu dilakukan dengan
sungguh-sungguh.
- Pengalaman apa yang membuat
Anda menjadi rindu bersekolah, atau, pengalaman apa yang membuat Anda
kehilangan motivasi untuk bersekolah? (pilih salah satu)
- Peristiwa apa yang membuat
Anda merasa berkembang dan belajar sebagai seorang pembelajar?
- Siapa sosok guru yang
menginspirasi Anda?
- Apa pengalaman yang berkesan
bersama guru tersebut?
- Pernahkah Anda menduplikasi
atau mengadaptasi yang dilakukan oleh guru tersebut di kelas yang Anda
ampu?
Selanjutnya, Anda diminta untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang tersedia di bawah terkait pemikiran-pemikiran Ki
Hadjar Dewantara (KHD).
1.
Tulisan Reflektif Kritis
Buatlah
sebuah tulisan reflektif kritis dengan jumlah minimum 300 kata dan maksimum 500
kata dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan panduan yang telah
disediakan. Pertanyaan panduan tulisan reflektif kritis Anda terkait
konsep pemikiran Pendidikan KHD:
- Apa yang ada Anda ketahui
tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) mengenai pendidikan dan
pengajaran?
Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan
sesuai dengan kondisi masyarakat di Indonesia, bahkan pemikiran-pemikirannya
masih relevan hingga saat ini. Pemikiran yang dikemukakan oleh Ki Hajar
Dewantara dapat menjadi landasan dalam menentukan Kebijakan Pendidikan yang
diambil dalam pelaksanaan Pendidikan nasional. Ki Hadjar Dewantara
menyatakan bahwa “Untuk mendapatkan sistem
pengajaran yang berfaedah bagi perikehidupan bersama, haruslah sistim itu
disesuaikan dengan hidup dan penghidupan rakyat serta pentingnya asas menurut
keadaan (natuurlijkheid), dalam arti segala alat, usaha dan cara pendidikan harus
sesuai dengan kodratnya keadaan.”
Makna yang tersirat dari pemikiran Ki Hadjar
Dewantara tersebut adalah pentingnya kontekstualitas dalam pendidikan,
pendidikan yang sesuai dengan zamannya, atau asas menurut keadaan.
Konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara: Pertama, Manusia
Indonesia yang berbudi pekerti adalah yang memiliki kekuatan batin dan
berkarakter. Kedua, manusia Indonesia yang maju pikirannya adalah yang cerdas
kognisi(tahu banyak dan banyak tahu). Ketiga, Manusia yang maju dalam
aspek tubuh adalah manusia yang mampu mengendalikan tubuhnya.
Melihat uraian diatas, saya dapat menangkap
pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai Pendidikan yakni upaya yang konkret untuk
memerdekakan manusia secara utuh dan penuh. Karena menurut beliau, Pendidikan
merupakan salah satu pintu masuk untuk mewujudkan manusia yang merdeka. Baik
bemerdekaan lahiriah maupun batiniah manusia, baik sebagai makhluk individual
maupun sebagai anggota masyarakat dan warga dunia. Dengan demikian, pendidikan
menjadi wadah untuk membangun otonomi intelektual, otonomi eksistensial, dan
otonomi sosial.
- Apa relevansi pemikiran KHD
dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini dan konteks pendidikan di
sekolah Anda secara khusus?
Relevansi pemikiran KHD dengan konteks
pendidikan Indonesia saat ini sangat jelas, dimana untuk mewujudkan manusia
Indonesia seutuhnya tanpa harus meninggalkan konsep awal pemaknaan pendidikan
di Indonesia, yakni Manusia Indonesia yang berbudi pekerti luhur, manusia
Indonesia yang memiliki pemikiran maju seiring berkembangnya zaman, serta
manusia yang mampu mengendalikan tubuh (secara emosional).
Pemikiran yang demikian pula yang menjadi pedoman
dalam giat pembelajaran di sekolah saya, dengan ragam karakteristik Murid,
karakteristik niat, dan latar belakang orang tua, menjadikan kami senantiasa
terus membumikan konsep dasar pendidikan yang diprakarsai oleh Ki Hajar
Dewantara, bahkan pemikiran tersebut juga seiring dengan pemikiran pendiri
sekolah tempat saya mengabdikan diri yang berada di lingkungan pondok
pesantren.
- Apakah Anda merasa sudah
melaksanakan pemikiran KHD dan memiliki kemerdekaan dalam menjalankan
aktivitas sebagai guru?
Sebagai guru yang secara kebetulan sebagai
lulusan Tamansiswa, setidaknya saya sudah melaksanakan satu diantara beberapa
pemikiran KHD dalam melaksanakan tugas sebagai guru, terlebih dalam hal
menjadikan sekolah sebagai taman untuk mengeksplorasi pengetahuan dan keterampilan.
Meskipun masih banyak hal yang perlu saya pelajari dari pemikiran KHD terhadap
pendidikan dan pengajaran.
*) Maknai dan hayati pilihan Anda menjadi guru dalam menuliskan tulisan reflektif-kritis. Hindari perihal teknis seperti tidak tersedianya buku ajar bagi murid, masih berstatus guru honorer dsb-nya. Fokus pada pilihan Anda menjadi guru.
2. Harapan dan
Ekspektasi
Ungkapkan Harapan
dan Ekspektasi Anda terkait dengan pembelajaran pada modul ini.
- Apa saja harapan yang ingin
Anda lihat pada diri Anda sebagai seorang pendidik setelah mempelajari
modul ini?
Semakin memahami pemikiran KHD terhadap Pendidikan dan
pengajaran, sehingga mampu mengimplementasikan pemikiran-pemikiran tersebut.
- Apa saja harapan yang ingin
Anda lihat pada murid-murid Anda setelah mempelajari
modul ini?
Murid dapat secara senang hati mengeksplorasi kemampuan yang
mereka miliki serta memiliki keberanian dalam hal menyampaikan gagasan atau ide.
- Apa saja kegiatan, materi,
manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini?
Mendapat tambahan wawasan mengenai pendidikan yang sesuai
pemikiran KHD serta lebih mengenal konsep pengajaran seperti TAMANSISWA, yang secara
etimologi sebagai wadah yang menyenangkan dalam belajar.
Refleksi diri tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara - CGP A7 Mojokerto 1.1.a3
![]() |
| surat pengumuman CGP 7 Tahap 2 |
Puncak dari penantian seleksi Guru Penggerak Angkatan 7, akhirnya terbayar tuntas tepat pada 26 September 2022. Pund demikian bagi peserta seleksi CGP Angkatan 7 Provinsi Jawa Timur, terkhusus Kabupaten Mojokerto. Ada 172 CGP Kabupaten Mojokerto yang dinyatakan lolos seleksi tahap 2 CGP Angkatan 7, dan dari sekian nama yang tertera, adalah nama saya Aria Winardi, yang lolos dari seleksi Kuota Tambahan Angkatan 7.
![]() |
| kutipan daftar peserta lolos tahap 2 CGP 7 |
Syukur Alhamdulillah, kusampaikan kepada Allah Swt. Terharu, dari sekian proses sejak ikut seleksi CGP Angkatan 5, yang harus kandas di seleksi tahap 2. Saya lanjutkan dan menyakinkan untuk ikut seleksi CGP Angkatan 7. Sempat berpatah arang, karena gagal lolos seleksi tahap 1, namun perjalanan baru harus tersusun kembali, setelah dapat informasi untuk melankutkan seleksi tahap 2 lewat kuota tambahan. Dan Alhamdulillah lolos hingga penetapan peserta CGP angkatan 7.
Terima kasih juga atas segala doa
dari orang tua, mertua, istri, sanak saudara, dan tak terlupa terima kasih yang
paling tulus untuk rekan-rekan di yayasan pendidikan Islam Al-Multazam
Mojokerto, Abah dan Umi, Gus Mad yang selalu meyakinkan diri saya untuk melaju
terbaik di dunia pendidikan, Abah Din yang senantiasa memberi wejangan
terbaiknya.
![]() |
| Temu maya pembukaan PGP Angkatan 7 Tahun 2022 |
Pembukaan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 tahun 2022 oleh Menteri Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Dilakukan secara daring, namun tak menyurutkan niat untuk memirsa secara saksama pesan yang disampaikan oleh Mendikbudristek RI kepada calon guru penggerak.
Kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan orientasi Guru Penggerak Angkatan 7 provinsi Jawa Timur oleh Balai Besar Guru Penggerak provinsi Jawa Timur. Tak jauh berbeda dari apa yang disampaikan oleh Mendikbudristek dalam acara pembukaan. Di sini, dari Balai Besar Guru Penggerak Provinsi Jawa Timur, menitikdepankan agar para peserta senantiasa mengikuti secara khidmat seluruh rangkain pendidikan guru penggerak yang akan berlangsung selama 6 bulan kedepan.

Pembukaan Lokakarya Orientasi
Kegiatan dibuka oleh penanggungjawab Program PGP Provinsi
Jawa Timur. Dalam sambutannya beliau menyambut baik kegiatan Lokakarya
Orientasi Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 ini. Tujuan
diselenggarakan Lokakarya ini adalah untuk memberi pemahaman tentang Program
Guru Penggerak, alur belajar Guru Penggerak dan dukungan yang perlu diberikan
oleh Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Dinas Pendidikan selama program
berlangsung selama 6 bulan kedepan. Kegiatan ini juga diikuti kurang lebih 172
peserta yang terdiri dari unsur Calon Guru Penggerak (CGP), Pengajar Praktek,
Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah.
Setelah pembukaan lokakarya orientasi PGP Angkatan 7 di aula
SMPN 1 Sooko, para peserta dibagi menjadi 5 Kelompok kelas. Dan melakukan
orientasi bersama pengawas serta Pengajar Praktik masing-masing. Suasana gayeng,
sudah tampak dipermulaan kegiatan.
Saya sendiri berada di kelas A7 191 Mojokerto 1, yang
dipandu oleh 3 Pengajar Praktik ; Pak Samsuari (SMAN 1 Gedeg), Bu Sarni (SMPN 1
Trowulan), dan Bu Hamidatul Ula (SMP Al-Islah Trowulan). Rangkaian kegiatan
secara runtun dilaksanakan dengan serius nan santai.
Suasana yang sangat menggambarkan kebebasan murid dalam
belajar. Canda tawa, kolaboratif beragam dicontohkan oleh Pengajar Praktik. Diawali
dengan games perkenalan diri, di mana setiap peserta harus menuliskan nama
panggilan serta menggambarkan benda hidup atau mati yang merepresnetasikan diri
peserta.
Saya sendiri menuliskan nama panggilan ARIA, kata pertama
dari nama lengkap saya. Sedangkan benda yang saya gambarkan adalah AIR, dimana benda
tersebut merepresentasikan diri saya, yang selalu ingin mengalirkan diri
terhadap apa yang telah tersajikan di lingkungan sekitar hingga bisa
menyesuaikan diri terhadap tempat yang saya singgahi, selain itu AIR merupakan
sumber kehidupan.

Pengisian lembar kerja Harapan dan Kekhawatiran CGP bersama Kepala Sekolah
![]() |
| Akhir perjalanan lokakarya (foto bersama Pengajar praktik) |
Lokakarya Orientasi Program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) - CGP A7 Kabupaten Mojokerto
Apa yang Anda ketahui tentang pengertian sajak? Apa yang ada di benakmu ketika mendengar sajak? Tidak sedikit orang menyatakan bahwa sajak sama dengan puisi. Namun ternyata keduanya terdapat perbedaan lho. Jika berbicara tentang puisi tentu bahasan yang akan disampaikan adalah mengenai sebuah karya sastra yang sarat dengan kalimat yang mengandung perasaan dan juga pemikiran sebagai wujud dari ekspresi diri. Bagaimana dengan sajak?
Menurut KBBI arti dari sajak itu sendiri adalah suatu karya sastra yang dalam penyajiannya berbentuk baris-baris yang terikat dan teratur.
Sajak adalah puisi Melayu moden yang berbentuk karangan berangkap, berbentuk bebas dan tidak terikat pada jumlah baris, perkataan sebaris, suku kata sebaris, rangkap, rima dan sebagainya.
Sekilas memang mirip ya, antara puisi dengan sajak namun, jika ditelisik lebih dalam sajak memiliki arti yang lebih spesifik dibandingkan dengan puisi. Bisa dibilang kalau puisi merupakan sastra yang menudungi sajak sementara sajak adalah suatu individu puisi.
Teringat pada malam peringatan hari santri ke-2, pembacaan puisi menjadi salah satu rangkaian agenda. Bertajuk “Ketika Kyai-Nyai-Santri Berpuisi : Pesantren Tanpa Tanda Titik,” puluhan penyair, para Kyai dan Nyai unjuk kebolehan membaca puisi di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki.
Dengan segala kepadatan aktivitas pesantren—yang seperti tak berjeda itu; semisal sekolah, musyawarah, hafalan, ngaji, roan, lalaran, bahtsul masa’il, ditambah masalah-masalah subjektif pada diri santri—nyatanya santri tetap memiliki dahaga untuk merekam setiap jejak peristiwa, menghidupkan gagasan, membangun imajinasi, dan mengekspresikan setiap inci perjalanan di atas tinta yang tergores artistik, dalam selembar kertas.
Dalam kepadatan aktivitas pesantren itu, santri mampu menemukan ruang kecil bagi dirinya untuk menulis, berkisah, dan memformulasikan apa saja yang masih terbatas dan terbata. Ia susun keterbatasan itu—juga keterbatasannya—menjadi sebuah narasi sempurna, sebuah cipta yang eksotis.
Kaum sarungan, dengan gaya yang khas dan unik, pada mulanya memang dikenal sebagai orang-orang yang selalu menggumuli kitab-kitab klasik dan anti terhadap “bacaan luar”. Tetapi zaman terus berubah, waktu terus bergerak di atas kesadaran santri untuk melihat hal-hal “lain” dengan sikap terbuka. Dan di era kini, santri memiliki kapabilitas untuk ikut berperan dalam berbagai bidang kehidupan, tidak hanya berputar pada literatur kitab klasik belaka. Santri benar-benar telah membuktikan bahwa kaumnya mampu mengisi dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada, mulai dari pemerintahan, industri, akademik, utamanya dunia kepenulisan.
Pun demikian yang dilakukan santri-santri Pondok Pesantren Al-Multazam. Di sekian kepadatan aktivitas mereka—satu diantara perannya dalam dunia kepenulisan, berhasil melahirkan tulisan yang diberi tajuk “Sang Pelita Adiratna”.
Dalam lembaran ini, penulis berusaha untuk sedikit mengulik tentang karya terbaru santri pondok pesantren Al-Multazam yang tertuang dalam Kumpulan Sajak. Mulai dari struktur hingga proses kreatifnya.
STRUKTUR SAJAK ATAU PUISI
STRUKTUR
1 cara sesuatu disusun atau dibangun; susunan; bangunan; 2 yang disusun dengan pola tertentu; 3 pengaturan unsur atau bagian suatu benda; 4 ketentuan unsur-unsur dari suatu benda; 5 Ling pengaturan pola dalam bahasa secara sintagmatis; (KBBI)
Analisis struktural pada karya sastra dalam hal ini karya fiksi yaitu dengan mengidentifikasi, mengkaji, kemudian mendeskripsikan hubungan antar unsur instrinsik karya fiksi yang menjadi objek analisis (Pradopo, 2001:267-268).
Pengertian Puisi
Pengertian Puisi adalah suatu karya sastra berupa ungkapan isi hati penulis di mana di dalamnya ada irama, lirik, rima, dan ritme pada setiap barisnya. Dikemas dalam bahasa yang imajinatif dan disusun dengan kata yang padat dan penuh makna.
Pengertian Puisi Menurut Para Ahli
Menurut H.B Jassin Puisi adalah suatu karya sastra yang diucapkan dengan sebuah perasaan yang di dalamnya mengandung suatu pikiran-pikiran dan sebuah tanggapan-tanggapan.
Menurut Sumardi Puisi adalah karya sastra dengan bahasa dipadatkan, dipersingkat dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan kata-kata bermakna kiasan (imajinatif).
Menurut James Reevas Puisi merupakan ungkapan bahasa yang penuh dan kaya akan daya pikat.
Menurut Herman Waluyo Puisi adalah suatu karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan memokuskan semua kekuatan bahasa dalam sebuah struktur fisik dan struktur batinnya.
Karya puisi mengandung nilai estetika tersendiri. Orang yang membuat puisi disebut dengan penyair puisi. Tiap puisi memiliki karakteristik tersendiri diantara satu dengan lainnya.
Dalam puisi terdapat unsur-unsur yang membentuknya. Unsur Puisi terdiri dari struktur batin dan struktur fisik.
1. Struktur Fisik Puisi
Struktur fisik puisi adalah unsur puisi yang bisa dilihat dan diamati secara langsung dengan mata. Struktur ini terdiri dari diksi, citraan/imaji, majas, kata konkret, tipografi dan rima.
Diksi adalah pemilihan kata oleh seorang penyair untuk mendapatkan efek yang sesuai dengan keinginannnya. Pemilihan diksi pada puisi sangat berpengaruh dengan makna yang ingin disampaikan penyair.
Contoh :
Pemilihan kata pada judul “Sang Pelita Adiratna”, 3 kata terpilih memberi gambaran bahwa para penulis menempatkan apa yang menjadi keistimewaan penulis di tempat yang lebih dari yang istimewa.
“Detak jantungku seolah tak berdenyut, Kala sang arunika tampak sengit, nan enggan menorehkan senyum”, pilihan kata arunika menggantikan kata fajar atau matahari, yang lazim digunakan oleh penulis pemula. Ini juga menunjukkan bahwa khazanah baca para penulis yang luas.
Selain pilihan kata yang memiliki karateristik, pilihan sederhana nan penuh perwakilan suasana juga kuat dan telah ditampilkan dalam kumpulan sajak ini.
“tempahan kaki yang meliru tanda kehadiranmu, menapakkan kakki di atas bumi tempatku beradu”
“Sesuatu yang sederhana namun bermakna, memberikan sejuta goresan tinta, mengukir sebuah sejarah dari banyaknya sejarah”
Kata Konkret adalah susunan kata yang memungkinkan terjadinya imaji.
Kata konkret seperti badai salju menggambarkan permasalahan atau ketidaktahuan,
Rima atau Irama Adalah persamaan bunyi dalam penyampaian puisi dari awal hingga akhir puisi. Beberapa bentuk rima di antaranya: (1) Onomatope: Tiruan bunyi, misalnya prank yang mengungkapkan sesuatu yang pecah. (2) Bentuk intern pola bunyi, yaitu aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi, dan sebagainya. (3) Pengulangan kata, yaitu penentuan tinggi-rendah, panjang-pendek, keras-lemah suatu bunyi.
Imaji atau Citraan adalah pemberi gambaran kepada para pendengar/pembaca agar seolah-olah dapat melihat, mendengar, merasakan atau mengalami hal-hal yang terkandung dalam puisi. Citraan mempunyai 6 macam, diantaranya citraan penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, perabaan dan pergerakan.
Tipografi Adalah bentuk format suatu puisi, seperti pengaturan baris, batas tepi kertas kanan, kiri, atas, bawah, jenis huruf yang digunakan. Unsur ini berpengaruh pada pemaknaan dari isi puisi itu sendiri.
Dalam kumpulan sajak ini, memang belum tampak tipografi yang memiliki ke-khas-an tersendiri, cendurung lazim puisi-puisi remaja sekolah yang sedang kasmaran. Bukan menjadi kekurangan, namun inilah karakter santri yang tidak neko-neko. Dan juga tidak perlu jadi neko-neko, agar terlihat lebih istimewa.
Majas adalah pemakaian bahasa dengan cara melukiskan sesuatu dengan konotasi khusus sehingga arti sebuah kata bisa mempunyai banyak makna.
“Tak ada benih pemuda bangsa yang terjadi”, benih dalam denotasi makna berarti biji atau buah yang disediakan untuk ditanam atau disemaikan: sesuatu yang akan tumbuh atau akan menjadi:
2. Struktur Batin Puisi
Struktur batin puisi adlaah unsur pembangunan puisi berupa makna yang tidak terlihat oleh mata. Contohnya adalah tema, nada, suasana, perasaan dan amanat/tujuan.
Tema/ Makna adalah unsur ini berupa makna yang tersirat yang ingin disampikan penulis kepada pembaca/ pendengar.
Nada adalah sikap penyair terhadap audience-nya, yang berkaitan dengan makna dan rasa. Dari nada yang terdengar, audience dapat menyimpulkan sikap penulis sedang mendikte, menggurui, memandang rendah, atau sikap lainnya.
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penulis pada para audience-nya.
Dari sekian struktur yang terjabarkan dalam kumpulan sajak ini, tergambar jelas bahwa para penulis ingin menjelaskan bahwa seorang atau sosok guru yang diharapkan adalah seorang yang mampu memberikan teladan (tiru) serta seorang dapat dipercaya (gugu) untuk menemani perjalanan mencari pengetahuan sebagai bekal untuk membersamai zaman mereka hidup dan bekal di kehidupan berikutnya.
Sosok guru yang selalu bisa menjadi teman untuk berinovasi dan saling berbagi pengalaman mengajar yang baik, seperti arunika. Mungkin saat ini, para penulis menemukan segalanya pada sosok yang digambarkan laksana perempuan yang cantik. Dalam pemaknaan konotasinya, sosok yang memiliki keanggunan dalam karakter masing-masing, dan memberikan kesejukan pandangan ketika penat menyergap di tengah kepenatan aktivitas sebagai santri.
Kenapa demikian ?
Karena Siswa generasi Z memiliki karakteristik unik yang harus Guru Pintar ketahui. Hal ini akan sangat bermanfaat bagi Guru Pintar untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik gen Z dan juga kebutuhan mereka.
Pada umumnya siswa generasi Z selalu terhubung dengan dunia maya dan dapat melakukan segala sesuatunya dengan menggunakan kecanggihan teknologi yang ada. Anak-anak ini sudah terbiasa memegang gawai sejak kecil. Pengenalan teknologi dan dunia maya ini sangat berpengaruh pada perkembangan kehidupan dan kepribadian anak Gen Z.
Bukan karena lahir dan hidup pada jaman perkembangan teknologi, namun geneari ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang tentunya menjadi sisi lain untuk dipelajari, untuk kelebihan mereka antara lain ; Memiliki intelektual yang baik, lebih terbuka terhadap segala sesuatu, memiliki akses untuk mendapatkan informasi yang lebih. Banyak, memiliki motivasi tinggi terhadap suatu hal, multitasking atau dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu. Namun, ada hal yang juga perlu diwaspadai atau menjadi wira’I terhadap kekurangan mereka ; Individualistis dan egosentris, kurang fokus, menyukai hal-hal yang instan dan kurang menghargai proses, memiliki emosi yang labil. Implikasi karakteristik generasi Z yang menjadi perhatikan seorang guru sebagai berikut; memberikan bimbingan, menyenangkan, mengakomodir kegemaran mereka.








